KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Bolehkah Saya Marah

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 24 Maret 2017 09:25
Bolehkah Saya Marah

Arifuddin Saeni

BEGITU banyak hal yang saya tidak mengerti belakangan ini, mengapa begitu gampangnya orang-orang menjadi marah. Meluluhlantakkan apa yang ada dihadapan mereka, yang seakan-akan bahwa yang terjadi di seberang sana adalah kesalahan, sehingga memang tak salah jika kemarahan itu membuncah bahkan mungkin mendidih.

Ini memang sudah terjadi berabad-abad yang lampau, ketika kemarahan itu melahirkan kematian, di antara Qabil dan Habil, ataukah rentangan kemarahan pasukan sekutu sehingga harus membumi hanguskan Irak, tapi toh kemarahan tak selamanya melahirkan rasa prustasi. Ia kadang-kadang melahirkan cerita-cerita lucu yang punya tangkup, bahwa kemarahan itu bisa menjadi energi besar dalam sebuah penaklukan.

Tapi untuk apa? Apakah kemarahan bisa memedamkan rasa dendam, ketika anak-anak kita tak memahami yang namanya politik dan bahasa satire, ketika bom dengan gampangnya berjatuhan, nyaris setiap hari di Suriah dan Irak. Ataukah marah beririsan dengan politik dan kepentingan. Kita mungkin tak pasti soal itu.

Hari kemarin, ketika hampir semua saluran televisi menyiarkan peristiwa Paris, yang dengan gampangnya orang dibunuh—–menabrakkan truknya ke kerumunan orang banyak. Apakah hari-hari seperti itu, kita harus dihiasi dengan ceceran darah dan rasa frustasi, ataukah tayangan televisi yang terus mengasah kebencian kita kepada seseorang.

Ataukah sebaiknya kita memahami apa yang dikatakan Aristoteles, seorang filosof Yunani, “siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah”. Tapi siapa bisa mengukur kemarahannya, siapa yang bisa menempatkan marahnya dengan tepat. Toh, ia muncul kadang tak terduga.

Tapi hari ini, atau mungkin esok, ketika kita berpapasan dan saling menggertak, mungkin kita tak bisa lagi menahan amarah masing-masing. Pada puncak emosi itulah, kita seakan-akan diajak untuk kembali ke jaman, di mana kekerasan adalah hal lumrah, atau bisa saja pada budaya kanibal. Sebab marah, akan berujung pada kekerasan, yang akan menghasilkan kekerasan kembali.

Saya memahami, bahwa kamu mungkin marah, tapi bukankah marah ada ujungnya. Toh matahari tak selamanya meninggi, dia akan ke barat dengan lembayungnya. Dan di sana, ada kata maaf. Seperti yang dikatakan Derrida, maaf tanpa prasyarat. Karena itu, bolehkah saya marah—-hanya mungkin untuk¬† menguji,¬† bahwa maaf itu, di sana ada kerendahan hati yang tak terselami. (*)


div>