SELASA , 16 OKTOBER 2018

Berebut Kursi DPRD Sulsel, 453 Srikandi Saling Sikut

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

Iskanto

Senin , 24 September 2018 07:40
Berebut Kursi DPRD Sulsel, 453 Srikandi Saling Sikut

ILUSTRASI,

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulsel telah menetapkan 1.196 Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPRD Provinsi Sulsel yang akan bertarung di Pemilihan Legisltaif (Pileg) 2019 mendatang.

Dari 1.196 orang, 453 diantaranya adalah caleg perempuan. Mereka akan saling sikut memperebutkan empuknya kursi legislatif.

“Total 1.196 caleg. Caleg perempuan ada 453 orang dan laki-laki sebanyak 743 orang. Mereka berasal dari 16 partai politik dan tersebar di 11 Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Sulsel,” kata Komisioner KPU Sulsel, Fatmawati, Minggu (23/9/2018).

“Jumlah ini sudah menjadi keputusan bersama yang ditetapkan di DCT,” tambahnya.

Menanggapi banyaknya caleg perempuan yang ikut serta pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Sulsel, Nurhayati Aziz mengaku sangat mendukung caleg dari kalangan perempuan untuk duduk di kursi parlemen.

“Kami Aisyiyah sangat mendukung caleg perempuan di parlemen. Ini suatu peluang,” ujarnya saat ditemui di Gedung Serbaguna Aisyiyah (GSA), Jalan Bulusaraung, Makassar.

Menurutnya, perlu adanya keseimbangan hak perempuan dan laki-laki di berbagai bidang. Baik sosial, politik juga strata lainnya. “Kami support caleg perempuan, yang jelasnya caleg perempuan dari berbagai kalangan,” tuturnya.

Ia menegaskan, semua perempuan bisa masuk di semua level, baik di DPR kabupaten/kota, DPRD provinsi hingga DPR RI. Tapi, tentu saja yang di inginkan adalah orang-orang yang cerdas, orang yang punya akhlakul karimah yang bagus.

“Itu yang penting, dan Aisyiyah itu bergerak sesuai dengan apa yang kami inginkan. Secara masif dan memilih orang-orang yang terbaik untuk keperluan masyarakat umum,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan dan Gender (P3KG) Unhas Makassar, Dr Rabina Yunus mengatakan, persaingan untuk meraih posisi strategis diperlukan revolusi diri.

Menurutnya, adanya strategi karena sudah terbukti dengan banyaknya perempuan yang menjadi caleg saat ini bukan sekadar memenuhi kuota melainkan memang panggilan jiwa untuk bisa lolos di parlemen.

“Harus butuh strategi matang, caleg perempuan tidak sekadar ikut-ikutan tetapi ingin memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk membangun daerah,” ujarnya.

Perempuan, kata dia harus merevolusi diri yakni dengan memanajemen diri, keluarga dan lingkungan tempat bekerja. Bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat serta diawali dari dirinya sendiri.

Menurut dia, sudah saatnya kaum perempuan berdiri paling depan sebagai pelaku utama pelaksana pembangunan. Kemampuan yang dimiliki kaum perempuan tidak kalah dengan laki-laki.

“Tidak ada lagi sekat gender yang menjadi penghambat bagi kaum perempuan untuk berkiprah dalam pembangunan. Untuk itulah perempuan harus mengubah pandangan agar punya kepercayaan diri untuk maju,” pungkasnya. (*)


div>