SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Berguru di Kota Solo (Selesai)

Reporter:

Editor:

Niar

Rabu , 08 Maret 2017 21:52
Berguru di Kota Solo (Selesai)

Foto : Ketua TP PKK Parepare, Hj Erna Rasyid Taufan (tengah) menerima cinderamata dari pimpinan PT Sitex,  Budi (kiri)  dan Rudi (kanan), Selasa,  (7/3).  

SOLO, RAKYATSULSEL. COM – Siapa sangka kota kecil yang tak jauh beda dari jumlah penduduknya dengan kota Parepare berdiri megah sebuah perusahaan ternama dan terkemuka di Asia Tenggara. Perusahaan yang dinamai PT Sritex atau kepanjangan dari Sri Rejeki Isman Textil ini telah berhasil bermitra dengan 100 negara serta mempekerjakan 50 ribu karyawan. 

Siapa pula yang menyangka jika perusahaan yang berlokasi di atas lahan 130 hektar di kota Solo, Provinsi Jawa Tengah ini merintis usahanya dari usaha dagang tekstil kecil-kecilan yang didirikan oleh HM Lukminto di pasar tradisional Klewer pada 1966.

“Dari perjalanan ini, sungguh kita memetik sebuah pelajaran berharga jika kesuksesan tidaklah hanya dilihat dari hasil dari sukses itu,  tapi bagaimana proses Bapak Lukminto sebagai pendirinya dalam mencapai kesuksesan itu,” ujar Erna, Ketua Rombongan empat organisasi diboyongnya ke Solo. 
[NEXT-RASUL]

“Kerja keras,  inovatif,  dan tepat waktu menjadikan perusahaan ini terkemuka dan terpercaya di Asia Tenggara,” demikian kutipan dari penayangan profile pendiri PT Sriteks disebut Erna saat diterima oleh Rudi dan Budi,  orang kepercayaan dan Direktur Marketing PT Sriteks ini,  Selasa,  (7/3).

Perusahaan tekstil yang menjadi roda penggerak ekonomi bagi masyarakat Solo ini memunyai empat devisi,  mulai dari pemintalan,  penenunan, pewarnaan, dan konveksi yang menghasilkan 25 juta potong pakaian pertahun. 

Menjaga kualitas dan kepercayaan relasi menjadikan perusahaan ini berhasil menguasai pasar domestik sehingga mampu melakukan ekspansi di lebih dari 10 perusahaan.  

“Lagi-lagi kami mendapat pelajaran berharga dari kunjungan kami ini, karena ternyata Bapak Lukminto yang dulunya beragama Kristen hingga melabuhkan jiwanya menjadi seorang mualaf bersama istrinya dan kemudian melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu, menunaikan haji. Tak hanya bergelar haji,  Bapak Lukminto berhasil mengelolah perusahaannya berbasis kekeluargaan.  Baginya karyawan adalah aset perusahaan yang harus dijaga. Ia tak tanggung-tanggung menyisihkan dana perusahaan untuk memberikan biaya konsumsi perhari bagi 30 ribu karyawan di perusahaan induk di Solo,” terangnya.  
[NEXT-RASUL]

Selain itu,  setiap tanggal 17 di setiap bulannya,  perusahaan ini mewajibkan seluruh karyawan untuk upacara bendera layaknya upacara di hari kemerdekaan. Bahkan,  yang menjadi pelaksana upacara mulai paskibraka,  pemimpin, dirjen, dan lain-lain adalah karyawan perusahaan itu sendiri. 

“Terima kasih sudah mengunjungi kami,  semoga dengan pertemuan kita bisa berlanjut menjadi hubungan pertemanan, mungkin hubungan bisnis,” ujar Rudi, orang kepercayaan PT Sritex yang menjamu rombongan Erna yang didampingi Direktur Marketingnya,  Budi. 

Pada kesempatan itu pula,  Pimpinan PT Sritex yang menyerahkan buku biografi HM Lukminto dengan ketebalan 366 halaman,  CD,  dan kain batik sebagai kenang-kenangan. 

“Dari perjalanan sejak 5 hingga 8 Maret, banyak pelajaran yang dapat kami timba, terkhusus untuk tujuan kami dalam pemberdayaan perempuan Parepare.  Tapi tak cukup itu,  pembentukan religi dan karakter perempuan,  harus dimulai dari pemimpinnya,  salah satunya Ibu-ibu PKK yang nantinya ditularkan melalui karakter yang baik kepada ibu-ibu lainnya,” harap istri Taufan Pawe ini. (nia) 


Tag
div>