KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

Berguru di Solo (2)

Reporter:

Editor:

Niar

Senin , 06 Maret 2017 14:42
Berguru di Solo (2)

Foto : Ketua TP PKK Parepare, Hj Erna Rasyid Taufan saat mencoba membatik di lokasi museum batik Danar Hadi, Surakarta, Jawa Tengah, Senin, (6/3).

SOLO, RAKYATSULSEL. COM- Lain orang, lain karakternya, lain daerah, lain pula potensinya.

Hari kedua berkunjung di kota yang dikenal dengan julukan kota budaya ini rasanya pantas menjadi inspirasi bagi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), PKK, dan Dharmawanita Kota Parepare, pasalnya pengembangan ekonomi kreatif dan cara memelihara dan mengembangkan potensi batiknya adalah contoh yang patut ditiru.

Jika di kota ini, terdapat sebuah potensi kerajinan batik yang dilengkapi dengan museum batiknya yang kini sudah terkenal dan diakui dunia karena berisi puluhan ribu helai kain batik dengan sembilan jenis kain yang mampu mengedukasi pengunjung, maka Parepare pun punya potensi lain yang tak kalah dengan Solo jika dapat dikembangkan dengan sungguh-sungguh.

“Di Parepare ada kerang dan Balai Ainun Habibie yang terletak di Jalan Abdul Jalil Habibie. Gedung Balai Ainun Habibie yang memiliki gedung empat tingkat ini difungsikan sebagai wadah pertemuan dan pemberdayaan organisasi perempuan di Kota Parepare,” kata Erna Rasyid Taufan.
[NEXT-RASUL]

Sementara mengulas mengenai kehadiran museum batik yang bernama Museum Batik Danar Hadi yang terletak di jalan Slamet Riyadi, Surakarta ini kata Erna, adalah bukti jika pengembangan budaya batik sangat dipelihara di kota ini. Bahkan, dengan berkunjung di museum ini, kita disuguhkan sembilan jenis batik yang tidak diketahui jika tidak bertandang ke sana. Sembilan jenis batik tersebut seperti batik Keraton, batik Belanda, batik Indonesia, Saugan Genes, batik Cina, batik pengaruh India, Saudagaran, batik Petani, dan batik Jawa Hokokai.

“Saya tidak melewatkan kesempatan untuk memotret satu persatu jenis kain yang disuguhkan pada 11 ruangan di museum itu. Kita juga bisa menyaksikan bagaimanan cara membatik yang dilakukan orang Solo, bahkan saya sempat mencobanya. Susah memang, tapi dibutuhkan ketelitian dan kesungguh-sungguhan,” kata srikandi yang dikenal ramah kepada semua orang ini.

Demikian pula dengan Parepare, keinginan untuk mengembangkan desain baju yang dihiasi balutan kerang menurut Erna akan menjadi keunikan sendiri bagi Parepare. Dengan bermodalkan kemampuannya sebagai desainer, Erna yakin perempuan Parepare bisa jauh lebih baik dan sejahtera, terlebih sekarang Parepare disokong oleh pembangunan yang mampu mendorong wisatawan berkunjung ke Parepare.
[NEXT-RASUL]

“Saya juga punya mimpi menjadikan Parepare sebagai pusat penjualan sutra di Sulawesi Selatan. Apalagi saat ini kita sudah punya tanaman murbey yang ada di Kelurahan Watang Bacukiki yang dapat mengedukasi orang yang datang berbelanja tentang cara pembuatan sutra, mulai dari penanaman murbey itu sendiri,” terangnya.

Usai berkunjung ke museum batik, rombongan PKK, Dharmawanita, Dekranasda, dan Komunitas Desainer Etnik Indonesia berkunjung ke kediaman Ibunda Jokowi, Presiden RI, Ibu Sudjiatmi.

“Dari kunjungan itu, kami mendapat pelajaran berharga dari kesederhanaan beliau. Sosok yang santun nan sederhana, tak banyak bicara, namun tindakan dan prilakunya telah mampu berbicara banyak, ” ujar istri orang nomor satu di kota Habibie ini.

Sekira dua jam lebih bercengkrama dan berbagi hal dengan Ibunda Jokowi, Erna Taufan bersama Komunitas Desainer Etnik Indonesia yang juga merupakan organisasinya sebagai desainer melaksanakan Rapat Kerja Nasional (rakernas) di Hotel Sahid Jaya, Solo.

“Rakernas ini membahas tentang pengembangan kain lokal di daerah masing-masing,” bebernya. (nia)


Tag
div>