RABU , 17 OKTOBER 2018

Berebut Tahta Tanpa Petahana

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 15 Desember 2016 11:42
Berebut Tahta Tanpa Petahana

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Tahta dan kekuasaan. Niat pengabdian untuk menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Kerja-kerja pencitraan kini gencar dilakukan.

Kontestasi Pilkada 2018 di 12 kabupaten/kota di Sulsel, berpotensi diramaikan oleh puluhan figur terbaik daerah. Figur berlatarbelakang politisi sebagai yang paling dominan. Di luar itu, terdapat pengusaha, profesional dan birokrat.

Dari 12 daerah Pilkada 2018, terdapat lima kabupaten yang tak lagi diramaikan oleh petahana karena sudah menjabat dua periode. Tujuh daerah Pilkada lainnya, hampir pasti kembali diramaikan oleh petahana.

Daerah tersebut meliputi Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Luwu, Kota Makassar, Kota Parepare, Kota Palopo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Jeneponto.

Sementara lima daerah yang akan ikut dalam kontestasi demokrasi lima tahunan tersebut tidak akan diikuti petahan yakni Pinrang, Sidrap, Wajo, Bantaeng, Luwu. Oleh karena itu, kandidat akan berebut dan menunjukkan kekuatan untuk menarik simpati masyarakat untuk melenggang sebagai pemenang dalam pertarungan.

Sejatinya tahapan Pilkada 2018 baru dilangsungkan sekira Desember 2017 dan atau Januari 2018. Namun kerja-kerja sosialisasi, mulai massif dilakukan kandidat cakada (calon kepala daerah), terutama di zona Pilkada non petahana. Terkecuali Sidrap,  empat Pilkada zona non petahana memunculkan rivalitas yang cenderung kompetitif.

Hal itu juga tentu akan membuat diantara kandidat membuka peluang semakin menguat dan tentu juga akan membuat beberapa kandidat akan terbuang. Pasalnya, partai sebagai kendaraan politik tentunya akan berhitung secara matematis terhadap seluruh kandidat yang ada.

[NEXT-RASUL]

Terkait hal itu, Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla, mengatakan, kandidat yang baru muncul untuk maju dan bertarung pada Pilkada sangat berat. Meski, kata dia, pada daerah tersebut tidak diikuti oleh petahana utama.

“Saya pikir itu sangat berat, apapun alasannya. Entah itu, karena Pilkada tidak diikuti oleh petahan utama. Untuk mengangkat elektabilitas kandidat itu sangat berat dikalangan masyarakat pemilih,” kata Adi, Rabu (14/12).

Ia menambahkan, untuk mengangkat elektabilitas pada kondisi yang memungkinkan untuk menarik simpati masyarakat itu memerlukan kerja ekstra. “Mencapai titik elektabilitas dalam kondisi yang baik itu amat berat,” ucapnya.

Untuk itu, kata Adi, kandidat baru yang akan maju pada Pilkada mesti melakukan perkenalan diri kepada masyarakat. Pasalnya, kata Adi, tingkat keterpilihan seorang kandidat juga besar dipengaruhi oleh faktor kedekatan secara figuritas.

“Saya kira kandidat yang baru itu harus secara individu memperkenalkan diri. Karena yang akan dipilih itu adalah figuritas kandidat. Dan ini salah satu cara untuk mendapatkan legitimasi masyarakat adalah membangun citra yang baik,” jelasnya.

Yang kedua, kata Adi, harus melakukan pendekatan dan komunikasi kepada partai politik untuk mendapatkan legitimasi kendaraan politik. Menurut Adi, legitimasi partai politik tersebut tentunya kandidat mesti memenuhi syarat yang telah ditentukan secara organisasi partai yang bersangkutan.

[NEXT-RASUL]

“Saya yakin partai politik itu tidak akan memberikan legitimasi begitu saja, karena pasti akan berhitung juga. Apalagi kan, partai politik itu tidak semata untuk kebutuhan formal saja. Tapi butuh calon untuk memenangkan pertarungan Pilkada,” terangnya.

