Rabu, 26 Juli 2017

Cerita Mahasiswa Unhas Menjadi Imam Masjid di New York

Kamis , 05 Januari 2017 09:50

Keliling Berdakwah dan Pimpin Salat Idulfitri di Philadelphia

KECINTAAN pada Alquran mengantar Azizul Hakim Mansyur menjadi imam di Masjid Islamic Centre of New York, Amerika Serikat.

Laporan: Sakinah Fitrianti Baharuddin

PRIA kelahiran Jakarta, 9 April 1996 ini bahagia. Dari ribuan mahasiswa, dapat terpilih menjadi imam masjid terbesar di New York, Amerika Serikat.

“Perasaan pertama menjadi Imam di AS, sangat senang akhirnya bisa berdakwah ke mancanegara,” tutur Azizul kepada FAJAR, Minggu, 1 Januari.

Selama di Amerika Serikat, mahasiswa jurusan ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin angkatan 2014 itu tak hanya menjadi imam masjid. Dia juga sempat berkeliling ke beberapa negara bagian.

Undangan untuk berbagi ilmu dengan sesama muslim juga datang dari beberapa kota. Dakwah Islam antara lain ia sampaikan di Philadelphia, New York, Boston dan Washington DC.

Terpilihnya putra ketiga pasangan Alm Dr Mansyur Semma dan Dr Arfah Tjolleng ini menjadi imam masjid di New York juga melalui seleksi panjang.

Dia mengikuti seleksi yang dilakukan Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali. Aziz menceritakan proses seleksinya dalam bentuk rekaman kemudian dikirim ke Amerika Serikat.

Rekaman itu kemudian diperlihatkan kepada jemaah. Setelah dianggap cocok, terbanglah Azizul ke Amerika Serikat dan tinggal selama tiga bulan.

Dia berangkat bersama pimpinan Tahfizul Quran Darul Istiqamah, ustaz Baharuddin, yang juga terpilih menjadi imam di AS. Aziz mewakili Universitas Hasanuddin dan mahasiswa sebagai delegasi terbaik.

Selain menjadi imam, Azizul juga memiliki agenda yang cukup padat. Di Clinic Alquran, dia banyak memberikan pelajaran seputar Islam dan Alquran.

Pengalaman berkesan lain juara MTQ tingkat universitas selama berada di Amerika Serikat, ketika menjadi imam dan khatib salat Idulfitri di taman Kota Philadelphia. Untuk pertama kalinya juga merasakan puasa selama 17 jam.

Selama tiga bulan berada di negara dengan penduduk beragama Islam sebagai minoritas, pria pehobi olahraga ini merasakan suasana umat Islam menyatu.

“Jemaah di sana sangat bahagia dengan kedatangan ustaz dari Indonesia. Tidak sedikit yang berlomba-lomba mengajak saya berkeliling di AS,” bebernya.

Kedubes Indonesia untuk Amerika Serikat sangat mengapresiasi adanya imam muda dari Indonesia. “Saya beberapa kali berjumpa dalam berbagai kesempatan di Amerika Serikat,” lanjutnya.

Ketua Wilayah Asosiasi Lembaga Alquran Mahasiswa Nasional ini menuturkan, kecintaan pada Alquran saat masih kelas 5 sekolah dasar. Kakak kelasnya memintanya melihat bacaan Alquran.

“Dari situlah saya merasa tertarik. Dalam pikiran saya, ini orang
hebat bisa mengaji tanpa lihat Alquran langsung. Sampai di rumah, saya bilang ke orang tua, mau masuk pesantren,” kenangnya.

Dia juga punya keinginan mampu menghafal Alquran 30 juz. Dalam waktu 34 bulan, Aziz selesaikan hafalannya di Tahfizhul Quran Darul Istiqamah. (fo/rso)