SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Bunuh Kakak Kim Jong Un, Siti Aisyah Mengira Hanya Bercanda

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Jumat , 31 Maret 2017 11:57
Bunuh Kakak Kim Jong Un, Siti Aisyah Mengira Hanya Bercanda

Dua tersangka pembunuhan Kim Jong Nam, kakak dari pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un. Keduanya adalah Siti Aisyah (kiri) dan seorang warga Vietnam, Doan Thi Huong. foto: reuters

JAKARTA – Mabes Polri mengungkap fakta mencengangkan terkait kasus pembunuhan Kim Jong Nam, kakak pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un. Siti Aisyah, WNI yang notabene salah satu pelaku, sempat menyangka aksinya ke Kim Jong Nam hanya candaan biasa. Dia tak mengira jika cairan yang disemprotkan kepada Kim merupakan racun mematikan.

Pengakuan tersebut disampaikan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri, Irjen Saiful Maltha. Saiful mengungkapkan, keterangan itu didapat setelah tim penyidik Mabes Polri mewawancarai langsung Siti Aisyah.

“Yang kami dapat sejauh ini, kejadian itu seperti sedang melakukan prank (bercanda),” kata dia di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (30/3).

Maltha mengatakan, Siti Aisyah disuruh oleh seseorang untuk menyemprot sebuah cairan yang diduga racun ke arah Kim Jong Nam. Namun tak disangka, suruhan orang tersebut malah menyeret Siti Aisyah ke persoalan hukum.

“Dia masih belum ngeh (sadar) kalau dikenakan hukuman di sana. Cuman dibayar 100 sampai 200 dollar, kalau dia mengerti disuruh membunuh dia tidak mau dong dibayar segitu,” ucap Maltha.

Mengenai orang yang menyuruh Siti Aisyah itu, Maltha mengaku belum mengetahui. Sebab, si pria diduga langsung pergi tak lam setelah pembunuhan terjadi. “Cuma kami dapat petunjuk (yang menyuruh Siti Aisyah) warga Korea (Utara),” ungkap Maltha.

Dia menambahkan, permepuan asal Serang, Banten tersebut dikenakan tindak pidana kelalaian yang menyebabkan seseorang meninggal dunia oleh otoritas hukum di Malaysia.

[NEXT-RASUL]

Meski begitu, Maltha mengaku pihaknya tetap akan memperjuangkan Siti Aisyah agar dibebaskan dari jerat pidana di Malaysia.

“Karena itu bukan pidana, menurut kacamata hukum, yang nanti dikuatkan dengan bukti-bukti yang dimiliki,” sambung dia. (jpg)


div>