JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Damailah di Bumi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 26 Januari 2016 12:00
Damailah di Bumi

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, di antara makhluk ciptaan-Nya yang lain. Bandingkan dengan ular yang berjalan dengan perutnya, atau binatang lainnya sungguh berbeda dengan manusia, apalagi dengan adanya akal sehingga semakin nyatalah perbedaan itu. Tuhan mengungkapkan keutamaan manusia dalam Alquran: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (QS. At-Tin/95 : 4-5 ).

Ketika akal digunakan sesuai dengan fungsinya, maka di saat itu manusia dapat berfungsi sebagai khalifah. Namun bila akal tidak difungsikan sebaik-baiknya, maka manusia akan jatuh lebih rendah dari pada binatang. Coba perhatikan dalam hal makan, binatang akan makan sesuai dengan batas kebutuhannya. Sedang manusia dengan menggunakan akalnya seringkali makan tanpa mengenal batas. Dalam berbagai hal manusia tidak perlu malu untuk mengakui bahwa mereka yang mengatakan diri berakal, terkadang harus belajar pada makhluk yang katanya tak berakal. Perhatikan burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan perut kosong, akan pulang di senja hari dalam keadaan perut kenyang karena usahanya. Demikian pula dalam hal membuat rumah/sarang, betapa tekun dan kompak dalam menyelesaikannya.

Hal lain yang diciptakan Tuhan untuk manusia dan tidak kepada selainnya yakni agama, kepercayaan, keyakinan, dan tradisi. Sebagai pelengkap akal pikiran dalam menelusuri perjalanan hidup yang dipenuhi cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Jadi agama diciptakan untuk memenuhi kebutuhan akan kebaikan dan tumbuhnya kesadaran betapa pentingnya berbagi kasih terhadap sesama. Agama diciptakan bukan untuk menjadi alat yang digunakan untuk saling membenci, saling menyakiti, atau saling membunuh di antara sesama.

Melalui ajaran-ajaran agama, tidaklah dimaksudkan untuk membawa kepada pertengaran dan permusuhan. Namun dengan agama yang berbeda itu, diharapkan umat manusia dapat bersatu dengan yang lain dalam menciptakan dan menjaga kedamaian di bumi. Meskipun manusia menyebut dan memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda sesuai dengan sebutan yang disukai, hendaknya manusia menghargai dan menghormati perbedaan dan keragaman itu sebagai pilihan. Karena bagaimanapun juga semua bermaksud untuk kembali kepada Tuhan yang satu.

Kekerasan atas nama agama, apa pun alasannya sekalipun dimaksudkan untuk menjaga kesucian agama, justru telah menodai kesucian agama itu sendiri yang bersumber dari Tuhan yang penuh cinta dan kasih sayang. Kalau ada di antara penganut agama yang merasa terganggu dengan orang lain yang berada di jalan berbeda, kemudian ingin mempertahankan agama yang diyakininya, maka pertahankanlah agama yang diyakini itu agar tetap sebagai agama yang memiliki cinta kasih terhadap sesama.

Boleh jadi Tuhan bersama orang-orang yang kita sakiti dengan kata-kata atau pun perbuatan, atau bersama dengan orang-orang yang kita benci, atau pada apa saja yang mungkin kita telantarkan. Karena Tuhan ada dan menyaksikan semua kata-kata, sikap, perilaku baik yang kita nyatakan maupun yang tersembunyi di dalam hati.

Dalam sebuah hadis Qudsi Tuhan berfirman: “Wahai Musa, engkau mengaku beriman dan cinta kepada-Ku, tapi Aku pernah sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku. Aku pernah lapar, namun engkau tidak memberi-Ku makan. Aku pernah kedinginan, namun engkau tidak memberi-Ku pakaian. Musa menjawab: Tuhan bagaimana mungkin semua itu aku lakukan, bukankah Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak membutuhkan semua yang Engkau sebutkan?. Tuhan pun berkata: Dulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya engkau menjenguknya maka niscaya engkau temukan Aku di situ. Dulu ada hamba-Ku yang lapar, sekiranya engkau memberinya makan niscaya engkau temukan Aku di situ. Dulu ada hamba-Ku yang telanjang, sekiranya engkau memberinya pakaian niscaya engkau temukan Aku di situ”.

Pada hadis Qudsi yang lain Tuhan berfirman: “Semua makhluk adalah keluarga-Ku, dan yang paling dekat dengan-Ku  adalah yang paling cinta terhadap sesama makhluk”. Karena itu damailah di bumi dengan cara berbagi kasih dengan sesama makhluk Tuhan yang lain.


Tag
div>