Sabtu, 24 Juni 2017

Beginilah Nasib Akhir Aa Gatot Brajamusti di Tangan Hakim

Jumat , 21 April 2017 09:49
Penulis :
Editor   : doelbeckz
Gatot Brajamusti saat menjalani vonis di Pengadilan Negeri Mataram, NTB. foto: jpg
Gatot Brajamusti saat menjalani vonis di Pengadilan Negeri Mataram, NTB. foto: jpg
JAKARTA - Mantan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Gatot Brajamusti terdakwa kasus narkotika jenis sabu-sabu (SS) divonis delapan tahun penjara. Vonis tersebut dibacakan majelis hakim yang diketuai Yapi dalam persidangan yang di gelar di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (20/4).

Selain divonis delapan tahun, Gatot Brajamusti divonis membayar denda Rp1 miliar subsider tiga bulan kurungan penjara. "Menghukum terdakwa selama delapan tahun penjara dikurangi masa tahanan, denda Rp1 miliar subsider tiga bulan penjara," kata Yapi ketika membacakan vonis.

Vonis itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni 13 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan. Terdakwa tidak terbukti dalam dakwaan primer. Yakni, melanggar pasal 144 ayat 2 Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Karena itu, terdakwa harus dibebaskan dalam dakwaan primer.

Namun, terdakwa terbukti dalam dakwaan subsider, yakni melanggar pasal 112 ayat 2 UU 35/2009 tentang Narkotika. "Berdasar fakta persidangan, kami berkesimpulan bahwa terbukti dalam dakwaan subsider seperti dalam tuntutan jaksa sebelumnya," ujar Yapi.

Majelis hakim menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara karena dalam fakta persidangan, terdakwa mengakui memiliki narkotika jenis SS. Adanya barang bukti tersebut berdasar hasil pengembangan penyidik kepolisian. Selain itu, ditemukan barang bukti tambahan di kediaman Gatot di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Di antaranya, serbuk kristal putih yang diduga SS dengan berat lebih dari 5 gram. "Berdasar pertimbangan tersebut, maka dirasa cukup untuk bisa mengadili terdakwa, terlebih terdakwa sudah mengakui semua itu," ungkapnya.

Majelis hakim tidak sependapat dengan alasan terdakwa yang mengatakan bahwa menggunakan sabu untuk kesehatan dan memuaskan istri. Alasan itu, terang Yapi, tidak masuk akal karena banyak tempat kesehatan yang bisa menjadi solusi.