SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Bertarung di Primary New York, Hillary-Trump Sama-Sama Klaim Menang

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 20 April 2016 11:59
Bertarung di Primary New York, Hillary-Trump Sama-Sama Klaim Menang

int

RakyatSulsel.com — Gelaran primary menuju panggung pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) memasuki babak penentuan. Kemarin (19/4) Partai Republik dan Partai Demokrat sama-sama melangsungkan pemilihan di Negara Bagian New York. Bagi Hillary Clinton dan Donald Trump, memenangi primary New York adalah keharusan.

Pernah dua kali menjabat senator di Kota Big Apple itu, Hillary optimistis meraup dukungan maksimal. Sedangkan Trump, yang lahir di Kota New York, merasa tidak perlu lagi meragukan dukungan sesama warga. Kemarin tempat pemungutan suara (TPS) buka mulai pukul 06.00 sampai 21.00 waktu setempat. Yakin dengan kemenangan masing-masing, Hillary dan Trump menjadwalkan pesta di Manhattan.

Sebenarnya, bila dibandingkan dengan Hillary, Bernie Sanders lebih berbau New York. Sebab, politikus 74 tahun itu lahir di kota berpenduduk sekitar 8,5 juta tersebut. Karena itu, tidak heran jika senator Negara Bagian Vermont tersebut punya keyakinan yang sama dengan Hillary tentang nasibnya di primary New York kali ini.

”Kita semua punya peran penting bagi AS. Itulah inti dari seluruh rangkaian pemilihan ini. Karena itu, mencobloslah,” kata Hillary.

Sayang, dalam primary kemarin, hanya mereka yang sudah terdaftar sebagai pemilih yang boleh menyumbangkan suara. Total, ada 5,8 juta pemilih Demokrat dan 2,7 juta pemilih Republik. Kali ini mereka yang bukan Demokrat atau bukan Republik alias independen tidak punya suara. Aturan tersebut menguntungkan Hillary, yang memang mendapatkan dukungan politis dari penduduk New York.

Pada 2008, saat bersaing dengan Presiden Barack Obama, Hillary juga menang di New York. Meskipun kemenangan itu akhirnya sia-sia karena Obama mendapatkan jauh lebih banyak dukungan dari seluruh penjuru Negeri Paman Sam. Hingga H-1 pencoblosan di New York, Hillary masih berusaha memenangi dukungan warga lewat serangkaian kampanye dan acara ramah tamah.

[NEXT-RASUL]

Saat ini, Hillary mengantongi dukungan dari 1.790 delegate. Sedangkan Sanders mengamankan dukungan dari 1.113 delegate. Itu terjadi berkat tujuh kemenangannya atas Hillary dalam delapan primary terakhir.

Namun, untuk bisa menjadi calon presiden (capres) Demokrat, Sanders masih harus memperjuangkan dukungan dari 1.270 delegate. Sebab, Demokrat mewajibkan capresnya mengantongi minimal 2.383 suara delegate.

Sanders berharap bisa unggul atas Hillary. Sebab, suara New York merupakan salah satu yang paling signifikan bagi Demokrat. Setidaknya, dengan menang di New York, dia bisa mengamankan dukungan 291 delegate. Dengan demikian, dia masih bisa terus melanjutkan perjuangan dan bertarung melawan Hillary dalam serangkaian primary yang masih tersisa.

Tapi, menjelang pencoblosan, Sanders menyiratkan dukungan kepada mantan first lady AS itu. Dengan legawa, dia mengaku akan memberikan suaranya jika pada akhirnya memang tokoh 68 tahun itulah yang menang di New York. ”Ini jalur dua arah. (Jika dia menang, Red), kubu (Hillary) Clinton akan memberitahukan kepadanya poin-poin penting saya,” ujarnya.

Sementara itu, pertarungan di kubu Republik tidak seseru Demokrat. Trump yang unggul dalam berbagai jajak pendapat masih berada di atas Ted Cruz dan John Kasich. RealClearPolitics misalnya. Lembaga itu memprediksi kemenangan Trump 53,1 persen. Sedangkan Cruz berada di posisi ketiga dengan dukungan hanya 18,1 persen. Lebih sedikit daripada suara untuk Kasich yang berkisar 22,8 persen.

Kemarin dukungan 95 delegate menjadi pertaruhan bagi trio kandidat capres Republik tersebut. Khusus bagi Trump, sekelompok warga New York menyuarakan aspirasi. Mereka menolak taipan 69 tahun itu. Khususnya terkait dengan pandangan politik dan visinya tentang imigran serta Islam. Mantan Gubernur New York George Pataki dan Michael Bloomberg juga berada di kubu anti-Trump.

[NEXT-RASUL]

Kami, warga kota ini, hidup berdampingan dalam damai satu sama lain. ”Tapi, Donald Trump malah mengusung pesan yang bertentangan dengan integrasi kami,” kritik Keith Wright, politikus Demokrat dari Manhattan.

Hal yang sama dipaparkan Ron Kim, aktivis berdarah Asia. Jika menang di New York, Trump akan punya kartu sakti untuk mematahkan suara mayoritas dalam konvensi yang sudah mengarah ke pemblokirannya. (AFP/Reuters/CNN/BBC/c11/hep/ami)


div>