Cermin Keberagamaan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

RAGAM kegiatan ibadah dalam Islam sama dengan kegiatan ibadah pada agama lainnya, mengandung dimensi esoterik dan eksoterik. Dimensi esoterik sifatnya sangat pribadi, bertujuan untuk mendekatkan diri dan menyatu dengan Tuhan melalui cara menyucikan diri, membersihkan pikiran, ucapan dan tindakan yang tidak terpuji.

Dimensi eksoterik adalah dimensi dan implikasi dimana penganut agama dituntut untuk melaksanakan perintah agama, secara terukur dan dapat diamati. Dimensi ini bertujuan untuk membentuk karakter dan kepribadian yang mulia, sehingga prilaku keberagamaan seseorang mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi sesama manusia. Karena itu mendekatkan diri dan berbakti kepada Tuhan melalui ibadah harus dapat mendatangkan manfaat dan pelayanan terhadap sesama manusia.

Kalau ingin mengetahui keberagamaan seseorang atau masyarakat jangan lihat di rumah ibadah tapi perhatikan dalam pergaulan sosial dan ruang-ruang publik. Pada masyarakat muslim Indonesia adalah hal yang biasa bila mereka dapat antre, teratur dan bersih apabila berada di masjid. Tapi kenapa kebiasaan seperti itu hanya berhenti di masjid saja ? Bukankah fungsi sosial agama dimaksud untuk membangun kehidupan pribadi dan sosial yang beradab. Karakter suatu bangsa dapat diketahui melalui kehidupan sosial terutama di ruang-ruang publik.

Islam mengajarkan prinsip ihsan yakni senang mendahulukan kepentingan orang lain baru kepentingan diri sendiri. Prinsip ini seharusnya melahirkan tradisi melayani dan menolong, bukan dilayani dan membebani orang lain. Gambaran sebuah masyarakat bukan ketika mereka berada di tempat-tempat ibadah, melainkan di tempat umum dan pergumulan sosial.

Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, ada pesan moral untuk memberi kesempatan kepada pengguna jalan lainnya yang memiliki kepentingan yang sama dengan kita. Pesan moral yang terdapat pada pelembagaan lampu merah adalah agar kita hidup tertib, teratur, dan saling menghargai dengan orang lain. Kalau seseorang terbiasa menerobos rambu-rambu lalu lintas berupa lampu merah, dapat dipastikan bahwa dia termasuk orang yang suka melanggar aturan dan mengambil hak orang lain.

Sebagai umat beragama apa pun agama yang dianutnya, seharusnya merasa malu ketika agama menjadi sumber beban dan masalah bagi kehidupan kemanusiaan, karena agama turun justru untuk membela dan memelihara martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Orang boleh saja berdalih bahwa ajaran agama mesti benar, yang salah adalah pemahaman penganut agama terhadap ajaran agamanya. Meskipun demikian patut diingat bahwa baik buruknya ajaran agama akan tampak pada praktek dan prilaku penganutnya dalam kehidupan.

Semaraknya rumah ibadah dikunjungi oleh masyarakat penganut agama, tidak berbanding lurus dengan praktek dan kenyataan hidup umatnya. Ada jarak antara idealitas ajaran agama dengan realitas kehidupan penganutnya. Contoh yang paling sederhana adalah ketaatan beribadah ritual tidak selamanya dapat membentuk pribadi pelakunya sebagaimana tujuan dari ibadah tersebut. Tidakkah setiap melakukan perbuatan yang baik kita dianjurkan memulainya dengan mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”. Hal ini mengandung maksud bahwa orang yang beriman hendaknya menjadi penerus untuk menebar sifat kasih-Nya di mana pun kita berada, mulai dari lingkungan kehidupan terkecil yakni keluarga, tempat bekerja lalu diharapkan melebar hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ajaran agama yang berbeda tidaklah dimaksudkan untuk membawa peretengkaran dan permusuhan terhadap sesama, melainkan dengan ajaran agama yang berbeda itu dimaksudkan agar para penganutnya bersatu antara satu dengan lainnya untuk menjaga kedamaian. Kekerasan atas nama agama justru akan menodai kesucian agama yang bersumber dari Tuhan yang penuh cinta kasih. (*)