SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Beringin Masih Top

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 22 Desember 2016 11:48
Beringin Masih Top

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Empat kader Partai Golkar siap meramaikan bursa pencalonan pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018 mendatang.

Mereka diantaranya mantan Bupati Gowa dua periode Ichsan Yasin Limpo, Wakil Gubernur Sulsel dua periode Agus Arifin Nu’mang, Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Nurdin Halid, serta Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Golkar Tanribali Lamo.

Hal itu bisa jadi akan membuat dukungan Partai Golkar di Pilgub mendatang tidak akan solid pada satu calon. Bahkan, infrastruktur Partai Golkar didaerah ditengarai akan mengalami perpecahan dukungan. Apalagi, perhelatan Pilgub mendatang bersamaan dengan pelaksanaan Pilkada kabupaten/kota.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu), Kadir Halid mengatakan, Partai Golkar memiliki mekanisme dalam mengusung kader pada Pilkada maupun Pilgub. Oleh karena itu, kata dia, ketika akan diusung oleh Partai Golkar mesti melalui mekanisme tersebut.

“Partai Golkar itu adalah partai yang punya proses dalam mengusung calon baik di Pilgub maupun di Pilkada, dan itu sudah jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai,” kata Kadir, Rabu (21/12).

Oleh karena itu, kata Kadir, setiap kader akan memiliki peluang yang sama untuk diusung oleh Partai Golkar. “Semua kader itu punya peluang dan hak yang sama untuk diusung partai, dan tentu memenuhi standar yang telah ditetapkan. Karena untuk apa kita mengusung kalau tidak ada peluang untuk menang,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Adapun ketika ditanya mengenai adanya peluang dukungan kader akan pecah di Pilgub karena banyaknya kader yang akan berniat bertarung di Pilgub, Kadir mengatakan jika hal itu tidak akan terjadi. Menurutnya, dalam ADART kader harus solid mendukung ketika DPP telah memutuskan usungan di Pilgub.

“Di aturan partai itu sudah jelas. Kalau semua kader harus tunduk dan patuh pada keputusan DPP terkait usungan di Pilkada maupun Pilgub, bahkan sanksinya pun juga jelas, kalau tidak mau mesti keluar dari Golkar,” ungkapnya.

Apalagi, kata Anggota Komisi D DPRD Sulsel itu, jika kader yang duduk sebagai anggota DPRD maka mesti legowo untuk mundur. Pasalnya, kata dia, jika hal itu dilakukan maka DPP yang akan memecatnya secara tidak hormat.

“Saya kira ini juga peringatan bagi anggota DPRD di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Ketika mereka itu tidak ikut aturan partai terutama mengenai dukungan di Pilkada dan Pilgub maka harus merelakan jabatannya, sebab sudah tentu DPP akan melakukan Pergantian Antar Waktu (PAW),” pungkasnya.

Senada dengan Kadir Halid, Wakil Ketua Korbid Kepartaian, Arfandy Idris juga mengaku bahwa Partai Golkar memiliki mekanisme yang jelas dalam mengusung kandidat pada Pilgub. “Saya pikir semua partai itu jelas dan punya mekanisme masing-masing. Termasuk itu juga berlaku di Golkar,” kata Arfandy.

Yang pasti, kata dia, Partai Golkar mengusung kandidat di Pilgub bukan mengarah pada figur atau kandidat secara personal. “Mekanisme utama itu adalah Partai Golkar itu adalah melihat peluang untuk menang. Sehingga kita tidak akan mengarah kepada siapa secara personal, tapi sejauh mana mekanisme itu terpenuhi,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Ketika ditanya mengenai peluang adanya perpecahan dukungan dari kader, Arfandy mengaku jika hal itu bisa saja terjadi. “Saya pikir, berdasarkan pengalaman yang ada mungkin saja pecah. Tapi tentu kader akan mengambil sikap ketika sudah ada keputusan partai, baru kita lihat,” jelasnya.

Menurutnya, jika sudah ada keputusan dari DPP Partai Golkar, maka kewajiban bagi untuk kader memenangkan siapa yang diusung oleh Partai Golkar. Kalau ada keputusan partai yang tidak dilaksanakan oleh kader maka akan ada sanksinya.

“Di partai ada sanksi administrasi seperti teguran. Ada juga bersifat sanksi tindakan yang lebih berat, misalnya diberhentikan sementara. Dan saya pikit mau maju di Pilgub yang berasal dari Golkar itu tau konsekuensinya di partai bagaimana,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPD II Golkar Luwu Utara (Lutra), Arifin Junaid mengatakan empat kader Golkar yang akan maju tersebut adalah kader terbaik Golkar. Bahkan, Arjuna–sapaan akrab Arifin Junaid menilai, keempatnya adalah putra terbaik Sulsel saat ini.

“Saya kira empat kader Golkar itu adalah putra terbaik Sulsel, jadi wajar kalau berniat maju di Pilgub mendatang. Karena memang keempatnya secara kapasitas dan peluang sama-sama mampu menjabat jabatan penting di Sulsel, seperti posisi Gubernur,” kata dia.

Meski demikian, Arjuna mengaku belum bisa memastikan akan mendukung siapa. Yang pasti, kata dia, Partai Golkar memiliki mekanisme tersendiri dalam mengusung dan mendorong kader untuk maju pada Pilkada maupun Pilgub.

[NEXT-RASUL]

“Saya secara pribadi belum bisa memastikan akan mendukung siapa, biarlah waktu yang akan menjawab itu. Apalagi kan Pilgub itu masih lama juga, sehingga situasinya masih belum pasti,” ungkapnya.

Selain itu, Arjuna juga mengaku setiap kader itu punya hak untuk mendukung dan mengusung kader internal maju di Pilgub. Menurutnya, hal itu juga sangat tergantung dari pribadi kader masing-masing.

“Saya secara pribadi akan memberikan komentar setelah pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Lutra, sebab besar kemungkinan saya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Golkar Lutra. Namun, tentu saya akan tetap memberikan saran dan kritikan baik soal Pilgub maupun hal yang lain, tapi dengan cara yang beretika tentunya,” pungkasnya. (E)


div>