RABU , 21 NOVEMBER 2018

Begini Cerita Awal Mula Nama PKI

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Jumat , 25 September 2015 20:52
Begini Cerita Awal Mula Nama PKI

Ilustrasi

RAKYATSULSEL.COM – Kongres VII Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV) di Semarang, 23 Mei 1920 berlangsung panas.

Kubu ISDV cabang Semarang yang disokong oleh barisan proletariatnya yang besar mendesak perubahan nama ISDV menjadi PKI.

Hartogh, Ketua tahunan ISDV menolaknya. “Hartogh menggunakan pengaruhnya sebagai ketua dengan menyatakan pendapat tidak setuju,” tulis Busjarie Latif dari Lembaga Sejarah PKI dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI.

Merujuk laporan majalah Het Vrije Woord, 25 juni 1920 dan surat kabar Suara Rakyat edisi Mei dan Juni 1920, konferensi memutuskan perubahan nama ISDV menjadi PKI.

Putusan konferensi kemudian direferendumkan lagi kepada cabang-cabang dan menghasilkan perbandingan suara 33 setuju, 1 blanko, dan 2 tidak setuju.

Usul nama semula adalah PKH, Perserikatan Komunis Hindia, tetapi yang diputuskan PKI, Perserikatan Komunist di India.

[NEXT-RASUL]

Hari itu, Ketua Sarekat Islam (SI) Semarang, Semaoen terpilih menjadi ketua PKI. Darsono — juga aktivis SI — sebagai wakil ketua. Bergsma (guru Soekarno ketika mondok di rumah Tjokroaminoto) jadi sekretaris dan Dekker bendara.

* * *

Semaoen, pendiri dan ketua PKI pertama adalah ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Dialah yang bersikeras merubah Indische Societal Democratishe Veereniging (ISDV) menjadi PKI. Ketika itu umurnya 21 tahun.

Lahir di Mojokerto, Jawa Timur, masa kecilnya banyak dilewati di Surabaya. Usia 13 tahun, ia masuk Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto.

Awal 1915 Semaoen berkenalan dengan Sneevliet, pentolan ISDV. Bagi dia, meski bule, orang yang membawa marxisme ke tanah Jawa itu sangat manusiawi, tulus dan bebas dari mental kolonial.

Maka, selain aktif di SI, Semaoen bergabung pula dengan ISDV.

[NEXT-RASUL]

Setelah berhasil merubah ISDV menjadi PKI pada 23 Mei 1920, di samping bergiat di lapangan pergerakan, Semaoen mendirikan Sekolah Rakyat (SR) bersama Tan Malaka.

Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia menceritakan bahwa Semaoen pernah jumpa dan ngobrol dengan Lenin, pimpinan Revolusi Bolsevik yang legendaris itu, saat menghadiri pertemuan Oktober 1921 di Rusia.

Sekembali ke Jawa, karena dianggap berbahaya, pemerintah Hindia Belanda menangkap Semaoen pada 8 Mei 1923. Tanggal 18 Agustus 1923 ia dibuang ke Belanda dengan kapal Koningin der Nederlanden.

Dia baru pulang lagi ke tanah air setelah Indonesia merdeka. Pernah diminta Presiden Soekarno menjadi penasehatnya, Semaoen kemudian menjadi dosen ekonomi di Universitas Padjajaran, Bandung.

* * *

[NEXT-RASUL]

Kongres II PKI dilangsungkan di Gedung Alhambra. Bukan Alhambra, istana dan benteng peninggalan Islam di kota Granada, Spanyol yang sohor itu.

Ini Alhambra Theatre, gedung bioskop sekaligus pertunjukan yang dibangun oleh tiga bersaudara dari keluarga Bin Shahab. Lokasinya di kawasan Sawah Besar. Dekat Jakarta Kota.

