RABU , 14 NOVEMBER 2018

Caleg Perempuan Bukan Pemanis

Reporter:

Suryadi Maswatu - Fahrullah

Editor:

Iskanto

Jumat , 19 Oktober 2018 10:25
Caleg Perempuan Bukan Pemanis

Ilustrasi (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kehadiran Calon Legislatif (Caleg) perempuan di Pemilu Legislatif (Pileg), kerap dianggap hanya sebagai pemanis atau pelengkap untuk memenuhi syarat kuota perempuan 30 persen.

Selama ini keterwakilan perempuan di partai politik hanyalah sebagai pelengkap dalam mengisi ruang-ruang kosong. Tapi, kaum hawa tidak bisa dipandang remeh dalam gerakan politiknya.

Perjalanan untuk menempati keterwakilan 30 persen di parlemen masih sangat panjang. Ada banyak tantangan besar yang harus dihadapi oleh kaum perempuan.

Salah satu caleg incumbent, Fadriaty AS, mengatakan, sebagai caleg perempuan dirinya ingin kembali terpilih sebagai anggota DPRD. Tidak hanya sebatas pelengkap di partai, tetapi juga bekerja dengan maksimal.

“Mereka (caleg) perempuan harus mempersiapkan dirinya untuk bersaing dengan mitranya, baik itu dari partainya maupun diluar partainya,” terangnya.

Politikus Demokrat ini menyebutkan, banyak kaum hawa yang termotivasi menjadi wakil rakyat. Namun, ada tantangan tersendiri untuk mencari suara sebanyak-banyaknya, dengan peluang yang begitu besar.

“Bagi saya, kamu perempuan juga memiliki peluang besar karena mereka sudah siap untuk mengikuti pertarungan yang hebat ini,” imbuhnya.

Untuk mencari dukungan, menurut Anggota Komisi E DPRD Sulsel ini, semua kalangan dirangkul dalam pembentukan tim atau relawan, baik itu dari kaum hawa maupun lekaki.

“Mau laki-laki maupun perempuan bagi saya sama semua. Yang jelas, mereka mau bekerja, membantu mendapatkan suara,” imbuhnya.

Fadriaty menuturkan, caleg perempuan di Luwu Raya begitu banyak, sehingga persaingan sangat ketat. Tapi dirinya tetap optimistis bisa kembali menjadi legislator DPRD Sulsel pada 2019 mendatang.

Caleg incumbent lainnya, Andi Tenri Sose, menilai, dengan banyaknya perempuan yang maju, dirinya merasa bangga karena kedepan bisa menyaingi kaum adam di DPRD jika perempuan lebih banyak terpilih.

“Saya merasa bangga banyak perempuan yang maju, walau ditetapkan 30 persen itu masih kurang,” katanya.

Politisi Golkar ini menyebutkan, potensi perempuan untuk menjadi anggota DPRD mulai terlihat setelah ada aturan KPU yang mewajibkan setiap Dapil ada 30 persen keterwakilan mereka. Untuk persaingan, tidak ada pada perempuan, tapi mereka saling mendukung.

“Kita perempuan saling membantu, dan saling mendukung, tidak ada saingan,” ungkapnya.

Sementara Caleg PSI Kota Makassar, Viah Hasanah, mengatakan, partai besutan Grace Natalie ini memiliki strategi khusus bagaimana bisa mendapatkan suara yang memuaskan dan bisa menjadi wakil rakyat di parlemen.

“Tentunya jualan kami di PSI harus sinergi dengan jualan para caleg. Upaya kami memenangkan PSI tentunya dengan gagasan-gagasan baru,” kata Viah, Kamis (18/10).

Caleg Dapil II untuk DPRD Makassar yang meliputi Kecamatan Wajo, Tallo, Bontoala, Ujung Tanah dan Kepulauan Sangkarrang ini menyebutkan, dalam internal partai tidak ada persaingan. Sesama Caleg harus gotong royong mendapatkan suara, karena perhitungan saat ini untuk ke partai lebih awal, kemudian kepada Caleg.

“Kalau kami sesama caleg PSI di dapil, tidak menjadikan satu sama lain sebuah saingan, malah kami bekerja sama untuk mendapatkan kursi,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Lembaga Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan dan Gender Unhas Makassar, Prof Dr Rabina Yunus, menilai kehadiran perempuan maju di parlemen memberikan dampak positif.

Menurutnya, dulu perempuan hanya sebatas bidang tertentu. Kini mulai bangkit menempatkan posisi di berbagai bidang pada ranah sosial politik kebangsaan di tanah air.

“Ini sangat bagus, perempuan mulai diberikan ruang. Dulu hanya batas kamar rumah tangga, sekarang sudah kamar yang lain seperti kamar ruang publik, kamar parlemen dan terakhir kamar KPK,” ujarnya.

Ia menyebutkan, power perempuan untuk maju di parlemen tak hanya sekadar pemanis belaka. Namun, perempuan harus punya keberanian serta strategi untuk bertarung.

Selain itu kata dia, jika perempuan maju bertarung merebut kursi di parlemen harus mempelajari dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah terpilih. Bukan hanya bekerja untuk kepentingan partai.

Disebutkan, jika cara ini digunakan caleg perempuan maka bahasa sederhananya, perempuan hanya menjadikan momentum Pileg mencari kerja.

“Jadi betul, Caleg perempuan jangan hanya sebatas pemanis. Jika maju bertarung harus tahu apa yang harus dilakukan, kerjakan sesuai yang dipahami. Jangan hanya untuk partai semata,” tuturnya.

Guru besar Unhas bidang Gender itu menyarankan untuk pengurus Parpol agar Caleg perempuan juga diberikan ruang dengan mendapat nomor utur pertama atau kedua. Jangan hanya perempuan ditempatkan pada nomor pertengahan atau akhir.
Ia meminta Caleg perempuan untuk aktif turun di lapangan jauh hari sebelum Pileg. Hal ini untuk lebih dekat dengan masyarakat di dapil masing-masing.

“Kekurangan Caleg perempuan belum tahu strategi yang akan dibuat. Jangan hanya maju Caleg baru turun dekat dengan masyarakat, pasti terlambat. Tapi pendekatan dengan masyarakat harus jauh hari sampai ke ranting-ranting,” terangnya.

Dia menambahkan, persaingan untuk meraih posisi strategis, diperlukan revolusi diri. “Harus butuh strategi matang, Caleg perempuan tidak sekadar ikut-ikutan tetapi ingin memperjuangkan aspirasi masyarakat untuk membangun daerah,” ungkapnya.

Perempuan, kata dia harus merevolusi diri yakni dengan memanajemen diri, keluarga dan lingkungannya. Bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat, serta diawali dari dirinya sendiri.

Menurut dia, sudah saatnya kaum perempuan berdiri paling depan sebagai pelaku utama pelaksanaan pembangunan. Kemampuan yang dimiliki kaum perempuan tidak kalah dengan laki-laki.

“Tidak ada lagi sekat-sekat gender yang menjadi penghambat bagi kaum perempuan untuk berkiprah dalam pembangunan. Untuk itulah perempuan harus mengubah pandangan agar punya kepercayaan diri untuk maju,” pungkasnya. (*)


div>