SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Bye-bye DIA Jilid II

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 08 Agustus 2017 09:48
Bye-bye DIA Jilid II

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Harapan untuk kembali menduetkan Moh Ramdhan “Danny” Pomanto dengan Syamsu Rizal pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar tahun 2018 mendatang hampir pasti pupus.

Alasannya, keduanya sama-sama ngotot untuk maju sebagai calon wali kota. Deng Ical–sapaan akrab Syamsu Rizal bahkan dalam beberapa kesempatan kerap kali menegaskan jika ingin melawan Danny Pomanto.

Alasan lainnya jika DIA jilid II (tagline Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal pada pilwali lalu) sulit terwujud lagi karena ketidakharmonisan keduanya bukan lagi rahasia umum.

Demokrat sebagai partai pengusung keduanya pada Pilwalkot sebelumnya juga belum memberikan jaminan untuk kembali mengusung kedua figur tersebut.

Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah mengaku jika peluang paket DIA jilid II sangat tipis atau berpotensi cerai. Hal ini juga kata dia, dipertegas dengan adanya penjaringan di Demokrat dan belum memberikan jaminan untuk mengusung keduanya.

“Kemungkinan itu bisa saja terjadi (pisah). Politik bisa berubah kapan saja, jadi DIA jilid II kita belum tahu,” ujar Ulla–sapaan akrab Ni’matullah, Senin (7/8).

Meski demikian, Wakil Ketua DPRD Sulsel ini juga mengakui, jika paket DIA jilid II bisa saja terjadi jika itu kemauan Danny dan Ical. “Jika memungkinkan paket DIA kenapa tidak, namun tergantung Danny-Ical mau atau tidak paket kembali,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Dia menambahkan, saat ini ada tiga kader yang mau bertarung memperebutkan rekomendasi Demokrat sehingga pihaknya tak ingin mengecewakan salah satu kader.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya memberikan kebebasan kepada kader untuk terus melakukan sosialisasi guna menarik simpatisan masyarakat. “Mengingat ada tiga kader internal maju, kita berikan kebebasan untuk terus bersosialisasi diri di masyarakat. Soal penentuan itu hak DPP,” jelasnya.

Danny Pomanto yang dikonfirmasi mengkau belum memikirkan calon pendampingnya. “Sebagai incumbent, saya belum memikirkan pendamping, karena persoalan politik itu adalah proses, apa lagi untuk urusan wakil, saya akan kembalikan ke rakyat. Jadi bukan mengikuti selera saya tetapi rakyat, karena rakyatlah yang bisa melihat baik atau tidaknya,” ungkap Danny.

Terkait peluang untuk kembali berpaket dengan Deng Ical, Danny mengaku hal itu tidak masalah, selama masyarakat menginginkan hal tersebut (paket DIA). “Oh tidak masalah. Yang penting masyarakat menginginkan, saya dengan siapapun tidak ada masalah,” tegas Danny.

Danny juga mengungkapkan, bahwa salah satu kriteria mendasar yang patut dimiliki wakilnya nanti adalah sosok yang setia dengan pasangannya dan dapat membantu kerja-kerja dalam menjalankan pemerintahan. “Intinya wakil itu orangnya setia, dan bisa membantu kerja-kerja Walikota,” tambah Danny.

Sebaliknya, Deng Ical memberikan signal bahwa duet DIA jilid II bakal sulit terealisasi. Pasalnya, Deng Ical mengaku jika dirinya saat ini sudah sangat siap bertarung sebagai wali kota bukan sebagai wakil wali kota, apalagi partainya menginginkannya maju sebagai kosong satu pada Pilwalkot mendatang.

[NEXT-RASUL]

“Kesiapan saya kan maju bertarung sebagai 01, jadi sebagai orang politik tentu harus selalu konsen dengan hasil terbaik yakni target tertinggi, apalagi partai kan memerintahkan saya untuk sosialisasi sebagai wali kota,” jelasnya.

Pakar politik Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan, jika memang Danny dan Daeng Ical ingin maju sebagai kosong satu, penentuannya berada di DPP. “Nasib pasangan tersebut tergantung Demokrat. Logis jika keduanya maju 01 karena selama ini disharmoni,” katanya.

Firdaus melanjutkan, jika saat ini Demokrat cenderung mengusung Danny dengan alasan survei Danny yang lebih tinggi dibanding kader Demokrat sendiri. “Demokrat lebih realistis pada survei dan arahan DPP terkait agenda politik di pemilu,” ucapnya.

Apalagi, kata Firdaus Demokrat Makassar, Adi Rasyid Ali (ARA) sudah siap menjadi pendamping Danny.

Sementara konsultan politik Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy mengatakan, jika Danny dengan Daeng Ical masih berpeluang untuk mendapatkan Demokrat. Namun hanya saja, Danny bisa mendapatkan Demokrat jika pada Piwalkot nantinya yang menjadi kosong dua dari internal partai berlambang Mercy tersebut.

“Kita lihat keduanya masih berpeluang untuk mendapatkan Demokrat, namun kita lihat pergerakan Danny bisa mengutungkan Demokrat jika ada calon intenalnya dijadikan pasangan, sementara Daeng Ical, hanya menjual sebagai posisi kader internal. Dan Daeng Ical saat ini belum bisa meyakinkan partainya dengan cara pendekatan kepada masyrakat,” ujar Nursandy.

[NEXT-RASUL]

Ia menambahkan, jika memang Daeng Ical menginginkan partainya menyerahkan rekomendasi usungan, seharusnya mulai saat ini mulia melakukan pendekatan kepada mayarakat, mengingat ektabilitas Danny saat ini masih tinggi dibanding Daeng Ical.

“Tidak dipungkiri jika keduanya ingin mendapatkan rekomendasi seharusnya memperbanyak pendekatan untuk menyakinkan Demokrat,” ungkapnya. (E)


div>