MINGGU , 24 JUNI 2018

Begini Perjalanan Kasus Dugaan Korupsi Pasar Lakessi yang Tiba-tiba SP3

Reporter:

Editor:

Lukman

Jumat , 09 Maret 2018 23:18

PAREPARE, RAKSUL.COM Indikasi adanya korupsi pembangunan disertai pungutan liar (pungli) panjar uang muka los di Pasar Lakessi Kota Parepare ini pertama kali terkuak atas laporan masyarakat dan pedagang Pasar Lakessi. Saat itu, para pedagang dijanjikan untuk menempati los baru, dengan syarat membayar Rp1 juta per los.

Modusnya, oknum menarik pungutan dari 1.600 pemilik los sejak 2012. Pungutan ini selanjutnya tidak disetorkan kepada kas daerah sehingga menyebabkan negara mengalami kerugian.

Pungutan liar dari pedagang yang diduga dimanfaatkan oknum tertentu ini sebesar Rp1,7 miliar lebih. Sementara untuk kerugian pada korupsi pembangunan Pasar Lakessi mencapai angka Rp5.4 miliar. 

Perjalanan kasus dugaan korupsi Pasar Lakessi ini diungkap Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAKI) Kota Parepare.

Dibeberkan pula, dalam perjalanan kasus yang telah melalui tahap penyidikan ini, tiba-tiba terhenti lantaran adanya Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) yang dikeluarkan Kejati Sulselbar pada 2017 lalu. 

“Kalau sudah dinaikkan ke tahap penyidikan itu artinya ada dua alat bukti permulaan yang cukup terkait unsur tipikor. Namun lalu di SP3, ini memberikan kesan negatif terhadap penegakan hukum tipikor di Indonesia khususnya Sulselbar. Kami mendesak Kejaksaan agar segera membuka kembali kasus ini,” beber Lukman, Koordinator Lapangan AMAKI Parepare.

Sementara Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati, Salahuddin mengatakan, jika alasan penghentian atau SP3 kasus dugaan korupsi pasar Lakessi lantaran dinilai sudah berkesesuaian dengan aturan perundang-undangan.

“Sudah SP3, tentunya didasari dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam KUHAP,” ungkap Salahuddin. (*)


div>