RABU , 23 MEI 2018

Betapa Rapuhnya Sistem Pendidikan Kita?

Reporter:

Editor:

om Choel

Jumat , 22 Desember 2017 11:05
Betapa Rapuhnya Sistem Pendidikan Kita?

IST BERI PEMAPARAN. Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan saat menjadi pembicara di forum Wow Service Makassar Day oleh Markplus.inc, di Hotel Horison, Makassar, beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Gowa kembali meraih penghargaan pelayanan di Bidang Pendidikan dari Markplus.Inc.

RISAUKAH Adnan Purichta Ichsan SH MH dengan sistem pendidikan kita? Ataukah orang nomor satu di daerah ini, Gowa, menggugah sistem pendidiikan yang ada! Entahlah. Tapi dia memahami betul, bahwa sistem pendidikan dasar kita sekarang ini sangatlah rapuh. Itu  jika dibandingkan dengan sistem pendidikan yang ada di negara-negara Asia lainnya. Pelayanan pendidikan kita masih berorientasi pada filosofi pedagogy of the oppresed yang memaksakan, menekan, bahkan menindas dunia anak kita. Kebebasan peserta didik dalam mengembangkan kepribadiannya sebagaimana yang dianjurkan oleh filosofi humanisme yang juga menempatkan peserta didik sebagai subjek dalam pendidikan masih sangat dominan. (baca di tulisan terdahulu)

Karena itu, perlunya ada pendekatan yang dilakukan, di mana kita harus memahami bahwa kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh warisan genetik saja, tetapi juga pada pengasuhan, dan peransangan lingkungan, melalui stimulus yang kaya oleh lingkungan belajar tempat anak tumbuh dan berkembang. Warisan genetik merupakan kehendak dari sang pencipta, dan kita tidak punya campur baur di dalamnya. Namun dengan menata lingkungan belajar, peluang itu menjadi milik kita sehingga hal yang bisa kita lakukan untuk membantu mencerdaskan generasi untuk keemasan. Ruang bagi anak-anak, adalah  untuk melakukan eksplorasi yang sebanyak banyaknya melalui kegiatan bermain yang pada gilirannya akan menghasilkan generasi unggul. Melalui kegiatan bermain anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Ada berbagai macam keterampilan yang akan berkembang pada diri anak melalui bermain antara lain motoric kasar dan motorik halus, pelaran, sosial, daya imajinasi dan fantasi, kreatifitas, bahasa dan seni serta moral keagamaan.

Fun and play is more important. Bermain adalah sarana bagi anak untuk bereksplorasi mengenal lingkungannya dan mengekspresikan dirinya. Bermain menjadi tempat bagi anak untuk menemukan eksistensi dirinya sekaligus melatih seluruh potensi unik yang dimiliki oleh anak. Melalui kegiatan bermain kecerdasan emosional, kecerdasan social, dan kecerdasan spiritual terbentuk dengan sukses dan itu semua melalui bermain. Bermain memberikan konstribusi yang signifikan terhadap perkembangan anak khususnya pada usia keemasan.

Dengan bermain, ada banyak hal yang dapat dikembangkan oleh anak antara lain: Kesatu; adaanya kesadaran personal (personal awareness) seperti kemandirian, control diri dan lingkungan, kesehatan dan keamanan. Kedua; Menjadi manusia yang utuh secara emosional (emotional well being) seperti keterampilan menghadapi masalah, kepribadian, pengembangan nilai-nilai empati, kepercayaan, penghargaan dan lainnya. Ketiga; Mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Melalui kegiatan bermain anak akan belajar untuk bersosialisasi dengan teman bermainnya bahkan dengan orang dewasa, akan bekerjasama dan menghargai orang lain. Keempat; Mengembangkan komunikasi baik bahasa reseptif (mengikuti instruksi, memahami), bahasa ekspresif (mengekspresikan perasaan, kebutuhan) serta komunikasi nonverbal. Kelima; Mengembangkan kognisi.

