SENIN , 16 JULI 2018

Bosowa Telah Investasi Rp 10 T untuk Maros

Reporter:

Editor:

hur

Minggu , 21 Februari 2016 17:44

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM- Founder Bosowa Coorporation, Aksa Mahmud membeberkan mengenai Investasi Bosowa terbesar ada pada Bosowa Semen yang berada di Kabupaten Maros yang mencapai Rp 10 triliun.

“Kemudian disusul oleh perusahaan PLTU di Jeneponto yang berkisar Rp 7 triliun,” kata Aksa pada perayaan Pesta Rakyat, di Kecamatan Bantimurung, Sabtu (20/2).

Pada kesempatan itu pula, ia menerangkan melalui Bosowa Corporation, Aksa berhasil mendirikan sekira 50 raksasa perusahaan yang telah menggurita di sejumlah daerah di Indonesia.

“Saya tidak terlalu ingat berapa jumlah pastinya, tapi yang jelas sudah lebih dari 50 anak perusahaan,” ungkapnya.

Kendati seperti itu, Aksa bersama Bosowa masih terus berevolusi. Ia telah merancang sejumlah proyek untuk dibangun, terutama di kabupaten Maros. Aksa bercerita awal mula Bosowa bernama CV Monoter pada 22 Februari. Ia memberikan nama perusahaan tersebut sesuai dengan momentum ketika Ketua Bappenas mengeluarkan kebijakan moneter di mana 1 dolar AS masih senilai Rp 300 menjadi Rp 350.

“Setelah keluarnya kebijakan itu, besok paginya, saya buat CV Moneter sesuai dengan momennya. Perusahaan awal ini mensuplay peralatan proyek seperti mesin ketik, AC, dan lainnya. Setelah berjalannya waktu, CV Moneter pun berubah menjadi Bosowa.

Aksa Mahmud sendiri dikenal sebagai pengusaha sukses. Aksa pun bercerita jika masa mudanya, dirinya juga pernah “nakal”.

“Saya juga dulunya nakal, tapi bukan nakal seperti anak sekarang ini. Ada dua kejadian yang saya ingat terus sampai sekarang,” paparnya.

Pertama, cerita Aksa, dirinya pernah direndam setengah hari lamanya hanya karena membuat warga satu kampungya tidak makan sahur. Itu karena, dia lupa memukul bedug untuk membangunkan warga.

“Rumah saya kan dekat masjid dan saya selalu tidur di masjid. Saat itu, jam di masjid rusak dan saya telat memukul bedug,” kenangnya.

“Akhirnya, saya direndam di kolam masjid, kolamnya ini besar. Saya direndam dari pagi sampai Lohor. Meski itu sesuatu yang berat tapi saya harus jalani sebagai hukuman atas kesalahan,” katanya.

Peristiwa kedua adalah saat dirinya ditahan Kodam VII Wirabauna saat itu dirinya aktif sebagai wartawan. Ia ditahan selama 10 hari karena tulisannya yang dianggap “berbahaya”.

“Kalau saya ketemu Pangdam itu, saya selalu ucapkan terima kasih karena telah menahan saya selama 10 hari,” candanya.

Aksa mengatakan bahwa dirinya pernah aktif sebagai jurnalis yang diawalinya sebagai jurnalis majalan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). “Karena itu, Bosowa harus bikin koran untuk mengenang kalau saya juga dulu jurnalis dan pernah merasakan ditahan selama 10 hari,” katanya.

Perjuangan Aksa Mahmud ini dituangkan dalam buku berjudul Aksa Mahmud Putra Ombak. Menurutnya, judul buku itu sesuai dengan kisahnya yang berjuang keras tanpa henti menghadapi tantangan untuk mencapai kesuksesan.


Tag
  • aksa mahmud
  •  
    div>