Begini Cara Cakka Perlakukan Rakyatnya di Luwu

Jangan pernah berharap menemukan buku tamu terisi di pos jaga pamong praja di Rumah Jabatan (rujab) Bupati Luwu. Ataukah menemukan pemandangan ada tamu yang bertanya di pos jaga itu.

==============================

Bebas ! Tak ada kewajiban bagi tamu untuk melapor lebih dulu sebagai prasyarat bertemu Cakka. Tamu bebas nyelonong masuk, tanpa ditanya ; mau apa, darimana, mau ketemu siapa.

Tamu bebas memilih posisi duduk sesuai selera. Bisa di teras, pendopo kecil, di ruang nonton atau di ruang tamu rujab sekali pun. Bahkan ada yang memilih menunggu di taman kecil, yang posisnya lima langkah dari ruang tidur Cakka.

Tak ada larangan. Tak ada batas bagi wilayah tamu. Tak ada mata penghuni rujab yang bakal memplototi tamu atau mulut yang akan menegur. Para pekerja di rujab sudah tahu betul ketentuan yang ditanamkan Cakka perihal menerima tamu. Mereka hanya punya kewajiban menyiapkan teh atau kopi bagi tamu yang datang tanpa perlu bertanya ini itu.

[NEXT-RASUL]


Menariknya, tamu dibebaskan masuk ke dalam dapur rujab untuk makan. Membuka lemari makanan semaunya. Saking bebasnya, kadang kejadian makanan yang disiapkan untuk santapan bupati, juga dimakan oleh tamu.

Sejak jadi bupati, Cakka lebih menempatkan rujab sebagai rumah bagi siapa saja. Bukan rumah yang ditakuti. Cakka mampu menghilangkan kesan bahwa rujab sebagai rumah yang penuh aturan. Rumah yang hanya bisa didatangi oleh orang-orang “tinggi”, yang tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Cakka mampu membangun pandangan bahwa pejabat sekelas dirinya tak susah untuk ditemui.

“Pilih maki di mana ki mau datang. Dari pintu depan, belakang atau samping. Asal jangan dari atas atap, karena pasti dikira ki pencuri itu,” itu kelakar Cakka setiap kali ditanyakan soal kebebasan di rujabnya.

Itulah mengapa sedari awal sejak jadi bupati, ia memberikan kebebasan bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke rujabnya. Kewajiban pamong praja yang sebenarnya wajib memeriksa setiap tamu, apalagi baru sekali berkunjung, ia pangkas. Tak boleh ada istilah ; wajib lapor 1×24 jam !

“Sejak jadi bupati sudah begitu. Kami dilarang mewajibkan tamu untuk melapor sebelum bertemu pak bupati. Yang kami lakukan hanya memandu tamu untuk duduk sambil menunggu untuk bertemu pak bupati. Soal di mana posisi duduk mereka pilih, terserah. Itu bagi tamu baru. Kalau yang wajahnya sudah tidak asing, bebas saja,” kata Husain, pamong senior yang kesehariannya berkeliaran di rujab.

Seperti rumah pribadi, rumah jabatan bagi Cakka semestinya menjadi rumah yang senantiasa hidup oleh tangan-tangan yang saling menjabat. Mulut yang saling terbuka untuk mengungkap rasa dan keluh kesah. Tak ada segan apalagi enggan datang.

“Saya memaknainya begitu. Jadi bebas saja. Kita membincang apa saja, dari hal serius sampai sepele. Saya senang jika melihat banyak orang datang, dan itu artinya saya tidak sendirian membawa pemerintahan ini,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]


Itulah mengapa pintu rujabnya tak pernah terkunci. Terbuka bagi siapa saja yang mau masuk, datang berbagi cerita, baik urusan kantor maupun sosial kemasyarakatan.

“Saya tak membatasi waktu menerima tamu. Kecuali dalam keadaan tidak enak badan. Hampir setiap malam begadang, cerita apa saja. Yang paling banyak adalah keluh kesah. Curhat. Semua didengarkan,” kata Cakka.

Cakka tak mengubah rujabnya jadi tameng besi. Ia menawarkan tirai, yang siapapun disilahkan menyingkapnya. Mengungkapkan isi rumah jabatannya tanpa ia harus mengungkapkannya dengan kata-kata.(*)