SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Berebut Pemilih “Kids Jaman Now”

Reporter:

Iskanto - Fahrullah

Editor:

Lukman

Jumat , 03 Agustus 2018 13:40
Berebut Pemilih “Kids Jaman Now”

Ilustrasi pemilih. (Doc.RakyatSulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Jelang Pemilu 2019, partai politik (Parpol) dan calon anggota legislatif memanfaatkan pemilih pemula untuk meraih suara.

Jumlah mereka yang relatif besar membuat pemilih pemula sering menjadi rebutan partai politik maupun para politisi untuk mendongkrak perolehan suara.

Pemilih pemula adalah mereka yang berusia 17 tahun pada hari pencoblosan atau yang sudah menikah dan tercatat dalam daftar pemilih tetap.

Sekretaris PDI Perjuangan Sulsel, Rudy Pieter Gony mengatakan, bukan hanya demi kontestasi politik, PDIP sedari dulu sangat memperhatikan pemuda dan pemilih pemula sebagai generasi penerus bangsa. Bahkan kata dia, PDIP memiliki tiga sayap partai yang bergerak untuk memberikan wadah bagi para pemuda.

“PDIP secara kelembagaan di DPD ada bidang pemuda dan olahraga. Kemudian ada tiga sayap yang erat kaitannya dengan pemuda. Yaitu Banteng Muda Indonesia, Taruna Merah Putih dan Repdem,” kata Rudy.

Dimana melalui sayap partai dan kelembagaan, PDIP aktif memberikan wadah bagi pemuda untuk mengalirkan semangat sosialnya. Hal itu guna mempererat tali silahturahmi seluruh lapisan masyarakat.

“Jadi kegiatan-kegiatannya dalam menarik hati pemuda seperti mengadakan lomba, kegiatan olahraga, festival band, paduan suara yang bahkan sampai tingkat nasional. Jadi melalui bidang pemuda dan olahraga di DPD partai, juga melalui organisasi sayap partai PDIP mendekatkan diri kepada pemuda dan pemilih pemula,” jelasnya.

Karena memang menurutnya, pemuda akan sulit memahami arti kehadiran sebuah partai politik. Karena itu, untuk memberikan pemahaman yang lebih efektif PDIP mengemasnya dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial.

“Karena partai kan biasanya pemilih pemula itu kurang mengetahui partai itu seperti apa karena terlalu formil. Jadi melalui sayap partai diharapkan bisa membuat para pemuda itu tertarik. Karena tertarik, step by step para pemuda itu mengetahui visi dari PDIP itu seperti apa,” papar Rudy.

“Tidak bisa dipungkiri potensi pemilih pemula itu sangat besar. Dan itu salah satu target utama kita, dan PDIP itu punya target. Jadi memang kami sangat konsen ke pemilih pemula,” lanjutnya.

Ketua PSI Sulsel, Fadli Noor mengatakan, PSI sedari awal dibentuk karena keinginan kaum muda untuk menghadirkan sistem demokrasi yang baik dan bersih. Maka untuk menarik simpati pemuda PSI telah memiliki strategi-strategi khusus yang dapat diterima dengan baik oleh para pemuda tersebut.

“Kehadiran PSI sejak awal memang untuk menjadi parpol afiliasi politik anak muda. Jadi target pemilih kita termasuk pemilih pemula dan kita telah menyiapkan materi kampanye yang akan membuat pemilih pemula akan merasa “PSI ini gue banget!”,” kata Fadli.

Apalagi memang, jelasnya, pengurus dan kader-kader PSI adalah pemuda sehingga untuk mendekati pemuda dan pemilih pemula tidak akan terlalu sulit.

“Di PSI semua pengurus adalah anak muda. Syarat pengurus di PSI harus berusia kurang dari 45 tahun. Dengan kepengurusan yang sepenuhnya diisi anak-anak muda, kami mengklaim sebagai partai yang paling bisa memahami ‘isi hati’ pemilih muda,” tandasnya.

Juru bicara DPW NasDem Sulsel, M Rajab mengatakan jika partai bestutan Surya Paloh tersebut berupaya untuk mencari dukungan dari generasi millenial baik itu melakukan pendekatan kepada generasi muda dengan melakukan berbagai kegiatan.

“Partai NasDem memperbanyak kegiatan yang sangat dekat dengan generasi millennial dengan cara aktif dimedia sosial, online dan melakukan beberapa kegiatan perlombaan,” kata Rajab.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel ini menyebutkan, jika kader NasDem dari dulu sudah melakukan kegiatan dengan menyasar generasi millennial. Apalagi NasDem memiliki begitu banyak sayap partai yang didominasi generasi muda. “Partai NasDem saat dekat dengan generasi millennial,” ucapnya.

Rajab menegaskan jika NasDem memiliki cara tersendiri dalam menggaet pemilih pemula. “Saya kira semua miliki cara masing-masing dan kita berkompetisi dengan cara kita untuk mencari dukungan,” jelasnya.

Juru Bicara DPD Gerindra Sulsel, Syawaluddin Arief memiliki misi bagaimana pemilih pemula bisa ikut andil dalam setiap pesta demokrasi. “Partai Gerindra akan merangkul semua kalangan pemilih pemula dan kita akan perintahkan seluruh caleg setelah penetapan DCT untuk turun melakukan sosialisasi di dapil pemilihan mereka dengan merangkul kalangan pemula,” kata Syawaluddin Arief.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Syahrir Karim mengatakan, pemilih pemula memang menjadi sasaran yang sangat strategis bagi parpol. Dengan jumlah yang cukup banyak tentunya dapat menambah perolehan suara di pemilu mendatang.

“Pemilih pemula itu secara kuantitatif sangat menguntungkan parpol, terutama dalam perolehan suara,” kata dia.

Ia menjelaskan, untuk menarik simpati pemilih pemula tentu tidak sama dengan menarik simpati masyarakat yang sudah berulangkali mengikuti proses demokrasi. Hal inilah yang menjadi tantangan parpol untuk memaksimalkan kerja-kerja dalam rangka menarik simpati pemilih pemula.

“Pemilih pemula ini rata-rata masih labil, tergolong swing voters. Sehingga butuh strategi untuk memikat mereka dengan cara kampanye-kampanye kreatif, memaksimalkan teknologi, dan lain-lain,” jelasnya. (isk-fah/D)


div>