“Alhambra ibarat Jakarta Convention Center zaman sekarang,” tulis Kris Biantoro dalam Manisnya Ditolak. “Desain yang megah, elegan dan gagah sekali. Segala bentuk seni biasa dipertontonkan di situ, dari tonil, film, wayang orang, ludruk, sampai wayang klithik,” kenangnya.

Saat kongres PKI II berlangsung, Alhambra bernuansa merah.

“Dinding-dinding, taplak meja, batikan baju atau dasi para peserta kongres berwarna merah dengan tanda palu arit,” tulis Busjarie Latif dari Lembaga Sejarah PKI dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965).

Kongres II PKI, Juni 1924 yang merah meriah itu memutuskan mengubah nama Perserikatan Komunist di India menjadi Partai Komunis Indonesia.

[NEXT-RASUL]

Keputusan ini merupakan sesuatu yang monumental dalam perjalanan sejarah bangsa ini; PKI partai politik pertama yang memakai nama Indonesia. (baca juga: PKI, Partai Politik Pertama yang Menggunakan Nama Indonesia)

Kongres juga memutuskan, memindahkan Hoofdbestuur (HB) — kemudian hari Comite Central (CC) — dari Semarang ke Batavia (Jakarta).

Pimpinan sentral yang dipilih Alibasah Winata (ketua), Budisutjitro (sekretaris) dan Aliarcham, Alimin serta Musso sebagai komisaris.

Menuju Pemberontakan
Kepengurusan hasil kongres II hanya bertahan lima bulan. Winata ditangkap dan dipenjarakan bersama para pimpinan sentral lainnya pada 29 November 1924.

“Situasi ini mendorong diadakannya kembali Kongres III bulan Desember 1924 di Yogyakarta,” tulis Busjarie.

[NEXT-RASUL]

Kongres III PKI memilih Sardjono sebagai ketua menggantikan Winata. Anggota komisaris ditambah Mardjohan (Semarang), Prawiro Sardjono (Surabaya), Kusno (Bandung), Suwarno (Solo), A.B. Assor (Ternate), Abdul Karim M.S (Sumatera Timur dan Aceh), Sutan Said Ali (Sumatera Barat).

Dalam catatan kongres Yogyakarta ini, PKI mempunyai 38 seksi, 1.140 anggota. Sedangkan Sarekat Rakyat, underbouw PKI, mempunyai 46 seksi dengan jumlah anggota 31.000.

“Jumlah anggota PKI tahun 1924, 1.140 orang sangat banyak dibandingkan anggota Partai Komunis Tiongkok yang hanya berjumlah 900 sebelum pergerakan 30 Mei 1925,” tulis Busjarie.

Menurut Busjarie, Kongres III ini dijiwai satu persoalan utama; pemberontakan untuk merebut kekuasaan politik. “Kongres dibanjiri interupsi; berontak saja!”

Semangatnya melawan segala tindakan pemerintah kolonial.

[NEXT-RASUL]

Koran Bataviaas Niewsblad, edisi 24 Desember 1925 menurunkan berita, “dalam kongres PKI bulan Juni 1924 dan Desember 1924 diambil keputusan-keputusan yang sangat dipengaruhi keputusan Aliarcham dan PKI sebagai berikut…”

“Mempropagandakan segiat-giatnya PKI dan Sarekat Rakyat. Menyokong semua perkumpulan revolusioner yang bertujuan menjatuhkan pemerintah. Mendidik kaum buruh untuk tidak takut masuk bui dan berani melakukan pemogokan. Memberikan pendidikan komunisme kepada pemuda.”

Pada paragraph selanjutnya diberitakan, “sebagai akibat keputusan-keputusan tersebut, kini orang-orang yang mengunjungi rapat-rapat PKI sudah diberi senjata. Kebakaran-kebakaran terjadi di pabrik-pabrik gula seperti Nganjuk dan sel komunis sudah terdapat di tambang batu bara Ombilin dan tambang-tambang lainnya.” [bersambung] (jpnn)


div>