SENIN , 22 OKTOBER 2018

Begini Bentuk Gerakan Aksi Spontanitas Aktivis untuk Tata Mandong

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Jumat , 30 Januari 2015 21:17
Begini Bentuk Gerakan Aksi Spontanitas Aktivis untuk Tata Mandong

Komunitas Lembah Ramma (KLR) bersama sejumlah aktivis Lingkungan Sulsel menggelar aksi Sosial untuk didedikasikan kepada juru kunci Lembah Ramma, Pegunungan Bawakaraeng, Tata Mandong. (foto;IST)

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Beredarnya pemberitaan hoax soal wafatnya juru kunci lembah Ramma, Gunung Bawakaraeng, Gowa, yang akrab dipanggil Tata Mandong membuat aktivis lingkungan Komunitas Lembah Ramma (KLR) untuk menggelar Aksi Sosial di Jalan Ap Petarani, 30 Januari.

Koordinator KLR, Mustari mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah gerakan spontan yang didedikasikan untuk memberikan bantuan kepada Tata Mandong yang berdomisili di hutan lembah Ramma, Pengunungan Bawakaraeng, Malino, Kabupaten Gowa. Apalagi kata dia, pemberitaan hoax yang menarik simpatik ribuan aktivis lingkungan di Sulawesi Selatan hingga Seluruh Indonesia.

“Berita kematian Tata Mandong membuat kami selaku aktivis lingkungan sedikit resah atas kesehatan beliau, sehingga kami yang tergabung dalam KLR berinisiatif gelar aksos guna memberikan bantuan kepada beliau tentunya,” jelasnya dalaam rilis yang diterima Rakyat Sulsel Online, Jumat (30/1).

Salah seorang Aktivis Lingkungan, Rusman Arfandi Ali, menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang digelar KLR. Sebab kata dia, perihal tersebut merupakan bentuk pethatian kepada penjaga Gunung Bawakaraeng kabupaten Gowa.

“Memang kondisi kesehatan Tata Mandong sekarang cukup memperhatinnkan, apalagi beliau sakit dan tinggal sendiri di hutan, maka dari itu kami sebagai aktivis lingkungan mutlak memberikan perhatian khusus,” ucapnya.

Pihaknya berharap, dengan digelarnya kegiatan ini, akan mampu memberikan sedikit bantuan kepada Jurkan Gunung Bawakaraeng Kabupaten Gowa. “Semoga Aksos ini bermanfaat kepada Tata agar Gunung kami akan selalu terjaga dan Lestari,” harapnya.

Sebelumnya, ramai disebarkan informasi baik dalam bentuk teks maupun gambar display yang menyebut Tata Mandong meninggal, namun informasi yang sebenarnya kakek ini menderita sakit, sehingga butuh uluran tangan berbagai pihak.

Hal yang sama diungkapkan Sekertaris Komunitas Pecinta Alam Perempuan Indonesia (KAPALAPI), Tesya bahwa adapun bentuk bantuan yang didedikasikan dalam bentuk bantuan pengobatan serta perbaikan pondok Tata Mandong, yang berada di tengah lembah Ramma.

“Dua hal ini sangat penting untuk beliau karena selain kondisi Tata sekarang lagi sakit serta rumahnya pun cukup perlu penataan, sebagaiman diketahui jarak domisili Tata jauh dari pemukiman warga kaki gunung bawakaraeng desa lembanna,”jelasnya.


Tag
  • tata mandong
  •  
    div>