MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Curhatan Pemuda Pulau Harapan, Lakkang

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Selasa , 23 Februari 2016 23:12
Curhatan Pemuda Pulau Harapan, Lakkang

Dermaga di Pulau Lakkang (foto:RakyatSulsel)

Penulis: Sukarno (Tokoh Pemuda Kelurahan Lakkang)

RAKYATSULSEL.COM – Jika anda berkunjung ke Kota Makassar, maka yang indentik sebagai ikon kota daeng adalah pantai losari, akkarena, bugis waterpak, tanjung bayang, pulau samalona dan masih banyak tempat yang lain sering mungkin anda kunjungi.

Sebagai ibukota provinsi tentu Pemerintah Kota Makassar selalu berinovasi untuk menjadikan kota daeng sebagai destinasi kota terdepan di wilayah Indonesia Timur. Tetapi ada hal yang cukup menarik yang banyak orang tidak mengetahui bahwa dibalik slogan Makassar menuju Kota Dunia ada banyak hal yang kurang singkron dengan slogan tersebut atau jauh api dari panggang.

Sebagai salah contoh adalah keberadaan Pulau Harapan (Pulau Lakkang) atau banyak orang yang menyebut delta ditengah kota. Apa yang terjadi dengan kelurahan Lakkang? Sebuah pulau yang terlihat dekat namun ketika anda berkunjung di Kelurahan Lakkang terasa jauh. Padahal menurut sejarah pulau itu sudah ada sejak abad k 16 dan telah dihuni oleh para kerabat dan masyarakat biasa kerajaan Tallo dan Gowa.

Bungker Jepang dan pembatas wilayah atau orang Lakkang menyebutnya (Palayya) Hindia Belanda dibangun sebelum Indonesia merdeka adalah bukti sejarah pada masa itu yang masih ada sampai saat ini. Disamping itu terdapat sebuah tombak yang dimiliki oleh masyarakat keturunan Raja Gowa dan Tallo yang membuktikan bahwa benar Lakkang ada sejak dulu.

Bertani “anak petani” dan nelayan adalah mayoritas pekerjaan masyarakat Pulau Lakkang. Kini pulau harapan itu masih sangat terbelakang dari segi infrastruktur. Mulai dari masa orde lama, orde baru, reformasi sampai saat ini keterlibatan Pemerintah Kota Makassar sangat kami butuhkan. Meskipun Pulau Lakkang telah ditetapkan sebagai lahan konservasi atau penelitian oleh Pemerintah Kota Makassar.

Penulis pernah merasakan bagaimana beratnya perjuangan hidup dengan tinggal di Kelurahan Lakkang. Mulai dari air bersih sampai pada saat saya menempuh pendidikan diluar Kelurahan Lakkang. Berjalan kaki sampai kurang lebih 2 kilometer dan menyebrangi sungai Tallo demi sejuta mimpi menjadi orang baik dan hebat adalah makanan empuk bagi para pelajar dan mahasiswa yang ada di Pulau Lakkang. Belum lagi antrian menunggu perahu untuk datang menjemput dan mengantar yang terkadang membuang banyak waktu sungguh sangat luar biasa.

Kini akses menuju pulau harapan itu sedikit terbantu dengan adanya partisipasi pemerintah kota, swadaya masyarkat dan budaya orang Lakkang (gotong royong) membangun akses jalan terdekat menuju Pulau Lakkang adalah mimpi penulis yang sejak lama dan saat ini telah berjalan meskipun dalam tahap proses pengerjaan.

Terima kasih untuk semua atas sumbangsi ide, dan partisipasi. Kerjasama yang baik, kompak dan tetap mempertahankan budaya gotong royong adalah kunci kemajuan Lakkang tentu kita barengi dengan musyawarh mufakat dalam mencapai sebuah tujuan bersama yang berasaskan kejujuran, transparansi dan keterbukaan. Salamaki.

 


div>