Untuk menjadikan proses pembelajaran berjalan dengan baik, diperlukan metode pembelajaran merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran yang digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan di capai. Karakteristik peserta didik untuk sasaran IMTAQ yaitu kelas 1 dan 2 memiliki keunikan. Sasaran Program Iman dan Taqwa Indonesia (IMTAQ INDONESIA) yaitu Kelas 1 dan 2 sekolah dasar yang selain merupakan masa keemasan (Golden Age’s) juga pada usia ini mengalami masa transisi pembelajaran yang berbasis aktivitas dan permainan.

Pada hakikatnya anak-anak selalu termotivasi untuk bermain. Artinya bermain secara alamiah memberi kepuasan kepada anak. Melalui bermain bersama dalam kelompok atau sendiri tanpa orang lain, anak mengalami kesenangan yang lalu memberikan kepuasan baginya. Karakteristik bermain anak.

Metode Bermain Anak

  1. Bermain relatif bebas dari aturan-aturan, kecuali anak-anak membuat aturan mereka sendiri;
  2. Bermain dilakukan seakan-akan kegiatan itu dalam kehidupan nyata;
  3. Bermain lebih memfokuskan pada kegiatan atau perbuatan dari pada hasil akhir atau produknya;
  4. Bermain memerlukan interaksi dan keterlibatan anak-anak.

Bermain itu alamiah dan spontan, anak-anak tidak diajarkan bermain. Anak bermain dengan benda apa saja yang ada disekitarnya dengan bahan tongkat kayu, ranting, sapu, bahkan juga dengan tanah dan lumpur. Terdapat enam karakteristik bermain anak:

  1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksudnya ialah muncul berdasarkan keinginan pribadi anak.
  2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi yang positif. Jika emosi positif tidak tampil, setidaknya kegiatan bermain mempunyai nilai bagi anak.
  3. Adanya fleksibilitas yang ditandai dengan mudahnya kegiatan beralih dari suatu aktivitas kepada aktivitas yang lainnya.
  4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung daripada hasil. Saat bermain perhatian anak lebih terpusat pada kegiatan yang berlangsung dibandingkan tujuan yang ingin dicapai.
  5. Bebaskan anak memilih. Elemen memilih bermain ini merupakan ciri khas terpenting bagi konsep bermain kepada anak-anak. Misalnya, anak menyusun balok disebut bermain manakala dilakukan atas kemauan sendiri.
  6. Mempunyai kualitas kepura-puraan. Kegiatan bermain mempunyai struktur kerangka tertentu yang memisahkannya dari kehidupan sehari-hari. Hal ini berlaku terhadap semua bentuk kegiatan bermain, seperti bermain peran, modeling, atau permainan simbolik, menyusun balok, menyusun kepingan gambar, dan kegiatan lainnya.

 

MODEL PEMBELAJARAN IMTAQ

Model yang dikembangkan di program IMTAQ Indonesia yaitu model bermain. Kegiatan bermain bagi anak adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi bagian dari perkembangan anak. Menurut Mutiah (2010: 91) bahwa bermain yang dilakukan dengan rasa senang dan menyenangkan akan menghasilkan proses belajar pada anak dan membantu anak berkembang secara optimal. Bermain bagi anak usia dini adalah menyenangkan, bergembira, rileks, ceria, sukacita, mendidik, dan dapat menumbuhkan aktivitas dan kreativitas. Aktivitas itu harus sekaligus melibatkan berbagai unsur sensori terutama pendengaran, penglihatan, pikiran dan aktivitas motorik kasar maupun motorik halus. Dengan bermain, emosi, sosial, daya pikir, fantasi dan imajinasi anak akan berkembang.

Kegiatan bermain adalah suatu kegiatan yang memberikan pengalaman pada anak untuk membangun dunianya sendiri yang dapat dihuni sambil terus memekarkannya melalui berbagai fungsi mental dan emosional. Bermain merupakan kegiatan yang diulang-ulangi demi kesenangan. Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, tanpa tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Belajar dengan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktikkan dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terkira banyaknya. Anak bermain karena mereka perlu memanipulasi dan bereksperimen untuk melihat apa yang terjadi, bagaimana sesuatu itu berproses dan berfungsi dalam kehidupannya.

