RABU , 21 NOVEMBER 2018

Bintang Kehidupan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 23 Februari 2016 11:30
Bintang Kehidupan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Manusia memang telah diciptakan dengan sempurna. Coba perhatikan, semua perlengkapan yang diperlukan untuk hidup bahagia sudah tersedia pada dirinya. Bahkan jawaban terhadap semua persoalan apa pun yang dihadapi telah tersedia. Bandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain, tanpa dilengkapi dengan akal. Namun, seringkali manusia harus belajar pada makhluk selainnya.

Immanuel Kant berkata: Kita sering kagum pada bintang yang ada di langit, bintang yang ada di panggung, dan bintang yang ada di lapangan. Tapi kita tidak pernah kagum pada bintang yang ada di dalam hati kita sendiri, itulah nurani. Hati adalah cermin, apa saja kebajikan yang dilakukan terus-menerus akan menjadikan hati cemerlang, sedang perbuatan tercela akan menjadi titik-titik hitam, secara perlahan namun pasti akan menyebabkan hati menjadi gelap.

Kegelapan hati menyebabkan seseorang tidak bisa tersentuh dengan penderitaan orang lain, menimbulkan rasa tidak senang melihat kebahagiaan orang yang lebih beruntung, menggerakkan kita untuk marah dan dendam kepada sesama manusia. Alquran menyebutkan “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit pada mereka” (QS. Al-Baqarah/2: 10).

Al-Ghazali menjelaskan bahwa di antara penyebab yang mengundang datangnya penyakit hati adalah:

Pertama, keinginan yang berlebihan. Seseorang yang mendambakan sesuatu dengan cara berlebihan akan sulit baginya untuk berlaku obyektif. Karena itu janganlah menilai seseorang, atas dasar rasa cinta yang berlebihan. Sebab dengan dasar itu akan menutup matamu untuk melihat segala kekurangannya. Demikian pula sebaliknya, janganlah menilai seseorang atas dasar kebencian, karena kebencian itu akan menutup segala kebaikannya.

Pesan Nabi Muhammad saw, “Akan datang suatu masa, seorang suami celaka karena istrinya, ketika istri menuntutnya dengan tuntutan yang tidak dapat dipenuhi oleh suaminya”. Maksudnya, keinginan-keinginan istrinya itu tidak sanggup dipikul suaminya. Akhirnya suami mencari rezeki dengan berbagai cara, sekalipun haram.

Adam dan Hawa ketika berada di zona nyaman di surga, dilarang oleh Tuhan untuk memakan buah khuldi, namun karena melanggar perintah-Nya demi menuruti keinginan yang berlebihan akhirnya dikeluarkan dari surga.

Kedua, kesombongan. Boleh jadi keangkuhan itu muncul di hati seseorang karena merasa melebihi orang lain dalam hal ilmu, harta, keturunan, dan kedudukan serta banyaknya pengikut. Kalau seseorang tidak mau menerima kebenaran, karena yang menyampaikan kebenaran itu kedudukannya lebih di bawah dari pada dirinya, itu berarti sebuah kesombongan.

Rasulullah saw berpesan, “Siapa saja yang mati dan dalam hatinya ada kesombongan meskipun sebesar debu, maka ia tidak akan mencium bau surga, kecuali bila ia bertaubat sebelum maut menjemputnya”. Abu Dzar (salah seorang sahabat Nabi) berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin gantungan kunci dan sandalku indah. Apakah itu termasuk sikap sombong”. Rasulullah bertanya, “Bagaimana perasaan hatimu?” Abu Dzar menjawab, “Aku mengenal kebenaran dan tenteram dalam kebenaran”. Rasulullah berkata, “Yang demikian itu tidak termasuk kesombongan. Sombong adalah meninggalkan kebenaran, lalu mengambil selain dari kebenaran. Memandang orang lain lebih rendah kemudian meremehkannya”.

Sombong dan takabur bukanlah sifat manusia, melainkan warisan dari iblis laknatullah. Simak saja dialog Tuhan dalam Alquran, ketika memerintahkan untuk sujud kepada Adam. Semua makhluk taat pada perintah-Nya, kecuali iblis yang enggan dan takabur. Bahkan dengan lantang iblis berkata, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf/7: 12).

Ketiga, kedengkian. Kalau kita iri melihat orang lain sukses mencapai keinginannya, sementara kita tidak bisa mencapainya. Karena kita bersaing, maka muncul perasaan dendam kepada orang yang bertarung dengan kita.

Kedengkian tidak hanya merugikan orang lain, namun lebih merugikan pelakunya. Seorang pendengki akan menyebarkan fitnah terhadap orang yang didengkinya, itulah sebabnya Alquran mengajarkan untuk senantiasa berlindung kepada Allah “dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS. Al-Falaq/113: 5).

Sementara pelakunya tidak akan merasakan ketentraman, semua amal kebaikan yang dikerjakan terbakar habis ibarat api yang membakar kayu bakar. Dahulu, iblis adalah makhluk Tuhan yang telah menyembah Allah ribuan tahun lamanya, ia diusir dari surga karena kedengkian sehingga menjadi terkutuk. Sebagai makhluk Tuhan, iblis pernah ingin bertaubat dan meminta kepada Nabi Musa ‘alaihi salam untuk memohon syafaat agar Allah mengampuninya. Allah berfirman, “Musa, Aku penuhi permintaanmu. Tapi katakan pada iblis agar dia bersujud kepada kuburan Adam terlebih dahulu”. Musa lalu memberitahu iblis apa yang difirmankan Allah. Iblis tidak mau, “Dulu ketika Adam masih hidup, aku tak mau bersujud kepadanya. Apalagi aku harus bersujud kepadanya setelah ia mati”. Akhirnya iblis tidak diampuni, karena ia mengulangi kesalahan yang sama dua kali, tidak mentaati perintah Allah.

Untuk terhindar dari kedengkian, Al-Ghazali memberi resep antara lain: Sayangi orang yang pernah kita dengki, sebarkan kebaikan-kebaikannya, senantiasa berbuat baik kepadanya. Kalau yang kita dengki itu orang yang berilmu, doakan agar semakin bertambah ilmunya.

Tanyakan pada hati nurani dan dengarkan bisikan-bisikan lembutnya dalam keheningan, agar cahaya Ilahi dapat menembus meneranginya. Hanya dengan keheningan hati, setiap orang sesuai dengan profesi, pekerjaan, dan kemampuannya dapat berbuat kebaikan untuk diri dan orang lain. Meskipun dalam skala kecil, kalau setiap orang peduli dan berpartisipasi berbuat kebajikan, dampaknya pasti akan besar. Hati adalah tempat bertanya karena hati adalah cermin kehidupan. (*)


Tag
div>