JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Boemipoetra Nusantara Indonesia Gelar Pra Kongres Kedua di Yogyakarta

Reporter:

Editor:

Nunu

Senin , 23 April 2018 11:42
Boemipoetra Nusantara Indonesia Gelar Pra Kongres Kedua di Yogyakarta

Boemipoetra Nusantara Indonesia menyelenggarakan Pra Kongres Nusantara Indonesia Bagian Barat di Hotel Santika Premier, Jl. Jenderal Soedirman No.19 Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Senin (23/04/2018).

YOGYAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Setelah sebelumnya Boemipoetra Nusantara Indonesia menyelenggarakan Pra Kongres Bagian Tengah di Makassar (18/2) lalu, kini wadah perjuangan hak-hak masyarakat pribumi Indonesia yang digagas oleh sejumlah tokoh nasional tersebut akan menggelar kembali Pra Kongres Boemipoetra Nusantara Indonesia Bagian Barat di Hotel Santika Premier, Jl. Jenderal Soedirman No.19 Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Senin (23/04/2018).

Ketua Panitia Seminar, Muhardi Zainudin mengatakan, gerakan Boemipoetra Nusantara Indonesia diinisiatori oleh Dr. MS.Ka’ban, M.Si (Mantan Meteri Kehutanan Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,) dan Dr. M. Dahrin La Ode, M.Si (Dosen Damai dan Resolusi Konflik di Unhan sekaligus Direktur Eksekutif Center Institute of Strategic Studies). Pra kongres kali ini bertajuk “Boemipoetra Pendiri NKRI, Boemipoetra Pemilik NKRI dan Boemipoetra Penguasa NKRI”.

“Yang kedua ini kami selenggrakan di Yogyakarta, karena Yogyakarta ini kota istimewa yang penuh sejarah perjuangan priboemi Indonesia. Harapannya dari Yogyakarta ini akan tumbuh semangat priboemi Indonesia untuk kembali bangkit,” ujar Muhardi.

Muhardi menjelaskan, kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengungkapkan dan menegaskan kembali atas peran, hak dan kewajiban boemipoetra dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seminar, kata dia, juga bertujuan menyikapi secara kritis dan komprehensif permasalahan yang terjadi saat ini khususnya permasalahan kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin tajam.

“Selain itu sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat luas bahwa boemipoetra merupakan Pendiri, Pemilik, Penguasa NKRI. Kemudian, mewujudkan kekuasaan boemipoetra Nusantara Indonesia pada setiap dimensi ASTA GATRA nasional,”tukasnya.

Diuraikan Muhardi, tahun 2018 ini kemerdekaan Indonesia memasuki usia yang ke 73 tahun. Namun demikian, kata dia, masih banyak persoalan-persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat, terutama persoalan keadilan dan kesejahteraan yang justru kian jauh dari cita-cita para founding fathers. Ia menilai hal itu tercermin dari penguasaan SDA yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, di mana sebanyak 1% orang kaya di Indonesia menguasai 46% kekayaan Indonesia,

“Selain itu, sumber-sumber penghidupan yang strategis seperti energi, pangan, air, tanah dan finance telah dikuasai asing,” tandas Muhardi.

Ditambahkan Muhardi, Pra Kongres dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan berbagai Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Organisasi Masyarakat (ORMAS) di Yogyakarta.

Pembicara dalam kegiatan ini, kata dia, adalah para akademisi, praktisi dan pakar di bidangnya. Antara lain dia menyebutkan, Prof. Dr. Kaelan yang berbicara status boemipoetra menurut paradigma ideologi pancasila. Kamudian, imbuh Muhardi, Prof. Dr. Maswadi Rauf, MA berbicara status boemipoetra Indonesia pra invasi Belanda dan pasca invasi hingga era reformasi,

“Selain itu ada Prof. Dr. Sobar Sutisna juga berbicara mengenai status sospol boemipoetra menurut paradigma penguasaan geografis NKRI. selanjutnya Dr. M. Dahrin La Ode, M.Si berbicara mengenai status Boemipoetra menurut paradigma politik NKRI”.

“Pembicara lainnya, praktisi senior, Prof. D. Yusril Ihza Mahendra SH., M.Sc, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, Dr. Ichsanuddin Noorsy BSc, SH, M.Si, Marzuki Alie, S.E, M.M, P.hD,” pungkas Muhardi Zainudin.


div>