KAMIS , 19 JULI 2018

Cendikiawan Muda Islam Sulsel: Masjid Harus Steril dari Nuansa Politik

Reporter:

Suryad Maswatu

Editor:

asharabdullah

Selasa , 27 Maret 2018 13:45
Cendikiawan Muda Islam Sulsel: Masjid Harus Steril dari Nuansa Politik

Cendikiawan Muda Islam Sulsel, Dr. H. Abdul Wahid, MA

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masjid kerap dijadikan alat berdakwah yang cenderung mengarah kepada SARA. Oleh sebab itu, Cendikiawan Muda Islam Sulsel, Dr. H. Abdul Wahid, MA mengimbau agar masjid dibebaskan dari kepentingan politik. Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan yang perlu diteguhkan kembali.

Dia mengatakan, dimana dalam penyampaianya bahwa kurang lebih 171 daerah yang akan melakukan Pilkada serentak pada bulan Juni 2018, termasuk di dalamnya Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, perlu antisipasi kampanye terselubung.

“Dalam upaya meraih suara rakyat sebanyak-banyaknya, maka para kontestan yang ikut dalam pilkada tahun ini. Jangan menjadikan masjid sebagai alat politik atau kampanye, masjid harus netral dari
kepentingan politik,” ujarnya, Selasa (27/3).

Ia menyebutkan, untuk merebut simpatisan rakyat, kandidat melakukan berbagai macam cara untuk
mempengaruhi hati pemilih. Sehingga hampir seluruh waktu dan tempat mereka gunakan untuk
berkampanye.

Dia mencontohkan, belajar dari tahun-tahun sebelumnya kadangkala Masjid tak luput dari tempat
kampanye, tentu hal ini amat di sayangkan.

“Sebab Masjid di samping sebagai tempat suci bagi umat islam yang digunakan untuk beribadah
kepada Allah SWT. Sejatinya harus bebas dari berbagai aktifitas politik, agar marwah dan nilai-nilai
kesakralan dari masjid tersebut tetap terjaga,” tuturnya.

Wahid menambahkan, walaupun semua pahami bahwa islam juga sangat menjunjung tinggi masalah
politik, tapi tidak berarti masjid dengan serta-merta bisa dijadikan sebagai tempat untuk berpolitik atau
berkampanye.

Menurutnya, keberadaan masjid dalam masyarakat adalah memiliki nilai filosofis yang sangat dalam
diantaranya yakni sebagai simbol pemersatu diantara semua golongan yang ada di sekitar masjid
tersebut.

Oleh karena itu, apabila masjid telah dijadikan sebagai tempat politik (kampanye) dikhawatirkan akan
melunturkan nilai-nilai persatuan yang terdapat di masjid tersebut.

“Walhasil, kita berharap sebagai warga masyarakat kota Makassar khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya agar di tengah perbedaan pilihan politik tidak menjurus pada kekacauan dan kerusuhan, sebab semua itu tidak akan menguntungkan kita malah sebaliknya,” ungkap Wahid.

Lebih jauh, Wahid menuturkan, keberhasilan pilkada langsung dengan aman dan damai adalah tanggung jawab semua komponen masyarakat. Karena itu, untuk menciptakan rasa aman ini, maka sebagai warga masyarakat Sulsel harus protektif terhadap berbagai isu yang dapat menciptakan kekacauan dan memecah belah kita sesama anak bangsa.

“Mari kita kawal bersama-sama proses pilkada langsung ini agar dapat berjalan dengan aman dan lancar sehingga mampu melahirkan pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat untuk mampu menghadirkan rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” pungkasnya. (*)


div>