SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Bertaruh Harta Demi Suara

Reporter:

Suryadi Maswatu - Fahrullah

Editor:

Iskanto

Selasa , 30 Oktober 2018 07:00
Bertaruh Harta Demi Suara

Ilustrasi (rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masa kampanye merupakan masa yang paling mahal dalam Pemilu. Termasuk pada Pemilu 2019 mendatang.

Para calon legislatif (Caleg) harus merogoh kocek lebih dalam bersosialisasi. Belum lagi pengadaan Alat Peraga Kampanye (APK) yang bisa menghabiskan ratusan juta rupiah. Serta membiayai tim hingga biaya operasional dan saksi di TPS kelak.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) pernah melakukan riset. Hasilnya, kisaran biaya yang diperlukan untuk memperebutkan kursi DPR RI mulai dari Rp 750 juta hingga Rp 4 miliar.

Jika dirata-rata, nilainya mencapai Rp1,18 miliar. Dan rata-rata caleg DPR RI berani bertaruh miliaran rupiah untuk mendapatkan satu kursi.

Caleg incumbent DPR RI dari Fraksi PDIP, Andi Ridwan Wittiri (ARW) tidak membantah mahalnya ongkos kampanye setiap gelaran Pemilu.

Hal itu, kata dia sudah sesuai dengan berbagai kegiatan dan kebutuhan para caleg. Namun, ia enggan menyebutkan berapa nilai rupiah yang ia siapkan.

Caleg DPR RI Dapil Sulsel I itu mengaku jika ongkos politik pada Pileg 2019 mendatang jauh lebih mahal ketimbang Pileg 2014 lalu. “Seperti untuk biaya produksi berbagai hal, mulai sosialisasi, APK dan kebutuhan lainnya. Kalau nominal rahasia, tahun ini agak besar,” ujarnya, Senin, (29/10/2018).

Ketua PDIP Sulsel mengaku maju sebagai wakil rakyat demi memperjuangkan aspirasi masyarakat. “Aspirasi itu tanpa batas, mau dapil manapun tidak ada masalah. Kami akan perjuangkan ke pemerintah pusat,” sebutnya.

ARW menegaskan, agar wakil rakyat tidak hanya memberikan janji semata kepada masyarakat. “Wakil rakyat harus aktif menyapa konstituen yang memilih mereka, jangan sampai ingkar pada janjinya,” tuturnya.

Caleg incumbent lainnya, Amir Uskara yang juga maju di Dapil Sulsel I mengaku sudah menyiapkan amunisi sesuai kebutuhannya. “Tentu ada persiapan finasial,” kata Caleg PPP tersebut.

Wakil Ketua Umum PPP itu menambahkan, pilihan kembali ke masyarkaat tergantung mekanisme pendekatan para Caleg. “Turunnya kepercayaan masyarakat terjadi pada caleg jika komunikasi belum maksimal. Inilah tugas fungsionaris partai dan Caleg bagaimana meyakinkan masyarakat agar bisa meraih simpati kembali,” sebutnya.

Caleg DPR RI yang juga pendatang baru, Risman Pasigai mengaku banyak hal bisa dilakukan tanpa mengandalkan finansial.

Menurutnya, finansial hanya kebutuhan penunjang untuk memenuhi berbagai kegiatam yang dicanangkan. “Memang semua butuh finansial, tapi tidak hanya itu, ada banyak hal bisa kita lakukan agar dekat dengan masyarakat,” tuturnya.

Politisi Partai Golkar itu menuturkan, setiap sosialisasi pihaknya menyasar pemilih pemula atau zaman now. Menurutnya, pemilih milenial punya peran penting dalam menentukan figur-figur wakil rakyatnya di legislatif.

“Pemilih milenial representasi pemuda. Kemampuannya tidak diragukan lagi. Mereka inovasi, kreatif dan visioner,” katanya.

Risman melihat kultur politik di Indonesia saat ini, belum ada ruang besar bagi anak muda dalam berbagai kontestasi politik. Karena, pilihan politik masih sangat ditentukan oleh kedekatan emosional, kultural dan geng. “Padahal idealnya orang menentukan pilihan itu karena visi dan misinya, karena inovasinya,” terang Jubir Golkar Sulsel ini.

Risman percaya diri dapat bersaing dengan sejumlah caleg yang berasal di dapil yang sama dengan dirinya. Ia tidak pernah minder dan takut bersaing dengan sejumlah tokoh Partai Golkar yang juga masuk dalam daftar Caleg di Dapil Sulsel 1.

“Saya ikut Pileg menjadi perwakilan aspirasi pemuda nantinya. Doakan saja semoga ada anak muda menjadi wakil rakyat dari Dapil Sulsel I,” tutur Risman Pasigai.

Pendatang baru lainnya, Nasran Mone optimis akan meraih 70 ribu suara dalam Pileg 2019 mendatang.

Cak Mon–sapaan akrabnya mengatakan jika tim pemenangannya sudah berjalan disemua kabupaten yang masuk di Dapil Sulsel I. Seperti di Kabupaten Gowa, Jeneponto dan Kota Makassar.

“Insya Allah kita optimis akan meraih suara sekitar 70 ribu di Dapil 1 Sulsel. Alhamdulillah masyarakat menerima saya dengan baik khususnya di 3 kabupaten itu,” ucap Politisi Partai Perindo itu.

Pemilik jargon ‘Tabe Nakke Tosseng’ ini mengakui, dirinya maju sebagai caleg DPR RI berkat doa dan dorongan penuh dari masyarakat.
“Sekarang masyarakat sudah cerdas melihat dan memilih calon wakil mereka di legislatif nanti, dan majunya saya sebagai caleg, murni desakan masyarakat yang menginginkan saya memiliki kuasa mewakili aspirasi mereka di pusat,” pungkasnya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Andi Ali Armunanto mengatakan, tingginya ongkos politik karena tidak lepas dari parpol sendiri dalam mencari suara.

“Membangun jejaring, komunikasi, tim pemenangan tidak murah, sehingga ongkos politik mahal,” katanya.

Menurutnya, perilaku caleg yang menghambur-hamburkan uang sudah dilakukan oleh caleg-caleg pendahulu mereka, sehingga pandangan masyarakat siapa yang memberikan uang, itu yang dipilih.

Ia mengaku pernah mendapat informasi pada Pileg 2014 lalu jika ada salah satu caleg yang mengeluarkan uang hingga Rp 12 miliar dengan membeli suara tapi tidak terpilih. “Melakukan jual beli suara mempengaruhi cara pandang masyarakat,” jelasnya. (*)


div>