MINGGU , 22 JULI 2018

Belanja Iklan TV 2015 Turun Jadi 72,5 Triliun

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Senin , 04 Januari 2016 22:56
Belanja Iklan TV 2015 Turun Jadi 72,5 Triliun

Ilustrasi (NET)

RAKYATSULSEL.COM – Perlambatan ekonomi pada 2015 menyebabkan belanja TV mengalami penurunan. Meski demikian, sejumlah industri justru menunjukkan pertumbuhan. Di sisi lain, produk-produk rokok masih merajai belanja iklan TV nasional.

Sigi Kaca Pariwara dalam rilisnya Senin (4/1/16) menyebutkan, dari data Adstensity 2015 bisa dipastikan bahwa belanja iklan TV tahun 2015 mengalami penurunan. Pada 2014 lalu pendapatan iklan TV menembus Rp 99 Triliun. Namun tahun ini hanya mencapai Rp 72,5 triliun. Artinya belanja iklan TV 2015 terjadi penurunan sebesar 26,7% dibanding 2014.

Sebagaimana yang disampaikan Adstensity pada November lalu, pendapatan iklan TV ini jauh meleset dari yang ditargetkan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). PPPI memprediksikan belanja iklan TV nasional untuk tahun 2015 mencapai Rp 113,5 triliun. Dengan data riil 2015, target belanja iklan TV hanya tercapai 63,8%.

Penyebab dari penurunan belanja iklan bisa jadi karena memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika pada 2015 lalu. Akibatnya, sebagian besar industri terpaksa menghemat belanja iklan mereka. Hal ini nampak pada industri otomotif yang paling terpengaruh dengan situasi ini. Sebaliknya kondisi itu tak berlaku pada industri e-commerce/digital business (online store) yang justru mencuat pada 2015.

Industri yang relatif baru berkembang di Indonesia ini masuk dalam 10 Top Industri 2015. Total belanja iklan mereka mencapai Rp 1.792.654.180.000 atau berkontribusi sebesar 2,47% terhadap total belanja iklan TV 2015. Sedangkan industri otomotif ada di peringkat 10 dengan total belanja iklan Rp 1.774.396.270.000 atau hanya menyumbang 2,45%. Di luar itu, industri-industri yang terlanjur mapan seperti Beverage, Personal Care, dan Refined Food masih merajai penyumbang belanja iklan TV terbesar di Indonesia.

Djarum Masih Paling Royal
Meski terjadi perlambatan ekonomi, nyatanya sepanjang 2015, masih saja ada pemilik brand yang royal melakukan belanja iklan terutama dari industri rokok. Sebut saja misalnya Djarum yang pada tahun ini belanja iklannya menembus angka Rp 1,216,035.000.00 atau berkontribusi 1,68% terhadap total belanja iklan TV 2015. Tak kalah dengan Djarum, Sampoerna, melakukan belanja iklan sampai dengan Rp 977.289.000.000 atau menyumbang 1,35% dari total pendapatan TV.

Dari daftar 10 brand paling royal di 2015, ada brand-brand baru yang mencuat justru di saat ekonomi Indonesia melemah yakni Tokopedia di posisi 7 dan Traveloka di posisi ke-9. Belanja iklan Tokopedia mencapai Rp 674.716.000.000 dan Traveloka Rp 631.020.000.000. Perlu diketahui dua brand tadi baru popular belakangan ini. Berbeda halnya dengan brand-brandjadul yang ramah dalam ingatan seperti Pepsodent, Lifebuoy, Frisian Flag, Indomie atau Mie Sedaap.

[NEXT-RASUL]
MNC Group Menguasai 35 Persen Market Share
Tentu saja duit sebesar Rp 72,5 triliun tadi mengalir ke 13 TV nasional. RCTI menjadi stasiun TV yang paling banyak menerima aliran duit belanja iklan sebesar Rp 11.130.712.849.993 atau rata-rata pendapatan per bulan Rp 927.559.404.166,083. Saingan terdekat masih SCTV dengan perolehan kue iklan Rp 9.669.551.939.993 atau rata-rata per bulan Rp 805.795.994.999,417. Terbesar ketiga MNC TV dengan perolehan Rp 8.682.334.359.996 atau rerata sebulan Rp 723.527.863.333,00. Seperti biasa TVRI menempati peringkat paling buncit dengan raihan Rp 53.072.800.000 atau sebulan hanya meraih Rp 4.222.733.333,33

Dilihat dari grup media MNC Group (RCTI, Global TV, dan MNC TV) masih nangkring di peringkat pertama dengan market share 35,61%. Saingan terdekat adalah SCM (SCTV dan Indosiar) sebesar 23,89%, Grup Viva (Tv One dan ANTV) mencapai 17,01% dan Grup Transcorp (TransTv dan Trans7) 15,17%. Dari data ini nampak bahwa perolehan MNC Grup terpaut 11,73% dengan SCM, namun jika ditelisik rata-rata kontribusi masing-masing TV di grup MNC hanya tembus 11,87% sementara rerata kontribusi TV di grup SCM menembus 11,94%.

Tumbuhnya Iklan e-Commerce
Sebagaimana disampaikan di atas, pada 2015 industri e-commerce sedang mengalami pertumbuhan. Para pemain di industri ini semakin bertambah. Bila sebelumnya hanya ada Lazada dan Tokobagus, kini ada Tokopedia, Olx, Bukalapak, Blibli, mataharimall, Traveloka, Trivago dan lain-lain. Persaingan di antara brand-brand inilah yang menyebabkan belanja iklan sektor e-commerce tumbuh di 2015.

Pemain baru di industri e-commerce menggebrak dalam pasar iklan e-commerce. Sebagai contoh mataharimall.com (berdiri pada 17 Maret 2015) langsung menjadi pemain yang patut diperhitungkan. Dalam rentang 9 bulan belanja iklan mataharimall.com menembus Rp 83.478.000.000. Meski demikian para pemain lama di sektor e-commerce seperti Tokopedia, traveloka atau OLX masih merajai belanja iklan TV sektor e-commerce. Ke depan dengan makin ketatnya kompetisi, belanja iklan sektor e-commerce akan naik.

Perlu diketahui bahwa angka-angka di atas diperoleh Adstensity berdasarkan rekaman semua iklan tvc di 13 stasiun tv nasioanl yakni RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV,TransTV, Trans7, Global TV, MetroTV, TV One, ANTV, KompasTV, Net TV, dan TVRI. Adstensity mencatat volume iklan dan harga iklan sesuai dengan data yang dipublikasikan (publish rate), sehingga nilai yang tercatat adalah nilai bruto.
Selain itu, penyebutan nama-nama produk di atas tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial atau soft campaign, terlebih sebagai dukungan informasi semata.


div>