MINGGU , 22 JULI 2018

Berbagi Kasih

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 19 Januari 2016 12:30
Berbagi Kasih

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Darussalam Syamsuddin

Semua agama mengajarkan perdamaian dan anti kekerasan. Namun dalam perjalanan sejarah dan perkembangannya ada saja penganut agama yang melakukan tindak kekerasan. Ketika hal itu terjadi berarti ada yang salah dalam komunikasi atau kesalahan dalam memahami ajaran agamanya.

Ajaran Islam yang universal seringkali tersandera oleh berbagai hal termasuk kesempitan pemahaman di antara penganutnya. Kesempitan pemahaman kelompok menyebabkan sulit menerima kebenaran yang datang dari luar kelompoknya, padahal ajaran Islam menyerukan perdamaian bagi seluruh manusia. Nilai-nilai kejujuran, keadilan, kesantunan, perdamaian berlaku untuk semua tanpa memandang agama yang dianutnya.

Komaruddin Hidayat menulis, bahwa ibadah dalam Islam, sebagaimana juga dalam agama lain, mengandung dua dimensi: esoteric dan exoteric. Yang pertama sifatnya sangat pribadi, tujuan akhirnya adalah untuk mendekat dan menyatu dengan Tuhan dengan jalan menyucikan diri, menjauhkan pikiran, omongan, sikap dan tindakan yang kotor.

Yang kedua, dimensi exoteric, yaitu dimensi dan implikasi lahir bahwa orang beragama dituntut melaksanakan perintah agama dengan baik, terukur dan dapat diamati, yang tujuan akhirnya membentuk karakter dan kepribadian mulia sehingga perilaku keberagamaan seseorang mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia. Dengan demikian, dimensi iman selalu mengasumsikan munculnya kesalehan sosial.

Seberapa jauh Islam yang memperjuangkan misi kemanusiaan dan kebenaran universal itu, agar dapat dipahami penganutnya sehingga dapat terhindar dari tindak kekerasan dan hal lain yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu penyebab yang dapat melahirkan sikap tidak ramah dan tidak toleran adalah memandang yang lain berbeda dan diposisikan sebagai ancaman atau saingan yang harus ditaklukkan bahkan kalau perlu dimusnahkan, bukannya sebagai mitra untuk bersama-sama membangun peradaban.

Padahal setiap bangsa atau komunitas agama senantiasa memerlukan yang lain. Tidak ada satu bangsa atau pemeluk agama yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti: pada saat melakukan transaksi bisnis, mereka menggunakan mata uang dollar. Ketika melakukan aktivitas perkantoran dan kegiatan  publik dengan menggunakan teknologi modern buatan orang-orang nonmuslim. Demikian pula dengan keberangkatan umat Islam setiap tahun ke Makkah dan Madinah dengan menggunakan pesawat terbang buatan nonmuslim.

Siapa pun yang tidak siap menjalin kemitraan dengan bangsa dan umat yang berbeda keyakinan, dengan cara melakukan tindak kekerasan dalam menghadapi perbedaan, dapat dipastikan akan meruntuhkan peradaban dan merusak kemuliaan agama itu sendiri. Sebagai umat beragama, apa pun agama dan pahamnya, kita malu ketika agama justru menjadi sumber dan beban masalah bagi kehidupan berbangsa dan kemanusiaan, bukan sebagai penyejuk serta penyubur kehidupan dan peradaban.

Belajar dari kerahmatan pribadi Rasulullah, setelah wafatnya datanglah Umar bin al-Khattab kepada Aisyah ra. Dan berkata: wahai Aisyah masih adakah hal yang sering dilakukan Rasulullah yang tidak saya lakukan. Aisyah menjawab: Ya, ketika Rasulullah masih hidup setiap hari memberi makan orang tua yang buta matanya di ujung jalan. Sedangkan orang tua itu senantiasa mencelanya dan tidak mengetahui bahwa orang yang memberinya makan setiap hari itulah Rasulullah. Kemudian Umar pun melakukan seperti apa yang dilakukan Rasulullah kepada orang tua yang buta itu. Namun ketika Umar menyuapi, orang tua itu berkata siapa engkau?, Umar menjawab saya yang setiap hari menyuapimu. Orang tua itu berkata: tidak, jangan bohongi saya, kamu bukanlah orang yang setiap hari menyuapiku. Dia menyuapi saya dengan lembut dan saya tidak perlu mengunyah bubur yang ia berikan karena digiling terlebih dahulu. Umar pun mengatakan bahwa orang yang setiap hari menyuapinya telah meninggal dunia, yang tidak lain adalah Rasulullah yang selama ini dicela

Orang tua buta itu pun menangis mendengar berita yang disampaikan Umar sembari berucap: Sungguh mulia akhlakmu Muhammad. Sejak saat itu, orang tua itu pun memeluk Islam.

Kerahmatan Rasulullah tidak terbatas hanya kepada sesama manusia, Melainkan kepada hewan dan seluruh alam. Sebelum kedatangan Muhammad saw., kalau hewan ingin dikonsumsi cukup dengan membanting hingga mati. Namun setelah kedatangan Rasulullah, ia mengajarkan agar setiap hewan disembelih dengan nama Allah dan menggunakan pisau yang tajam. Dengan kedatangan Rasulullah hewan pun mendapat rakhmat tidak mati dalam keadaan tersiksa, namun mati sebagai wujud peribadatannya kepada Allah. Benarlah firman Tuhan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya’/21: 107).

Mari berbagi kasih dengan sesama makhluk, mengedepankan kesantunan dan menghindari segala bentuk kekerasan sebagai wujud kerahmatan bagi sesama dalam membangun peradaban yang dilandasi misi kemanusiaan. (*)


Tag
div>