SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Binaan Dinas Ketahanan Pangan Jual Hasil Pertanian ke Pasar Modern

Reporter:

Editor:

Iskanto

Selasa , 30 Oktober 2018 08:40
Binaan Dinas Ketahanan Pangan Jual Hasil Pertanian ke Pasar Modern

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar Sri Sulsilawati. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sebanyak Tujuh Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam lorong binaan Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar, dipercaya untuk memasok buah dan sayuran ke salah satu pasar modern yang ada di Makassar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar Sri Sulsilawati, mengatakan bahwa untuk tahap pertama, pihaknya baru memasok satu pasar swalayan. Jika hasilnya positif, maka pihaknya akan melanjutkan kerjasama dengan swalayan-swalayan lainnya.

Dijelaskannya bahwa, buah dan sayuran yang berasal dari petani lorong tersebut terlebih dahulu akan dikemas dengan baik, agar memenuhi standar di pasar modern.

“Untuk tahap pertama kita bekerjasama dengan Swalayan Gelael dulu. Setelah ini berjalan bagus, maka selanjutnya kita akan buka peluang kerja sama dengan pasar modern lain,” kata Sri Sulsilawati, Senin (29/10).

Adapun komoditas yang berhasil diproduksi petani lorong di Kota Makassar antara lain cabe, kol, okra dan sawi.

“Bahkan ada petani yang berhasil menanam bawang,” kata Sri.

Tujuh KWT yang telah bekerjasama dengan Swalayan Gelael adalah, Kelompok Tani Lontara Balang Baru, Kelompok Tani Teratai Timungang Lompoa, Kelompok Tani Melati Lajangiru, Kelompok Tani Dahlia Wajo, Kelompok Tani Dewi Sari Tamalanrea, Kelompok Tani Citra Tello dan Kelompok Tani Melati Bangkala.

Sri mengakui jika hasil produksi petani lorong di Kota Makassar ini telah melalui proses yang sangat panjang, mulai dari proses pembibitan, menanam, pemeliharaan, panen, sampai pemasaran. Namun, dengan semangat hidup hijau, semua bisa dilalui, bahkan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

“Dengan semangat yang ditunjukkan inilah, Makassar sudah bisa disejajarkan dengan kota dunia lainnya,” ujarnya.

Kelompok tani yang umumnya kaum perempuan dan ibu rumah tangga ini, lanjut Sri, berhasil mengubah pola pikir masyarakat. Mereka berhasil memanfaatkan lahan sempit dalam lorong untuk memproduksi hasiol pertanian.

“Meski Makassar bukan area pertanian, tapi hasilnya cukup menjanjikan. Ini tahun keempat, kami menggandeng kelompok tani menjadi inkubator, sebagai percontohan,” ujar Sri.

Sementara, Ketua Tim Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Tedy Arief Budiman mengatakan, Bank Indonesia sangat mendukung upaya pemerintah kota dalam menggalakkan pertanian lorong.

“Upaya ini akan berdampak nyata dalam menekan inflasi di perkotaan,” singkat Tedy, usai penandatanganan kerjasama. (*)


div>