SABTU , 15 DESEMBER 2018

Damailah di Bumi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 07 Maret 2017 09:31
Damailah di Bumi

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak kolega dan relasi sosial, semakin banyak pula peluang seseorang berbuat salah. Sehingga mestinya semakin sering meminta maaf. Andaikan tidak ada kata maaf, tentu kehidupan ini terasa sempit dan tidak nyaman dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Sedangkan orang yang enggan memaafkan, larut dalam kekesalan dan membenci orang lain, akan terasa semakin berat memikul beban pikiran dan perasaan yang menghimpitnya. Padahal, sekiranya dia memaafkan, melupakan kesalahan orang terhadapnya dan membangun lembaran baru di hari esok, tentu akan melegakan perasaan dan menyempurnakan dirinya menjadi manusia yang sebenarnya.

Renungkan lalu banyangkan perkataan dan perbuatan kita setiap hari. Apakah itu kepada keluarga, teman sejawat, karib-kerabat, tetangga, atau siapa saja yang bergaul dan memiliki relasi sosial dengan kita. Sesungguhnya dapat dipastikan bahwa tiada hari yang kita lalui tanpa berbuat salah. Sengaja atau tidak sengaja, seringkali perkataan atau perbuatan menyinggung perasaan orang lain yang ada di sekitar kita. Tapi aneh, begitu mudahnya kita melupakan kesalahan itu.

Sementara ketika orang berkata atau berbuat kesalahan kepada kita, betapa sulit dan beratnya melupakan kesalahan orang itu. Karenanya, dalam bahasa agama meminta maaf adalah sesuatu yang terpuji, namun memaafkan jauh lebih utama daripada menunggu orang lain memohon maaf.

Demikian halnya dalam beragama, pesan dan ajaran agama ibarat air yang menyejukkan atau ibarat obat yang dapat menghilangkan penyakit terutama penyakit sosial. Dengan agama kehidupan masyarakat menjadi damai, makmur dan bahagia. Jika akhir-akhir ini kita sama menyaksikan kehidupan beragama membawa kesan keras dan begitu mudah melahirkan kebencian di antara sesama warga negara dan umat beragama, maka pasti ada yang salah dalam menjalin komunikasi sehingga menuntut untuk segera dicari jalan keluarnya.

Setiap orang dapat saja berkata bahwa ajaran agama pasti benar, yang salah adalah pemahaman umat atau pengikut terhadap ajaran agamanya. Namun demikian harus disadari bahwa dampak baik maupun buruk satu ajaran agama akan terlihat pada pengamalan dan praktek hidup penganutnya. Mirip dengan produk jamu yang diiklankan oleh pembuatnya, sesering apa pun ia menawarkan, untuk membuktikan khasiatnya adalah dengan cara memakai atau menggunakannya.

Karena itu setiap umat beragama, apa pun agama yang diyakininya harus merasa malu apabila ajaran agama menjadi pemicu atau sumber yang mendatangkan masalah bagi kehidupan warga negara dan kemanusiaan. Dalam prakteknya, ajaran tentang amar makruf (ajakan kepada kebaikan) harus dilakukan dengan makruf (cara yang baik), nahi munkar (mencegah hal-hal yang mendatangkan keburukan) harus dilakukan tidak boleh dengan cara yang buruk atau membawa kerusakan.

Semua agama dibawa dan diajarkan oleh orang yang menjadi pilihan Tuhan dan memiliki akhlak yang mulia. Agar dapat menuntun kaum dimana dia diutus dan menjadi contoh pengikut-pengikutnya. Kalau ada orang yang menyebarkan agama dengan mengaku pewaris nabi, namun dia mencederai nilai-nilai kemanusiaan dengan cara mengabaikan akhlak mulia, maka pada dasarnya telah merusak citra kemuliaan agamanya. Sejarah masa lalu cukup menjadi pelajaran ketika pengikut Yahudi, Nasrani dan Islam pernah saling menupahkan darah atas nama Tuhan sehingga agama dibela, disebarkan, dicurigai dan dibenci.

Kini saatnya untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan di bumi secara santun dengan mengembangkan peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Semua umat beragama harus mendukung kemajuan dan menolak kejumudan, mendukung keadilan dan menolak kesewenang-wenangan, mendukung kesantunan dan menolak kekerasan, mendukung kesejahteraan dan menolak kemiskinan dengan dalih apa pun. (*)


div>