SENIN , 19 NOVEMBER 2018

BI Sosialisasi Rupiah Baru ke Sekolah Difabel

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 19 April 2017 10:12
BI Sosialisasi Rupiah Baru ke Sekolah Difabel

SOSIALISASI - Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) cabang Sulawesi Selatan melakukan sosialisasi uang rupiah baru emisi 2016, di kalangan penyandang disabilitas beberapa waktu lalu. (IST)

MAKASSAR, RakyatSulsel.com– Meningkatkan akses pengenalan uang rupiah baru emisi 2016, khususnya di kalangan disabilitas, Bank Indonesia terus meningkatkan sosialisasi.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) cabang Sulawesi Selatan Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah atau yayasan difabel di kota Makassar. Menurutnya, sosialisasi yang dilakukan ke berbagai sekolah atau yayasan difabel dalam rangka memenuhi Undang-undang nomor 19 tahun 2011 tentang hak penyandang disabilitas. “Sosialisasi uang rupiah emisi 2016 ke seluruh lapisan masyarakat di NKRI ini adalah salah satu bentuk komitmen BI untuk meyakinkan bahwa uang rupiah baru benar-benar telah diketahui keberadaannya,” ujar wiwik, Selasa (18/4).

Oleh karena itu, kata Wiwik sosialisasi dan pengenalan uang rupiah emisi 2016 juga diberikan kepada antara lain panti-panti asuhan sekitar Makassar. “Beberapa hari yang lalu, kami sosialisasi ke Yayasan penyandang tuna netra. Dan antusiasnya sangat bagus karena mereka juga mau kenal uang emisi baru 2016,” bebernya.

Ia menyebutkan, pengenalan uang emisi tahun 2016 ini bagi kalangan difabel dilakukan dengan cara menggunakan alat pengenal atau fitur blind code, yang merupakan kode-kode tertentu yang bisa digunakan oleh tunanetra mengidentifikasi nilai uang rupiah baru tersebut. “Kita sematkan dalam uang rupiah kita sehingga dapat benar-benar diketahui dan dipahami oleh saudara-saudara kita yang tidak bisa melihat secara jelas. Untuk kode tuna netra terdapat mulai dari mata uang Rp. 1.000, 2.000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000 dan 100.000,” jelasnya.

Ia menjelaskan, setiap kode pada mata uang dibuat garis timbul sehingga setiap garis di pecahan uang dapat diketahui nominalnya. “Seperti misalnya, pecahan uang Rp 100.000 memiliki garis dua disisi kanan, sedang pecahan Rp.50.000 memiliki garis empat, dan pecahan mata uang lainnya memiliki jumlah garis yang berbeda” katanya.

Menurutnya, difabel tidak perlu lagi meminta bantuan kepada yang normal untuk mengetahui nominal uang rupiah. “Cukup diraba, nominal uang dapat diketahui,” bebernya.

Ia menyebutkan, sekolah-sekolah atau yayasan difabel yang telah telah dikunjungi diantaranya di Sekolah Luar Biasa Negeri pembina Provinsi Sulsel dan Yayasan Tuna Netra Indonesia di Makassar. “Kami sedang mengindentifikasi dan berkordinasi dengan beberapa sekolah difabel yang berada di Makassar dan kota-kota lainnya sehingga sosialisasi dan komunikasi mengennai uang cetakan baru ini dapat lebih diketahui oleh semua lapisan masyarakat,” katanya.

[NEXT-RASUL]

Selain itu, Wiwik menambahkan mata uang lama dan baru untuk kode tuna netra memiliki bentuk yang berbeda.

“Mata uang lama memiliki kode berupa kotak dan bulat, sementara mata uang baru terdiri garis yang bervarian terhadap nominal uang. Kami berharap semua masyarakat mengenal mata uang, mana yang asli mana yg palsu. Termasuk tuna netra, kini kode tuna netra adalah salah satu pengaman yang tidak dapat dipalsukan,” pungkasnya. (D)


div>