MINGGU , 27 MEI 2018

Camat Watang Pulu Diadukan Ke Dewan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 11 September 2012 10:57
Camat Watang Pulu Diadukan Ke Dewan

MENGADU. Warga asal Maddanaca saat mengadukan Camat Watangpulu di Kantor DPRD Sidrap, Senin (10/9) kemarin. Tampak sejumlah petugas kepolisian mengawal aksi protes warga. bahri L

MENGADU. Warga asal Maddanaca saat mengadukan Camat Watangpulu di Kantor DPRD Sidrap, Senin (10/9) kemarin. Tampak sejumlah petugas kepolisian mengawal aksi protes warga. bahri L

RAKYAT SULSEL . SIDRAP – Camat Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Abdul Waris Sadik, diadukan oleh warganya sendiri ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidrap, Senin (10/9) kemarin. Pengaduan warga yang mayoritas berasal dari Kecamatan Watang Pulu, Sidrap ini, dipicu oleh kasus sengketa tanah.

Para warga ini menuding, Camat Watang Pulu, Drs. Abdul Waris Sadik, telah menjual tanah seluas 6,25 hektare yang tak jauh dari kantor Gabungan Dinas (Gadis) dan kantor Bupati Sidrap, yang terletak di Kelurahan Lakessi Kecamatan Maritengngae watangpulu yang masih dianggapnya itu tanah milik leluhur mereka.

Dihadapan anggota dewan yang menerimanya, La Sendeng, salah seorang perwakilan dari penyampai aspirasi ini mengatakan, bahwa tanah itu adalah milik leluhur mereka, mereka bahkkan menunjukkan bukti berupa dokumen kepemilikan tanah itu.

“Ini ada semua surat-suratnya disini, tanah itu adalah milik leluhur kami yang dijual oleh Abdul Waris,” kata La Sendeng sambil menunjukkan bundelan-bundelan berkas yang dipegangnya.

Bukan cuma itu saja, La Sendeng juga menuding Abdul Waris sengaja mengintervensi pihak Kantor Pajak Pratama Parepare, untuk tidak menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT) yang akan diajukan warga.

Baharuddin Andang yang terpakasa menerima warga ini karena bagian penerima aspirasi sedang melakukan reses mengatakan, semua aspirasi yang disampaikan warga akan diteruskan kepada Komisi I DPRD Sidrap, untuk selanjutnya ditindaklanjuti.

“Silahkan sampaikan apa adanya dan seobjektif mungkin, nantinya, apa yang saudara-saudara sampaikan disini akan diteruskan ke Komisi I untuk disikapi. Komisi ini nantinya yang akan membahasnya,” ujar Baharuddin Andang.

Lain halnya dengan penerima aspirasi lainnya, Ali Hafid. Politisi asal Kecamatan Watang Pulu ini, meminta perwakilan warga ini agar dapat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

Ali Hafid juga sempat membuka-buka beberapa dokumen surat-surat yang dibawa oleh warga dan menanyakan perihal asal-usul tanah tersebut. Selain itu, Ali Hafid juga menyarankan warga agar lebih berhati-hati, sebab masalah ini sangat rentan dengan hukum.

Sementara itu, Camat Watang Pulu, Abdul Waris Sadik, saat ditemui harian Rakyata Sulsel secara terpisah, Senin (10/9) kemarin, mengatakan, dirinya sangat memahami keluhan warga tersebut.

Namun begitu, mantan Lurah Rijang Pittu ini membantah seluruh tudingan yang dialamatkan kepadanya. “Betul saya telah menjual lahan, tapi lahan yang saya jual bukan milik mereka,” ujarnya.

Soal klaim warga tersebut, katanya, warga sama sekali tidak punya dasar. “Bagaimana mungkin mereka mengklaim tanah itu miliknya, sementara tidak ada dasarnya sama sekali,” ungkapnya.

Abdul Waris juga membantah jika dirinya telah mengintervensi pihak Kantor Pajak Pratama Parepare untuk tidak menerbitkan SPPT yang diusulkan  warga. “Bagaimana mungkin seorang camat bisa intervensi Kantor Pajak, ini tidak masuk akal kan. Kalau dibilang saya pernah datang kesana mengklarifikasi, memang betul adanya,” ujar Waris. (k10/dj/C)


Tag
div>