KAMIS , 13 DESEMBER 2018

BI Pesimistis Ekonomi Sulsel Bisa di Angka 8 Persen

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

doelbeckz

Senin , 05 Desember 2016 18:02
BI Pesimistis Ekonomi Sulsel Bisa di Angka 8 Persen

Suasana High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulsel dan Kabupaten/Kota se-Sulsel di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Senin (5/12). foto: ashar abdullah/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bank Indonesia (BI) pesimistis pertumbuhan ekonomi Sulsel bisa di angka 7,6-8 persen di tahun 2017. Meskipun bisa dicapai, persyaratannya sangat berat.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wiwiek Sisto Hidayat, mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi ekonomi global. Di Amerika Serikat, terutama saat terpilihnya Donald Trump, ada beberapa kebijakan perekonomian yang berubah. Sementara di Eropa, terutama akibat dampak Brexit, mengakibatkan perkembangan perekonomian dunia belum terlalu menggembirakan untuk bisa mensupport perekonomian kita.

“Di sisi domestik, kita sadar ekonomi kita tumbuh dengan baik di Triwulan II yang lalu, tetapi kita juta masih menghadapi beberapa hambatan terutama dari sisi standing dari pemerintah terkait APBN dan juga beberapa sektor ekonomi yang juga masih mengalami kendala di 2016. Sementara, memang proyeksi yang dilakukan badan-badan internasional maupun lembaga domestik untuk perekonomian 2016 memang tidak terlalu menggembirakan, hanya di sekira 5-5,1 persen, sementara di 2017 secara nasional juga masih belum terlalu optimistis. Hanya sedikit mengalami recovery di 5,1-5,3 persen,” jelas Wiwiek, dalam laporannya saat High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulsel dan Kabupaten/Kota se-Sulsel di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Senin (5/12).

Wiwiek mengungkapkan, ekonomi Sulsel tumbuh di atas rata-rata hampir sepuluh tahun terakhir. Meskipun di Triwulan III, agak sedikit menurun menjadi 6,82 persen dari Triwulan II yang mencapai 8,02 persen.

“Satu penurunan yang cukup drastis di Triwulan III dari 8,02 persen ke 6,82 persen. Ini menjadi agak sulit bagi kami nanti untuk memproyeksikan perekonomian Sulsel di rest 2016 – 2017 karena memang penurunan di Triwulan III yang cukup drastis di luar proyeksi kita semua,” imbuhnya.

Meskipun mengalami penurunan, lanjut Wiwiek, pangsa ekonomi Sulsel masih besar. Secara nasional, Sulsel mengcover 3,12 persen, untuk KTI 15,96 persen, sementara Sulawesi lebih dari 50 persen.

“Memang inilah yang kita jadikan tonggak bagaimana kalau kita mengembangkan ekonomi Sulsel termasuk KTI itu, untuk Sulsel menjadi motor penggerak di Indonesia,” lanjutnya.

[NEXT-RASUL]

Wiwiek mengatakan, Kabupaten Selayar, Sinjai, dan Takalar, mengalami pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di Sulsel. Tapi kalau dilihat pangsanya, Makassar tetap berkontribusi paling besar, yakni 33 persen disusul Luwu Timur, dan Bone.

“Untuk meningkatkan ekonomi Sulsel di akhir tahun ini, kami memang tidak membuat gebrakan terlalu tinggi karena ekspansi dari APBD belum begitu baik. Di Triwulan III ini masih 57,2 persen. Hingga akhir Desember itu, kami mengharapkan kalau bisa APBD bisa 95 persen. Ini akan memberikan pertumbuhan ekonomi di Triwulan IV di angka 7 – 7,4 persen. Artinya, apakah bisa lebih tinggi dengan pertumbuhan ekonomi 2015, nanti kita lihat. Dari sisi APBD, kita harapkan jadi sumber pertumbuhan ekonomi di Triwulan IV,” urainya.

Wiwiek menjelaskan, perekonomian Sulsel di tahun 2017 hanya akan tumbuh di kisaran 7,2 – 7,6 persen. Ada sedikit peningkatan, dengan asumsi misalnya dari sisi suplai pertanian, industri, konstruksi dan pertambangan. Termasuk perbaikan harga komoditi dunia seperti coklat dan nikel.

Wiwiek mengakui, pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen akan sulit dicapai. BI mencoba melakukan exercise, dengan membuat proyeksi yang optimistis untuk mencapai angka 7,6 – 8 persen. Tapi, persyaratannya memang agak berat. Pertumbuhan yang diharapkan dari sektor utama, apakah itu pertanian, perikanan, kehutanan dan konstruksi, industri pengolahan dan penggalian, harus ada recovery dari sisi ekspor utama. Nikel harus ada recovery dari harga yang diperkirakan cukup tinggi sehingga akan berat untuk sampai kesana.

“Ini memang satu upaya yang sangat sulit dicapai,” imbuhnya.

Dari sisi harga-harga barang, perkembangan inflasi, BI melihat bahwa sampai dengan November cukup baik. Sulsel mengalami inflasi 0,47 sedikit di atas nasional 0,45 persen. Tetapi kalau melihat dari sisi yoy, inflasi nasional ada di angka 3,58 persen atau masih dibawah dari target sasaran 4,1 persen dan angka year to date 2,63 persen.

“Meskipun di angka 2,63 persen, kita masih punya satu bulan di Desember ini. Biasanya merupakan salah satu puncak inflasi. Kalau mengacu pada history data yakni Desember 2015, inflasi di 2016 bisa 3,3 sampai 3,5 persen,” tuturnya.

Adapun beberapa komoditi penyumbang inflasi di bulan Oktober, yakni cabe rawit. Di Makassar, Palopo, Parepare, dan Bulukumba, holtikultura menyumbang inflasi di bulan November. Pada periode Januari – November, penyumbang terbesar inflasi di hampir semua daerah adalah cabe, ikan, dan beras. Sementara, kalau dilihat dari daerah penyumbang inflasi, Bulukumba, Palopo dan Parepare cukup tinggi.

Sementara, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, mengatakan, secara nasional terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di Triwulan III. Salah satu cara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, mempercepat anggaran yang telah terprogram.

“Tadi saya cek, ternyata di level operasional tetap jalan. Tadi saya cek berapa anggaran yang sudah cair, sudah 74,2 persen. On proses sampai Desember, bisa di kisaran 95 persen. Ini harus saya pantau terus. Triwulan IV ini sebenarnya sudah jalan tapi belum bisa diukur,” kata Agus. (***)


div>