SELASA , 16 OKTOBER 2018

Belajar Mencintai Alam dengan Anak-Anak Pedalaman

Reporter:

Alief

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 10 Maret 2018 11:30
Belajar Mencintai Alam dengan Anak-Anak Pedalaman

Sikola Inspirasi Alam (SIA). (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – “Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di republik ini adalah dosa setiap orang terdidik yang dimiliki di republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan,” tutur Anies Baswedan.

Prinsip inilah yang dipegang oleh relawan yang tergabung dalam komunitas Sikola Inspirasi Alam (SIA), komunitas kesukarelawanan yang bergerak di bidang pendidikan.

Didirikan oleh empat orang anak muda, yakni Andi Irwansyah, Faisal, Fitri dan Dewi, atas keperihatinan mereka terhadap kesenjangan pendidikan. “Awalnya kami hanya iseng. Saya tidak pernah menyangka akan sebesar ini,” tutur Andi Irwan, Jumat (9/3) kemarin.

Mei 2016 menjadi tahun pertama komunitas ini dibentuk. Sejak saat itu, komunitas ini pun merekrut relawan setiap bulan.

“Perekrutan terus jalan sejak Juni 2016 lalu. Hingga kini, komunitas ini telah merekrut sebanyak 154 relawan dalam 11 kali perekrutan. Relawan yang tergabung dari berbagai profesi ini, mengajarkan cara berhitung, membaca, dan menulis kepada anak-anak di daerah pegunungan dan terpencil,” ungkap Andi Irwan.

Sementara, Sekretaris SIA, Hasdinar Burhan, menjelaskan metode pengajaran yang diterapkan pada siswa yang dibina oleh SIA, adalah bagaimana mencintai alam. Karena itulah, bahan ajar yang digunakan berasal dari alam, seperti daun, ranting, bunga, batu, dan bahan lainnya.

Bahan ajar dari alam ini, kata Dinar, sapaan akrabnya, bertujuan mengajarkan anak-anak pegunungan ini mencintai lingkungannya dan belajar dari apa yang anak-anak tersebut rasakan lewat panca inderanya. “SIA mengajarkan kita menyatu dengan alam,” tutur Dinar.

Semenjak didirikan hingga saat ini SIA telah mengabdi di 2 lokasi sekolah binaan, yakni Sekolah Alam Lappara di Sinjai dan Kelas Jauh SD Bonto Somba, Dusun Cindakko, Kecamatan Tompobulu, Maros.

Selama tahun pertama, SIA fokus pada satu lokasi, yaitu Sikola Alam Lappara (SAL). Sekolah yang berada di kaki gunung Patonttongan, Dusun Lappara, Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah.

Sekolah yang berstatus kelas jauh SD 65 Kompang ini sangat terlantar akibat keterbatasan fasilitas. Listrik, jarak tempuh, signal, ruang kelas dan bahan ajar menjadi kendala yang harus dialami tenaga pengajar di sekolah ini.

Sekolah yang dibangun diatas tanah berukuran 12m2 ini dibangun oleh hasil swadaya masyarakat dan anak-anak pencinta alam. Walaupun berdinding bambu beralaskan tanah, sekolah ini memiliki ruang perpustakaan dan ruang kelas dengan beberapa bangku dan kursi yang lapuk termakan usia. Karena guru bantu dari sekolah induk jarang datang, jadilah pendaki gunung yang rehat di dusun ini sesekali singgah mengajar di SAL.

Untuk sampai ke lokasi ini, relawan harus berjalan kaki dari sekitar 2 km selama 2 jam dari Desa Kompang ke Dusun Lappara. Relawan harus melalui jalan setapak dengan kemiringan 45o- 60o. Meskipun kendaraan roda dua bisa menjangkau tempat ini, namun karena kondisi jalan yang rusak, bergelombang dan licin, sulit bagi pengendara pemula untuk melalui jalan ini.

Sampai Maret 2017 kemarin, SAL memiliki 20 siswa dari rentan umur 5 sampai dengan 16 tahun. Kendati ada anak yang sudah mencapai umur sekolah menengah, namun kemampuan mereka secara akademik masih berada di tingkatan sekolah dasar.

Lokasi selanjutnya yang menjadi lokasi pengajaran SIA, yakni Dusun Cindakko, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Lokasi ini hanya berjarak sekira 50 km dari kota Makassar. Namun, fasilitas umum belum memadai di lokasi ini, seperti penerangan, jalan, maupun fasilitas pendidikan dan kesehatan lainnya.

Beruntung, sebuah lembaga kemanusiaan membangun sekolah di dusun ini Agustus tahun lalu. Bangunan berukuran 5x10m ini berdinding kayu beratap seng. Tak ada sekat dalam ruangan, siswa hanya saling berpunggungan untuk membedakan kelas mereka.

Sekolah jauh dari SD 246 Bonto ini memang hanya membuka kelas satu dan dua dengan satu pengajar yang rutin mengajar di sekolah tersebut.

Pak Azis, pengajar di sekolah tersebut, harus berjalan kaki sekira dua sampai tiga jam untuk sampai di sekolah karena tinggal di daerah Bonto. Jika waktu mengajar tiba, ia akan berjalan menyusuri rumah siswanya dan memanggil para siswa untuk bersekolah.

“Ada sekira 60 siswa yang bersekolah di lokasi yang bernama Jampua ini. Sebagian siswa harus berjalan kaki sekitar 2-3 km menanjak dan menukik menyusuri jalanan berbatu dan dan berlumpur di kala hujan untuk sampai di sekolah tersebut,” terang pak Azis.

Belum lagi beberapa siswa, sambungnya, harus menyeberang sungai dengan meniti jembatan sebilah bambu sepanjang 10 meter. Jika musim hujan tiba, jembatan yang dikait dengan tali besi berdiameter 12 mm ini akan licin dan sulit dilewati.

Cindakko memang terbelakang secara sarana dan prasarana, para warga pun terisolasi oleh informasi dari luar kampung.

Menurut aparat desa, 96 persen warga Cindakko buta huruf dan sebagian besar warga dan anak-anak tidak paham bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Makassar.
Sebagian besar warga Cindakko bermata pencaharian sebagai pencari madu, pembuat gula merah, dan petani musiman.

Para relawan SIA belajar banyak hal diluar rutinitas mereka. Belajar bersama anak-anak kaki langit membuat para relawan mencintai alam, mengenal kebudayaan berbeda dan bersyukur dengan apa yang mereka miliki. (*)


div>