SENIN , 15 OKTOBER 2018

City Tour Terakhir SPW Sebelum Pulang ke Indonesia

Reporter:

Editor:

hur

Kamis , 17 Maret 2016 07:40
City Tour Terakhir SPW Sebelum Pulang ke Indonesia

int

MAKKAH, RAKYATSULSEL.COM – PT Saudi Patria Wisata kembali membawa jamaahnya melakukan citytour yang terakhir di Kota Mekkah, Rabu 16 Maret 2016, di Mekkah, Arab Saudi.

Ada tiga tempat yang di kunjungi yakni. Tempat pertama dikunjungi adalah Museum Arsitektur Dua Masjid Suci di Mekkah. Di museum ini terdapat benda-benda bersejarah dari Masjid Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Museum ini menawarkan wisata edukasi tentang sejarah 2 masjid suci di Arab Saudi. Benda-benda bersejarah Masjid Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipamerkan di museum nan asri ini.

Museum ini diresmikan oleh Raja Abdullah 23 tahun yang lalu. Bagi wisatawan maupun jamaah umroh yang ingin berkunjung wajib mengantongi izin dari Kementerian Kebudayaan Arab Saudi.

Bangunan museum tidak terlalu besar. Ada 4 pilar kokoh berdiri di bagian depan museum yang didominasi cat warna putih dan abu-abu. Tulisan ‘Exhibition of the two mosques architecture’ terpampang di sisi kiri bangunan museum.

Maket Masjid Masjidil Haram dan aneka foto Masjid Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bagai ‘menyambut’ hangat kedatangan para pengunjung yang ramai di mulut pintu masuk museum. Museumnya bersih, tertata rapi dan full AC membuat pengunjung merasa nyaman.

Melangkah ke dalam, ada tangga yang terbuat dari kayu warna coklat dan beroda. Tangga itu merupakan tangga ka’bah yang dibuat dari kayu saaj pada 1240 Hijriah.

Di sisi kanannya, ada deretan bebatuan yang berpahat tulisan ayat Alquran. Di lokasi yang sama ada display Maqom Ibrahim. Terus bergerak menyusuri museum, ada kiswah Ka’bah serta alat pemintal kiswah yang usianya ribuan tahun.

Selanjutnya menuju deretan display Hajar Aswad. Display ini menarik hati para pengunjung untuk berpose ria seolah menyentuh Hajar Aswad. Jepreet!

Memasuki area ‘perpustakaan’ dipamerkan koleksi Alquran. Ada Alquran asli yang ditulis tangan dan ada juga ayat-ayat Alquran yang dipahat di bebatuan warna biru dan hijau.

Di area berikutnya, ada sumur air Zamzam lengkap dengan tali dan ember. Sumur itu terbuat dari besi yang kokoh. Display menggambarkan lokasi sumur air Zamzam di dekat Kabah, dan penyajian air zamzam dari masa ke masa.

“Berapa kalima ke Makkah, barusanku masuk di sini. Senang sekalia,” ujar Dg Taga dari Takalar.

Kunjungan kedua dilakukan ke peternakan unta. Dahulunya jamaah haji atau jamaah umrah menggunakan unta untuk bisa datang ke Makkah ataupun Madinah.

Tentunya memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Dizaman modern sekarang ini unta sudah tidak di gunakan lagi sebagai alat angkut bagi para jamaah haji. Di kota Makkah dan Madinah sendiri banyak kita temui ladang-ladang peternakan unta (mazraah ibil.) Ladang-ladang peternakan unta di kota Makkah banyak terdapat di daerah Hudaibiyah, Asyuraeek (dahulunya adalah lembah hunain), Ja’ronah, Malakan dll.

Sekarang ini ladang-ladang peternakan unta di manfaatkan oleh orang-orang arab gunung (baca Badwi) sebagai daya tarik untuk berkunjung ke peternakan mereka. Mereka memperkerjakan orang-orang sudan (baca Sudani) sebagai pengembala dan pemerah susu unta.

Jamaah haji ataupun jamaah umroh yang paling banyak berkunjung ke peternakan unta adalah jamaah dari Indonesia dan jamaah dari malaysia. Para jamaah sering ditawarkan memerah susu unta sendiri oleh si pengembala unta. Susu unta dapat di beli dengan harga lima real untuk ukuran botol kecil 350 ml.

“Seperti ji susu beruang kurasa ini susu untayya,” kata Syarifuddin.
Masyarakat Arab umumnya menjadikan air susu unta sebagai pencegahan dan pengobatan penyakit diabetes (baca dalam bahasa arab buol sukari) dan penyakit jantung. Orang arab zaman dahulu minum air susu unta untuk bisa bertaham hidup di gurun pasir. Susu unta kaya dengan kandungan vitamin B, vitamin C dan mineral yang sepuluh kali lebih banyak dari pada susu sapi. Susu unta mempunyai kadar lemak jenuh yang lebih sedikit di bandingkan dengan susu sapi.

Tempat ketiga yang dikunjungi adalah Masjid di Hudaibiyah. Ini adalah salah satu tempat yang bersejarah di kota Makkah. Hudaibiyah merupakan kawasan padang pasir yang luas dan merupakan kawasan pengembalaan hewan ternak unta dan kambing. Terletak di luar kawasan tanah Haram berjarak 22 km dari Masjidil Haram. Dan dua kilometer dari tapal batas tanah Haram jalan jeddah lama / tariq jeddah qadim.

Di tempat inilah terletak masjid tua yang hanya tinggal puing -puingnya saja. Masjid tersebut bersebelahan dengan masjid yang baru yang sering dijadikan tempat miqot umroh oleh para peziarah. Masjid tersebut tersebut terbuat dari susunan batu-batu gunung dengan pengikat dari pasir dan kapur gunung. Hanya masih beberapa bagian dinding saja yang tersisa. Bagian mihrab daripada masjid tersebut masih kelihatan utuh. Setengah bagian dinding samping kiri tinggal pondasinya saja. Ketebalan tembok masjid tersebut satu hasta tangan orang dewasa, dengan ketinggian tembok tiga meter.

Masjid yang sudah berusia lebih dari 1400 tahun tersebut sebagian dindingnya masih berdiri kokoh. Masjid tua ini sudah tidak mempunyai atap. Semenjak masjid baru di bangun maka mesjid yang bersejarah tersebut tidak dipergunakan lagi bahkan kesannya terlihat terbengkalai tanpa adanya pemeliharaan dan pemugaran sedikitpun dari pemerintah keraajaan Arab Saudi.

Di Masjid inilah sejumlah jamaah PT Saudi Patria Wisata singgah sholat ashar berjamaah sekaligus miqat untuk melakukan umrah yang ketiga kalinya yang hendak melakukan umrah ketiga kalinya.


div>