SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Berburu Suara Lewat Medsos

Reporter:

FAHRULLAH-ARMANSYAH

Editor:

MA

Kamis , 30 Agustus 2018 09:15
Berburu Suara Lewat Medsos

Karikatur : Rambo/rakyatsulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM– Perkembangan media sosial (Medsos) di Indonesia dimanfaatkan sejumlah calon anggota legislatif untuk kampanye.
Tak heran, jika saat ini di berbagai media sosial banyak muncul figur-figur caleg yang memperkenalkan diri masing-masing.
Pakar Politik UIN Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan, saat ini KPU belum bisa mengintervensi atau melarang para bacaleg untuk bersosialisasi, termasuk bersosiaslissi di media sosial.
Meski begitu, pihaknya juga mengimbau bacaleg harus menahan diri sebelum pertarungan dimulai pasca penetapan DCT, September mendatang.
“Caleg masih bebas memanfaatkan medsos karena belum memasuki tahapan kampanye, sehingga KPU belum bisa intervensi. Etikanya, caleg harus menahan diri,” jelas Firdaus.
Pakar Politik Unhas, Aswar Hasan mengatakan, caleg harus memilih moment dan kontent bersosialiasasi melalui medsos. Pasalnya, jika salah sasaran maka caleg justru akan mendapatkan hasil yang merugikan dirinya kelak.
“Bermedsos itu bisa kontraproduktif, karena didunia maya itu perlu penguatan di dunia nyata. Caranya Caleg harus memadukan apa yang ditampilkan di dunia maya bisa direalisasikan di dunia nyata,” katanya.
Kata Aswar, bermain di medsos, caleg harus mengisi konten yang tidak terlalu berlebihan sehingga saat disosialisasikan di dunia nyata, masyarakat dalam hal ini pemilih tidak merasa dibohongi.
“Penggunaan medsos sangat membantu, terutama segi efisiensi biaya dan keterjankauan serta kecepatan dalam menyampaikan informasi,” ucapnya.
“Medsos ini bermata dua, bisa meningkatkan dan bahkan justru merusak sicaleg ini bila tidak dikelola dengan baik,” tambahnya.
Aswar mencontohkan, pemanfaatan medsos yang baik saat Joko Widodo (Jokowi) berkampanye dalam pertarungan pemilihan Gubernur DKI. Justru pengelolaan medsos yang buruk digunakan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sehingga kalah dipertarungan Pilgub DKI.
“Jadi, Siapa yang bisa memanfaatkan medsos dan membuktikan didunia nyata itu potensi menang,” jelasnya.
Komisioner KPU Sulsel, Faisal Amir menyebutkan, jika bacaleg untuk saat ini tetap bisa melakukan sosialisasi sepanjang mereka tidak mencantumkan logo partai politik hingga angka parpol mereka. “Sepanjang mereka tidak mencantumkan gambar partai politik maka itu bukan masuk kategori kampanye,” katanya.
Tapi jika calegnya melakukan sosialisasi dengan mencantumkan partai, maka itu adalah pelanggaran, namun yang akan disurati lebih awal adalah partai politik yang akan berujung kepada kader mereka. “Pasang lambang partai itu yang melanggar,” tegasnya.
Untuk Caleg yang mencuri start menurut Faisal akan diserahkan sepenuhnya kepada Bawaslu Sulsel. “Bawaslu sudah memberikan peringatan,” ungkapnya.
Sementara Ketua Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Sulsel, Laode Arumahi mengaku sudah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait bacaleg yang berkampanye di media sosial. Akan tetapi, Laode Arumahi tidak ingin menyebutkan siapa nama dan dari partai politik apa.
“Sudah ada laporan yang masuk. Saya lupa siapa bacalegnya dan dari partai mana. Yang jelas ada yang laporkan,” tuturnya.
Pihaknya saat ini tenagh melakukan kajian terhadap laporan itu sebelum melakukan pemanggilan terhadap bacaleg yang bersangkutan. “Laporanya sementara kita kaji,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya juga menemukan bacaleg yang terang-terangan memasang alat peraga. “Kami sudah memberikan teguran melalui partai mereka untuk segera menurunkan alat peraga tersebut. Dan sudah ada juga yang telah menurunkan,” kata Laode Arumahi. (**)


div>