Kegiatan bermain dilakukan atas dasar suatu kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan bermain dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar. Sebagian orang menyatakan bahwa bermain sama fungsinya dengan bekerja. Meskipun demikian, anak memiliki persepsi sendiri mengenai bermain. (Harlock, 1978: 320).

Bermain mempunyai makna penting bagi pertumbuhan anak. Ada enam belas nilai bermain bagi anak, yaitu: (1) bermain membantu pertumbuhan anak; (2) bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela; (3) bermain memberi kebebasan anak untuk bertindak; (4) bermain memberikan dunia khayal yang dapat dikuasai; (5) bermain mempunyai unsur berpetualang didalamnya; (6) bermain meletakkan dasar pengembangan bahasa; (7) bermain mempunyai pengaruh yang unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi; (8) bermain memberi kesempatan untuk menguasai diri secara fisik; (9) bermain memperluas minat dan pemusatan perhatian; (10) bermain merupakan cara anak untuk menyelidiki sesuatu; (11) bermain merupakan cara anak mempelajari peran orang dewasa; (12) bermain merupakan cara dinamis untuk belajar; (13) bermain menjernihkan pertimbangan anak; (14) bermain dapat distruktur secara akademis; (15) bermain merupakan kekuatan hidup; (16) bermain merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup manusia.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukai, dapat bereksperimen sesuai yang anak inginkan dan dengan bermain dapat menstimuli semua aspek perkembangan pada anak yaitu dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, nilai dan sikap hidup.

Permainan mempunyai arti sebagai sarana mengsosialisasikan diri anak, mengukur kemampuan dan potensi diri anak. Bermain juga dapat menunjukkan bakat, fantasi, dan perwujudan emosi (Mutiah, 2010: 113). Bermain yang efektif adalah bermain secara alamiah, murah, mudah dan memanfaatkan bahan-bahan yang bersumber dari lingkungan sekitar anak.

Aktivitas bermain bagi anak merupakan sesuatu yang sangat penting. Melalui kegiatan bermain anak dapat mempelajari banyak hal tanpa ia sadari dan tanpa ada beban. Menurut Rachmawati (2010:42) bahwa melalui bermain anak dapat mengenal aturan, bersosialisasi, menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, mengalah, sportif, dan sikap-sikap positif lainnya termasuk pengembangan kecerdasan mental, bahasa dan motorik anak.

Melalui aktifitas bermain yang dilakukan oleh anak melalui bimbingan dari orang dewasa dapat merangsang emosi, sosial, daya pikir, fantasi dan imajinasi anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Harun (2009: 83) bahwa bermain merupakan wahana untuk: (1) menemukan dan mengenali lingkungannya serta dirinya; (2)  membangun konsep; (3) meningkatkan kecerdasan kognitif; (4) kecerdasan sosial dan emosional anak; (5) bereksperimen dan bereksplorasi.

Bermain memberikan banyak manfaat bagi anak, selain memberikan rasa kesenangan bagi anak, bermain juga menjadi ajang untuk anak menyalurkan energinya, sarana untuk menyiapkan hidupnya kelak, melalui bermain anak dapat melepaskan emosi dan perasaannya, serta bermain dapat memberi stimulus pada pembentukan kepribadian. Manfaat bermain bagi anak yaitu: (1) Belajar ingin tahu segala sesuatu dari apa yang ada di lingkungannya; (2) Melatih emosional dan sosialnya; (3) Membangun komunikasi dan kerjasama antar anak; (4) Membangun fantasi dan imajinasi; (5) Santai, rileksasi dan puas; (6) Melatih kreativitas berpikir dan berbuat; dan (7) Melatih konsentrasi mereka. (***)


Tag
div>