SENIN , 21 MEI 2018

Belum Tanding, Beringin Sudah Meringis

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 22 Mei 2017 10:17
Belum Tanding, Beringin Sudah Meringis

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Soliditas kader Partai Golkar kembali diuji. Ancaman pencopotan ketua DPD II kembali menjadi senjata pengurus provinsi.

Elektabilitas partai tak senasib dengan kesukaan publik terhadap pasangan calon (paslon) yang menguat diusung parpol berlambang beringin rindang itu di Pilgub 2018.

Potret survei internal dibocorkan ketua Golkar Sulsel Nurdin Halid saat Rakernis di Makassar. Elektabilitas Partai Golkar di Sulsel disebutkan masih terbaik, namun sinyal kesukaan publik terhadap bakal calon gubernur dan wakil gubernur usungan Golkar justru masih rendah.

Kader beringin dinilai belum bekerja maksimal. Ancaman pencopotan pun kembali diuber akan dijatuhkan pada ketua-ketua DPD II yang dianggap kurang maksimal.

Sinyal pencopotan dialamatkan ke tiga ketua DPD. Yakni, Gowa, Takalar dan Luwu. Jika pencopotan benar dilakukan bagaimana nasib Golkar di tiga daerah tersebut?.

Ketua badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Sulsel, Kadir Halid mengungkapkan,pencopotan sejumlah pengurus atau kader di DPD II Golkar adalah hak prerogatif DPP dan DPD I yang sudah disepakati melalui rapat internal.

“Soal itu kan kewenangan DPP dan DPD I. Apalagi rana sanksi atau pencopotan kader adalah hak prerogatif pimpinan,” ujarnya via seluler Minggu (21/5).

[NEXT-RASUL]

Kadir Halid menilai, pencopotan sejumlah Ketua DPD II Golkar bukan karena momentum Pilgub. Akan tetapi semata-mata karena soal kinerja yang dinilai tidak bekerja maksimal untuk partai.

Ia menyebutkan, hal itu juga sebagai penyegaran dalam tubuh DPD II agar berjalan semestinya seperti yang diharapkan oleh DPP dan DPD I Golkar, demi menghadapi event politik di Sulsel 2018 mendatang.

“Kalau tidak bekerja untuk partai, ya diganti. Penataan organisasi sampai tingkat desa apa sudah dilakukan olehnya, ini yang kami evaluasi,” tutur Kadir Halid.

Ditambahkan, seluruh kader Golkar harus solid menangkan Nurdin Halid (NH) di Pilgub Sulsel. Hal itu bertujuan untuk menepis isu jika kader Golkar saat tak solid.

“Seluruh kader Golkar harus solid menangkan NH di Pilgub Sulsel, ini instruksi partai bukan ketua DPD atau Bappilu,” jelasnya.

Sementata itu, Ketua Bidang Organisasi DPD I Golkar Risman Pasigai, menuturkan, pergantian atau pencopotan dalam organisasi merupakan hal yang biasa terjadi dan pasti semua ada ketentuannya.

[NEXT-RASUL]

Risman berpendapat, apapun keputusan parpol sudah dipikirkan matang-matang sehingga dilakukan¬† pergantian adalah merupakan konsekuensi yang harus diterima semua pihak. “Tak ada urusan dengan Pilkada, ini kan aturan partai kalau kader tak loyal harus diganti,” tuturnya.

Ia juga menegaskan, pencopotan sejumlah kader di DPD II tak mengganggu elektabilitas Golkar. “Kalau dibilang basis suara berkurang, tidak. Karena yang jadi Plt juga memiliki kuatkan,” terangnya.

Risman juga menanggapi rumor kader Golkar bakal terpecah di Sulsel. Rumor tersebut muncul ketika sejumlah kader dicopot dari kepengurusan  DPD II.

“Semuanya solid, kami meminta seluruh kader Golkar tidak perlu risau mengenai reposisi. Semua kader aktif konsen menemui konstituennya, marilah sama-sama turun di masyarakat mensosialisasikan NH,” pungkasnya.

Konsultan politik dari Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh mengatakan, pencopotan dan ancaman penonaktifan tiga ketua Golkar di Sulsel, dipastikan akan memberikan dampak negatif bagi partai berlambang pohon beringin ini.

Mengingat, baik Adnan, Natsir Ibrahim, maupun Andi Mudzakkar punya basis kekuatan tersendiri di internal Golkar. Dimana, justru sangat berpotensi ikut meninggalkan partai tersebut.

“Kalau benar ada pencopotan, efeknya pasti pada soliditas Golkar. Biar bagaimana pun, tiga ketua itu punya basis yang riil. Dan kalau sampai mereka meninggalkan partai, sedikit banyaknya akan diikuti oleh gerbong atau para loyalisnya,” ungkap Arif, Minggu (21/5).

[NEXT-RASUL]

Apalagi, kata Arif, jika pencopotan itu yang muncul ke publik adalah pendzaliman, maka bukan hanya kantong-kantong suara tiga ketua tersebut berpotensi meninggalkan Golkar. Tetapi juga masyarakat luas yang bisa meluapkan kekecewaannya terhadap perlakuan Golkar.

Khusus pencopotan Adnan, disebut-sebut bagian kubu Nurdin Halid (NH) yang mulai menutup ruang klan keluarga Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Golkar. Itu nampak dari rentetan yang dilakukan Golkar semenjak dinahkodai NH.

Mulai mengganti SYL di posisi ketua DPD I, mencopot Ichsan di Bendahara DPD I, serta terakhir Adnan di Gowa. Padahal, pengakuan pengurus DPD II, sejak Adnan mengendalikan Golkar, roda organisasi tetap berjalan.

Sementara itu, Pengamat Poltik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, NH sebagai bakal calon gubernur dari Golkar nampaknya sulit membangun basis ditiga daerah tersebut. Sehingga, berniat merubah struktural partai nya demi keuntungannya di Pilgub mendatang.

“Saya kira dinamika internal yang terjadi ini menujukkan bahwa target konsolidasi total dan menyeluruh oleh kepengurusan transisi belum tuntas. Sepertinya ada pekerjaan yang tidak tuntas,” ungkap Luhur.

Luhur menjelaskan, Golkar merupakan partai yang harusnya mampu membangun basis massa yang kuat di Sulsel. Tetapi, semenjak terjadi dinamika di internal partai, Golkar terus membendung hal itu dengan merubah sistem partai yang telah berjalan selama ini.

[NEXT-RASUL]

“Golkar sebenarnya sudah sangat berpengalaman mengelola dinamika internal. Saya kira sudah ada mekanisme kelembagaan untuk menyelesaikan permasalahan,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Luhur, sebagai partai pemenang di Sulsel, Golkar mestinya tidak melihat kekurangan dari satu sisi saja. Melainkan dari seluruh struktural dan mekanisme yang ada. Serta, harus mampu membangun keadilan bagi seluruh kadernya. Jangan sampai ini menjadi bom waktu bagi Golkar sendiri.

“Pencopotan ketua DPD II bisa saja di lakukan, tapi saya kira DPD I mesti mempertimbangkan azas proporsional dan keadilan bagi semua kader. Artinya kalau serius mau “sapu bersih” sekalian saja mulai dari DPP sampai struktur terendah partai,” tuturnya. (E)


div>