SENIN , 23 JULI 2018

Budianto: Ingin Ekonomi Negara Kuat? Bangun Kekuatan Militer!

Reporter:

Editor:

hur

Senin , 11 Januari 2016 17:00

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – MEA merupakan suatu babak dalam mengintensifkan persaingan bebas di Indonesia. Untuk mengintensifkan hal tersebut, maka seluruh komponen yang mendukung keberadaan MEA akan meliberalisasi sektor ekonomi dan politik.

Hal itu dikatakan Ketua Aliansi Gerakan Reformasi Agraria, Budianto SPd MSi dalam Forum Bedah isu 2016 terkait Persoalan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Kegiatan yang bertema “Kerjasama antar bangsa atau persaingan menuju monopoli” digelar Himpunan Mahasiswa Program studi (HMPS) pendidikan Ekonomi, berlangsung di Gedung Phinisi Lt. 2 Universitas Negeri makassar (UNM), Senin (11/1).

Selain Budianto, hadir sebagai pembicara adalah Syamsuddin Alam SSi MSi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, dan Dosen Ekonomi UNM -Muhammad Ridha SHi MA.

“Secara terang, kita bisa katakan bahwa MEA merupakan sebuah skema persaingan yang berujung pada perampasan tanah. Pemerintah sebagai kaki tangan omprealisme Amerika Serikat (AS), akan melegalisasi produk hukum yang kondusif untuk investasi AS,” ujar Budianto.

Bagi Ketua Aliansi Gerakan Reformasi Agraria ini, persaingan MEA dirasakan tidak logis karena kekayaan geografis dan sumber ekonomi Indonesia dikuasai tanpa menyisakan kepentingan domestik.

“Secara ekonomi kita tidak bisa bersaing dengan perusahaan besar, karena mereka berhubungan langsung dengan produsennya, pemodal besarnya. Tidak usah perusahaan besar, Indomaret saja sulit untuk disaingi, apa lagi perusaan asing. Ini karena ada skema monopoli negara asing di negara Indonesia,” tambahnya.

Secara ekstrim, Budiono mengatakan, jika Indonesia ingin keluar dari permasalahan penguasaan ekonomi asing tersebut, maka pemerintah harus membangun basis yang kuat, seperti kekuatan militer yang berpihak pada rakyat.

“Kalau mau memegang kedaulatan ekonomi, libatkan militer. Amerika sebagai negara dunia pertama, negara yang ditakuti manakala membangun kamp mileter yang kuat adalah jepang dan Swis. Mengapa? karena kedua negara tersebut adalah wilayah strategis bagi Amerika Serikat untuk berinvestasi. Perusahaan Amerika banyak di Jepang dan tabungan Amerika ada di Swiss. Manakala militer di kedua negara tersebut kuat, maka investasi AS akan terancam,” tegas Budiono.

Sementara itu, Syamsuddin Alam menyebut bahwa di tengah arus MEA, pendidikan ternyata telah terintegeasi dalam kepentingan korporasi yang ingin bersaing. Dia melihat bahwa pendidikan saat ini tidak senada lagi dengan apa yang dicita-citaka oleh Ki Hajar Dewantara, di mana bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. “Kalau Ki Hajar Dewantara menginginkan pendidikan yang bertujuan peningkatan kualitas manusia, maka di era MEA, pendidikan justru mencetak robot-robot yang siap menjadi tenaga pekerja yang murah,” kata Syamsuddin.


div>