SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Cinta Itu Setiap Saat

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 13 Februari 2016 12:30
Cinta Itu Setiap Saat

Haidar Majid

Menulis di secarik kertas atau kartu ucapan, disertai sebatang coklat dan setangkai mawar sebagai simbolisasi ungkapan isi hati dan kasih sayang kepada seseorang, menurut saya adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dan tidak harus menunggu momentum tertentu, bisa dilakukan kapan saja. Lantas kenapa harus menunggu tanggal 14 Februari untuk melakukan itu semua? Padahal waktu yang disiapkan dalam se tahun lebih dari cukup. Detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari.

Seorang suami yang sayang pada istrinya, tidak akan pernah membuat waktu menjadi sia-sia untuk menumpahkan segala rasa cinta dan kasih sayangnya. Istri dijadikan sebagai tempat curahan hati, menyampaikan segala keluh kesah dan mengekspresikan rasa bahagia bersama. Sebaliknya, seorang istri yang taat kepada suami akan mengabdikan dirinya setiap saat. Meladeni dan berupaya semaksimal mungkin menjaga harmonisasi hubungan rumah tangga. Menjadi “guru” bagi anak-anaknya, menjaga wibawa dan harga diri suami sebagai seorang kepala rumah tangga, pengayom dan pemimpin.

Adapun cara merawat kasih sayang seperti itu tentu terpulang kepada cara berinprovisasi. Sesekali membuat surprise atau kejutan kecil bagi sang istri dengan memberi ucapan di secarik kertas atau kartu ucapan, disertai sebatang coklat dan setangkai mawar, misalnya saat “Hari Ibu”, Ini dilakukan sebagai ungkapan terimakasih atas kesungguhan seorang istri yang telah mendampingi, sekaligus melahirkan, membesarkan dan merawat anak-anak, tentu bisa menjadi pilihan dalam mengekspresikan kasih sayang seorang suami kepada seorang istri.

Improvisasi seperti itu adalah upaya memperkokoh ekstensi “cinta” yang telah terbina dalam sebuah rumah tangga. Kejutan-kejutan dalam bentuk pemberian hadiah, setiap saat bisa dilakukan, tak harus menunggu momentum tertentu untuk melakukannya. Bukankah yang namanya “cinta” juga hadir setiap saat? Bukankah yang namanya “cinta” harus dibina dan dipupuk setiap saat?

Itulah yang membuat kadang saya merasa lucu sendiri ketika ada orang yang begitu responsif terhadap sebuah kebiasaan yang oleh dirinya sendiri sama sekali tidak memahami substansi dari kebiasaan itu. Sekedar ikut-ikutan, khawatir tidak diklasifikasi sebagai ‘manusia modern’, takut di cap tidak ikut jaman dan seolah-olah telah masuk dalam wilayah peradaban.

Sementara, kebiasaan yang diikutinya sama sekali tidak memiliki korelasi langsung dengan kesehariannya. Jauh dari jangkauan wilayah pemahaman fundamental terhadap kebiasaan yang dilakoninya. Memaksakan diri untuk larut di pusaran atau gelombang yang bisa menyeretnya ke tepi ketidaktahuan dan kebingungan. Dan tentu saja dengan ketidaktahuan seperti itu bisa berakibat pada realita berbalik arah, berharap ikut jaman, ternyata dicibir oleh jaman itu sendiri.

Dalam banyak hal, tipikal orang seperti ini bisa dikategorikan sebagai “korban” akibat ketidaktahuan. Apatis untuk mencari tahu seluk beluk, serta manfaat dan mudharat dari kebiasaan yang dilakonya. Ketidakfahaman ini bisa berakibat fatal, selain karena tidak menggunakan ‘common sense’, juga karena sikap emosional yang tidak terkendali. Sehingga tindakan yang dilakukannya tidak lagi se arah dengan norma-norma yang seharusnya menjadi patron hidup kesehariannya, atau bahkan sama sekali bertentangan.

Mengadopsi sebuah kebiasaan sebisanya disertai referensi yang memadai atas kebiasaan yang dimaksud. Harus ada alasan yang cukup kuat, mengapa kita melakukan kebiasaan itu. Jangan-jangan kebiasaan itu tidak lebih dari sebuah ‘iklan besar industri budaya’ yang memperdagangkan berbagai pernak-pernik budaya dan memposisikan kita sebagai konsumen potensial yang disasar secara massif. Bayangkan, berapa coklat yang terjual di 14 Februari itu?

Selanjutnya, tentu sangat dibutuhkan ketangguhan membentengi diri dari serangan budaya luar yang sama sekali tidak mendatangkan “manfaat” yang berarti, apalagi jika ternyata kebiasaan itu bisa mengikis, menggerus tatanan norma dan kebiasaan yang selama ini terjaga dengan baik. Membangun ‘sense of belongin’ terhadap budaya dan kebiasaan sendiri, tentu jauh lebih bermartabat ketimbang ikut-ikutan kepada budaya atau kebiasaan yang kita sendiri tidak faham, untuk apa dan apa manfaatnya?. (*)


Tag
div>