Meski demikian, Adi menyebutkan beberapa keuntungan bagi kandidat baru yang akan maju pada Pilkada ketika kandidat yang sudah muncul sebelumnya tidak memberikan kontribusi yang lebih baik. Terutama dalam hal membangun kepercayaan publik di masyarakat.

“Jika kandidat yang sudah ada atau pernah bertarung sebelumnya tidak memiliki investasi politik yang besar, maka hal itu tentu akan sangat menguntungkan bagi kandidat baru muncul, karena itu berarti kandidat tersebut masih kurang memiliki kepercayaan,” ulasnya.

Langkah lain yang bisa menguntungkan kandidat baru maupun lama yang akan maju pada Pilkada, kata Adi, adalah melakukan manuver untuk mendapatkan legitimasi dari kepala daerah yang masih berkuasa. Adi menilai, dukungan dari penguasa tentunya akan menjadi magnet tersendiri kepada kandidat yang akan maju pada Pilkada.

“Itu akan menguntungkan kalau mendapatkan figur berpengaruh apalagi ketika itu datang dari seorang Bupati yang sementara berkuasa. Saya kira dukungan yang akan diberikan itu akan memiliki energi kuat. Karena kan bupati itu sudah punya basis massa dan politik yang kuat,” jelasnya.

Menurut Adi, Bupati itu adalah bagian dari infrastruktur politik. Dan instrumen partai dan figur itu akan mempengaruhi tingkat keterpilihan. “Tidak hanya partai, kelompok ormas, tapi juga figur yang berpengaruh seperti itu juga masuk infrastruktur politik. Tidak hanya bersangkutan punya jabatan tapi juga sudah punya basis politik,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Selain itu, langkah lain yang mesti dilakukan oleh kandidat adalah merancang konsep program yang dikomunikasikan kepada publik. Pasalnya, kata dia, khusus bagi pemilih rasional akan memilih berdasarkan program yang ditawarkan oleh kandidat.

“Saya kira tidak boleh mengandalkan infrastruktur politik saja tapi juga mesti program yang ditawarkan itu penting. Sebab hal inilah yang kemudian dikomunikasikan kepada pemilih, dan tentu ini akan menarik simpati jika selaras dengan situasi dan kondisi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Supervisor Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI), Arif Saleh mengatakan dari lima kabupaten yang dipastikan tidak ikuti lagi petahana, persaingannya bakal lebih ketat. “Lima daerah itu pertarungannya ketat, terutama di Wajo, Pinrang, Luwu dan Bantaeng,” sebut Arif.

Menurut Arif, di Wajo ada tiga figur yang memungkinkan saling berhadapan. Mereka adalah Wakil Bupati Andi Syahrir Kube, dr Baso Rahmanuddin, serta mantan Wakil Bupati Amran. Sedang di Pinrang, kata dia, akan muncul nama seperti Abd Latief dan Andi Irwan Hamid.

“Di Pinrang, ada dua nama yang berpotensi akan bersaing ketat. Abd Latief (Sekprov Sulsel) dan Andi Irwan Hamid (Ketua DPC Demokrat). Begitu juga di Bantaeng, ada nama Hadi Djamal, Ilham Syah Azikin, wakil bupati, dan nama lainnya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk Pilkada Luwu, kata Arif, persaingannya juga tak kalah sengit, terutama jika nantinya diikuti kandidat, seperti Buhari Qahhar Mudzakkar, Wakil Bupati Amru Saher, mantan Wakil Bupati Syukur Bijak.

[NEXT-RASUL]

Khusus Sidrap, peluang istri Rusdi Masse, Fatmawati lebih besar dibanding figur lainnya. Mengingat, RMS punya pengaruh signifikan, dan dipersepsikan sukses memimpin Sidrap selama dua periode.

“Kalau RMS mendorong istrinya maju di Pilkada Sidrap, kansnya pasti terbuka. Selain faktor ketokohan, RMS juga dipersepsikan sukses memimpin Sidrap. Begitu juga, RMS pasti total memenangkan kandidat yang didukungnya,” pungkasnya. (E)


Tag
  • pilkada 2018
  •  
    div>