SENIN , 15 OKTOBER 2018

Cinta Itu

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 09 Desember 2016 16:35
Cinta Itu

Arifuddin Saeni

EVA Braun tak pernah menyangka bahwa kematiannya itu sungguh tragis. Istri sang penguasa Jerman itu, Adolf Hitler, harus bersimbah darah dengan satu peluru di kepalanya. Dan kematian itu memang dicatat dalam sejarah, sebagai sesuatu yang memilukan. Tapi apakah itu perasaan cinta ataukah keputusasaan atau mungkin penderitaan yang tak tertanggungkan. Entahlah.

Tapi cerita ini bukanlah sesuatu yang baru, dia berkelindang di sekitar kita, menari-nari dengan terompahnya–dan dia kadang menusuk hati yang tak terperi, membenamkan kita dalam lubang penderitaan yang tak berujung. Adam dan Hawa yang memulai cerita ini, menjalinkan kisah kepada kita semua tentang kesetiaan dan juga penantian yang panjang.

Tapi cinta kadang melahirkan cemburu yang menghitam. Bagaimana Hera istri Zeus sang penguasa Olympus, membuat Io harus menderita seumur hidupnya menjadi seekor sapi muda mengelilingi permukaan bumi dengan seruling penderitaannya. Cinta tak membuat bahagia karena Zeus sang penggoda tak bisa melindunginya dari Hera yang pecemburu.

Anda mungkin tak sependapat bahwa cinta tak mesti melahirkan kematian, ataukah mengajukan pertanyaan, mengapa kamu harus menderita seperti Io. Tapi bagaimana anda bisa menakar tentang cinta orang lain? Bukankah ia absurd.

Tapi adakah cinta yang tak lekang? Saya teringat dengan apa yang ditulis Ahmad Wahib, dalam sebuah catatan hariannya, “Pergolakan Pemikiran Islam”–Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tidak cinta dan tidak mengerti tentang diri mu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku mengharap cintaku padamu akan pulih kembali—.

Seperti manusia yang lain, ada kegelisahaan selalu muncul pada sudut-sudut kehidupannya. Ia kadang bisa menutupi dengan sesekali tarikan nafas panjang–tapi selebihnya adalah nisbi. Ia tak bisa majenun, karena berada pada kekalahan hatinya.

Tapi cinta yang tak bertepi tak memberikan garis batas yang pasti, ia melewati ruang dan waktu. Kecintaan kepada Allah-nya tak membuat ia lelah untuk berzikir. Ia akan berjalan melandai waktu dengan menimbun kerinduannya. Seperti yang dikatakan Sutardji Calzoum Bachri, “aku telah menemukan jejak/aku telah mencapai jalan/tapi belum sampai tuhan”.

Ketika jutaan orang memenuhi tugu Monas Jakarta, dengan zikirnya yang memenuhi langit ibukota, mereka mungkin bukan hanya karena amarah, tapi rasa cintanya kepada Tuhannya yang menembus langit. Berjalan beratus-ratus kilometer hanya untuk menyambut rasa cintaMu.

“Berapa banyak jejak menapak/agar sampai padaMu?. Sutardji, menggabarkan perasaan cintanya kepada Tuhannya. (****)


div>