SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Caleg Baru Tantang Wajah Lama

Reporter:

Fahrullah - Iskanto

Editor:

Lukman

Rabu , 01 Agustus 2018 14:35
Caleg Baru Tantang Wajah Lama

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Empat partai politik baru bakal meramaikan kontestasi Pemilu 2019 mendatang. Keempat parpol dimaksud yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, Partai Garuda, dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

Kader parpol baru ini pun tak gentar menghadapi sejumlah bacaleg partai lain yang telah memiliki nama besar di Sulsel.

Konsultan Politik DPP PSI, Andi Saiful Haq mengatakan, meski dirinya baru pertama kali ikut bertarung memperebutkan kursi di Senayan, namun ia optimis bisa meraihnya.

“Pemilih di Sulsel semakin maju, kemenangan Prof Andalan (Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman) dan kotak kosong di Makassar salah satu contohnya,” kata Andi Saiful.
Meski akan bertarung dengan wajah lama termasuk petahana, namun Andi Saiful sama sekali tak gentar karena menurutnya pemilih di Sulsel sudah sangat pintar dalam menentukan pilihan. “Berdasarkan survei tahun 2018, masyarakat yang memilih partai itu hanya 11 persen, selebihnya ketokohan kader,” ucapnya.

Dengan demikian, ia akan melakukan pedekatan dengan para pemilih pemula. “Saya percaya ketokohan, karena pengaruhnya untuk meyakinkan publik,” jelasnya.

Andi Saiful akan bertarung di Dapil Sulsel 1 yang Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Selayar. “Yang jelas kita bekerja untuk mencari dukungan. Apalagi di PSI rata-rata kaum muda dan kita akan sasar pemilih millenial yang begitu banyak,” jelasnya.

Khusus Partai Garuda memiliki cara tersendiri yang sangat jauh berbeda dengan parpol baru lainnya untuk melakukan kerja-kerja politik.

Dimana, Partai Garuda dikenal dengan gerakan senyapnya atau ‘silent’. Hal itu bukan tidak beralasan, partai ini memiliki strategi khusus dengan bergerak secara diam-diam yakni dengan mendekati masyarakat secara door to door.

“Kita punya strategi sendiri. Disinilah kita akan memberikan kejutan kedua setelah lolos verifikasi, jadi kita akan bergerak secara silent, kita akan datangi warga di pelosok dengan door to door,” kata Ketua Partai Garuda Sulsel, Moh Ilham, Selasa (31/7).

Menurutnya, pergerakan Partai Garuda sangat berbeda dengan partai lain. Mesin partai dan seluruh bacalegnya akan bergerak tanpa amunisi dengan bekerja secara militan.

“Semua caleg yang kita pilih memang caleg yang militan. Kita tidak pakai duit, karena kita bekerja untuk rakyat, itulah nanti kita liat bagaimana Garuda ini memberikan manfaat ke masyatakat,” jelasnya.

Tidak hanya itu, partai besutan dari Ahmad Ridha Sabana juga menampung figur pendatang baru. Selain tak ingin terkontaminasi oleh para tokoh lama di dunia perpolitikan, lanjut Moh Ilham, ia akan menjadikan kader Partai Garuda sebagai agen perubahan.

“Kita tidak akan munculkan tokoh-tokoh lama, karena kita akan menjadi agen perubahan. Jadi kita memang diimbau memberikan kejutan kedua karena partai ini bukan hanya di setting untuk lolos pemilu, tapi untuk memberikan manfaat ke masyarakat,” tuturnya.

Karena hal itulah, Partai Garuda sangat selektif dalam merekrut kader dari lintas partai politik yang sudah lama bergerak di perpolitikan. Sebab, pihaknya fokus dengan figur-figur baru yang tidak berkaitan dengan dinamika politik yang tidak sehat.

“Intinya kita punya cara tersendiri, kita punya strategi sendiri. Karena kita tidak mau terkontaminasi dengan para tokoh lama yang melintang di perpolitikan, tapi kita hargai mereka sebagai senior di dunia politik. Dengan figur baru kita bisa membawa perubahan,” tandas Moh Ilham.

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Andi Luhur Prianto mengatakan, pembuktian kemampuan para kader parpol baru akan diuji pada pileg tahun depan. Para pendatang baru ini bisa saja menjadi ancaman bagi para politisi lama apabila memiliki kerja-kerja elektoral yang baik.

“Yang jelas kader parpol baru ini belum ikut ujian elektoral, belum punya pengalaman tanding. Tetapi bukan berarti tidak bisa lolos ujian, tergantung kerja-kerja elektoral yang di lakukan sebelumnya,” kata Luhur.

Namun memang, setiap ajang kontestasi perpolitikan untuk dapat menang membutuhkan pengalaman dan analisa yang baik. Hal ini tentu sudah dimiliki oleh para politisi atau kader parpol yang sudah pernah ikut pemilu sebelumnya.

“Keterpilihan memang tidak selalu identik dengan pengalaman. Tetapi pengalaman bisa memberi manfaat yang banyak bagi para kontestan tentang kontestasi yang sesungguhnya,” jelasnya.

Luhur menjelaskan, kader parpol baru memang membutuhkan kerja keras untuk dapat mengimbangi para politisi lama. Juga para pendatang ini meski memiliki branding diri yang dapat menarik simpati dan perhatian masyarakat.

“Caleg-caleg baru ini memang harus bekerja ekstra untuk melawan para Caleg kawakan, dengan pengalaman segudang. Caleg baru ini sebaiknya punya diferensiasi atau branding yang membuatnya lebih mudah terpilih, jika di bandingkan Caleg-caleg yang berpengalaman,” jelas Luhur.

Sementara itu Pakar Politik Universitas Bosowa Arief Wicaksono mengatakan, para kader parpol baru juga memiliki peluang untuk terpilih. Hanya memang yang membedakan adalah pengalaman dan analisis kerja-kerja politik yang dilakukan.

“Tidak ada masalah menurut saya, setiap orang punya hak politik. Persoalannya ada di track record dan pengalaman maju caleg,” kata Arief.

Meskipun memang, sudah pasti para kader parpol senior memiliki banyak keunggulan. Tinggal bagaimana para kader parpol baru ini mematangkan kerja-kerjanya.

“Kader baru belum tentu bisa menyamai seniornya di parpol, apalagi seniornya yang terpilih. Jadi percaya diri bolehlah, tapi jangan lupakan strategi lapangan. Punya basisi real, dan punya program untuk memaintain basis. Itu yang penting,” jelasnya. (E)


div>