MINGGU , 20 JANUARI 2019

Caleg Kampanyekan Capres, Bisa Untung, Bisa Buntung

Reporter:

Iskanto

Editor:

Jumat , 14 Desember 2018 10:00
Caleg Kampanyekan Capres, Bisa Untung, Bisa Buntung

Ilustrasi (Rakyatsulsel.com)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah memasuki masa kampanye. Setiap calon anggota legislatif mulai memperkenalkan diri kepada masyarakat. Namun dalam sosialisasinya, para caleg diperintahkan untuk mengampanyekan calon presiden dan wakil presiden yang diusung oleh partai politiknya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Aswar Hasan menilai, caleg dalam mengampanyekan capres punya keuntungan tersendiri. Namun, bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi batu sandung para caleg.

“Kalau caleg Gerindra dan PDIP mengampanyekan capres, itu bisa untung. Tapi kalau caleg diluar PDIP atau Gerindra itu kurang diuntungkan. Misalnya, Partai Golkar yang mengusung Jokowi, Jokowi kan bukan orang Golkar. Makanya, Golkar setengah hati mendukung Jokowi,” ujarnya, Kamis (13/12).

Lanjut Aswar, begitupun caleg dari Demokrat ke Prabowo. Pasalnya Prabowo merupakan ketua umum Gerindra, sehingga Demokrat setengah hati mendukung Prabowo di pertarungan lima tahunan tersebut karena yang akan diuntungkan itu Gerindra.

“Itu disebut efek ekor jas yang maksdunya bahwa keterpilihan presiden akan menguntungkan partai sang presiden itu. Olehnya itu, partai pengusung harus solid,” katanya.

Menurutnya, kerja-kerja di Pilpes dan Pileg harus sejalan beriringan. Artinya, dalam berkampanye, capres jangan hanya mau dikampanyekan oleh caleg dari partai pengusungnya. Harusnya, capres juga ikut mengkampanyekan caleg dari partai yang mengusungnya.

“Jangan hanya calon presiden saja dikampanyekan tapi capres harus membantu caleg dari partai yang bukan caleg dari partainya,” katanya.

Untuk itu, kata Aswar, caleg harus pandai dalam melihat situasi dan kondisi dalam berkampanye. Salah satunya, melihat peta survei. Ia mencontohkan peta survei politik di Sulsel dikuasai Prabowo, maka caleg partai pengusung Jokowi harus berhati-hati.

“Misalnya, di Sulsel yang leading (unggul) Prabowo, maka caleg partai Jokowi jangan menyerang Prabowo. Karena nanti mereka tidak dapat simpati. Jadi, istilahnya kalau caleg mau selamat harus amankan dirinya dahulu, jangan sibuk mengkampanyekan presiden yang bukan partainya sementara dia lupa kampanyekan dirinya,” katanya.

Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandi Syamsuddin mengatakan, berbicara persoalan Pilpres, sudah sewajarnya caleg wajib mengkampanyekan capres pengusug partainya, dan hal itu berlaku bagi sebagian partai.

“Hanya saja, kalau berbicara konstentasi Pileg tentu ada plus minus. Plusnya, calon konstituen si caleg mendukung capres yang dikampanyekan. Minusnya, ketika mengkampanyekan capres ternyata berbeda pilihan dengan calon konstituennya, maka perlu ada narasi campaign berbeda dalam berkampanye di lapangan,” jelas Nursandi.

Kata Dia, sejatinya semua caleg dalam berkampanye kebanyakan menonjolkan figur personal sebagai caleg terlepas dari apakah si caleg mengkampanyekan capres dari partainya.

“Saya kira setiap caleg tentu telah punya analisa tersendiri kapan harus misalnya kapan mengkampayekan capres di wilayahnya dan kapan menonjolkan sisi personalnya sebagai caleg, caleg harus dituntut membuat narasi campaign,” ucapnya.

Lebih jauh Nursandi mengatakan, sebagai caleg harus bisa menyeimbangkan antara kepentingan partai dan kepentingan personalnya. Namun, dalam prakteknya hal tersebut sulit realisasikan. Sebab, ada tantangan elektoral yang dihadapi setiap caleg.

“Kadang kala ada caleg yang secara psikologis memang hanya mementingkan dirinya untuk menang tanpa melibatkan kepentingan Parpol, apalagi kepentingan yang lebih besar seperti Pilpres,” cetusnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UNI) Makassar, Firdus Muhammad menuturkan, jika Pilpres bisa mengutungkan caleg dan bisa merugikan mereka. Khusus yang diuntungkan yakni partai capres itu sendiri. Namun untuk partai pendukung khususya caleg harus hati-hati mengkampanyekan capres. “Caleg harus carik aman,” ujarnya.

Ia mengimbau kepada partai politik untuki tidak membebankan mengkampanyekan capres kepada caleg. “Jangan menjadikan beban untuk dia (Caleg). Jangan sampai itu mereduksi kekuatanya. Kalau menguntungkan silahkan kampanyekan capres, tapi kalau merugikan jangan kampanyekan capres,” tutupnya.

Terpisah, Sekretaris PDIP Sulsel, Rudy Peter Goni menegaskan jika setiap caleg partai berlambang moncong putih itu wajib mengkampanyekan Jokowi-Ma’ruf. Bahkan, kata dia, ada sanksi yang diberikan kepada caleg jika suaranya lebih tinggi dari Jokwi-Ma’ruf. “Sanksinya itu tidak akan dilantik menjadi anggota DPRD jika terpilih,” tegas Rudy Pieter Goni.

RPG–sapaan akrabnya, menambahkan, saat ini pihaknya tengah gencar melakukan sosialisasi guna memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Sulsel. “Kami lebih mengoptimalkan bagaimana bisa mendapatkan suara yang memuaskan dari kaum ibu-ibu dan milenial, karena keduanya adalah pemilih terbanyak ketimbang kaum adam. Kaum milenial lebih cerdas, kreatif dalam melakukan pendekatan,” tuturnya. (*)


div>