SABTU , 20 OKTOBER 2018

Damai Tanpa Batas

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 29 Maret 2016 10:00
Damai Tanpa Batas

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Dalam hidup setiap orang ingin meraih apa saja yang didambakan. Keluarga yang bahagia, karir yang gemilang, sukses dalam studi, bisnis yang membawa keuntungan, cemerlang di pentas politik dan sederet keinginan lainnya. Semua yang didambakan itu adalah wajar, sepanjang diraih dan diperoleh dengan benar serta tidak merugikan orang lain.

Namun kenyataannya dalam meraih apa yang didambakan, banyak orang tidak lagi memperhatikan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi, misalnya tidak berbuat zalim kepada siapa pun, mengedepankan kebenaran dan keadilan, tidak menghalalkan semua cara hanya demi tujuan-tujuan yang remeh dan bersifat sementara dalam hidup. Pada gilirannya dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya.

Perdamaian tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan agama, keyakinan atau pun kepercayaan, status sosial, partai politik, suku, bangsa, jenis kelamin, jabatan dan jenjang pendidikan. Bahkan damai tidak hanya dituntut kepada orang lain, tetapi perlu berdamai dengan diri sendiri.

Ketika Rasulullah Muhammad saw. berhijrah ke kota Madinah, memesankan lima hal: “Tebar perdamaian, entaskan kemiskinan, wujudkan kasih sayang, salat tahajud, dan raihlah tempat yang damai di surga”.

Pesan Rasulullah yang penuh dengan nilai moral, menukik jauh menembus batas zaman yang kini sangat mengangungkan individualisme dan mementingkan diri sendiri. Hal ini seakan-akan memberi isyarat bahwa di suatu masa dalam perjalanan hidup, setiap orang berlomba dan bersaing dengan sesamanya untuk meraih hal-hal yang sifatnya sangat sementara. Misalnya jabatan, popularitas, materi, kedudukan, kekuasaan dan pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

Menebar perdamaian bukan hanya suasana hidup tanpa perang, kekerasan atau konflik. Perdamaian sejati adalah ketika tidak adanya kekerasan struktural, atau terciptanya keadilan sosial serta terbentuknya suasana hidup yang harmoni. Mewujudkan perdamaian tidak hanya mengurangi jumlah tindak kekerasan di antara sesama manusia, namun yang terpenting adalah hadirnya usaha maksimal dari setiap orang untuk mewujudkan rasa tentram, damai dan harmoni dalam realitas kehidupan sosial. Hal ini erat kaitannya dengan usaha dan keinginan masing-masing orang untuk menciptakan suasana perdamaian sejati dengan cara-cara yang manusiawi, dimana, kapan dan dalam suasana apa pun.

Nilai-nilai perdamaian dapat ditemukan dan diinspirasi melalui pandangan-pandangan keagamaan dan kebijakan-kebijakan masyarakat yang dikenal dengan istilah kearifan lokal. Islam misalnya, disebut sebagai agama perdamaian. Zuhairi Misrawi dalam buku Alquran Kitab Toleransi menulis, bahwa ada tiga alasan untuk menyatakan Islam sebagai agama perdamaian. Pertama, Islam bermakna kepatuhan diri kepada Tuhan dan perdamaian. Kedua, salah satu nama Tuhan dalam al-asma’ al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam). Ketiga, perdamaian dan kasih sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. Karena itu, siapa saja yang menolak perdamaian dapat dikategorikan sebagai sikap menolak esensi agama dan perdamaian.

Keragaman adalah sebuah keniscayaan hidup, tidak mungkin untuk dapat diseragamkan. Dalam hal suku, bahasa, budaya maupun agama. Perbedaan-perbedaan itu diharapkan semakin menambah corak keindahan kehidupan kita. Seringkali pola berpikir picik menjebak kita, orang yang sepaham dengan kita dikategorikan sebagai saudara, sedang yang tidak sepaham kita sebut sebagai musuh. Kita khususkan surga untuk kelompok yang bergabung bersama kita, sementara neraka kita peruntukkan kepada orang lain. Label sesat dengan mudah kita berikan kepada yang lain, sementara yang selamat hanya kelompok atau orang yang bersama-sama dengan kita.

Padahal setiap orang senantiasa memiliki kekurangan dan kelebihan, yang menyatukan manusia adalah saling mencintai, sehingga kekurangan yang satu akan tertutupi dengan kelebihan yang lain. Penuhi seruan Tuhan untuk saling mengenal, saling mengerti, saling memahami dan saling menghargai. Jangan pernah melupakan bahwa cinta dan persaudaraan merupakan harta yang paling berharga bagi setiap manusia. (*)


Tag
div>