MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Damri Merugi, 20 Unit BRT Terancam Ditarik

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Kamis , 28 Desember 2017 10:53
Damri Merugi, 20 Unit BRT Terancam Ditarik

ilustrasi.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sekitar 20 unit Bus Rapit Trans (BRT) terancam dikembalikan ke pusat lantaran kerugian yang dialami Damri dinilai sangat besar. Kepopuleran BRT belum cocok dengan kebiasaan warga Sulsel.

General Manager Perum Damri, Ilyas Hariyanto, mengungkapkan, dari total 30 unit BRT di Makassar, 20 ditarik dan tersisa 10 yang akan tetap beroperasi di wilayah Makassar dan sekitarnya. Tentunya, pihak Damri akan selektif untuk melayani rute komersial yang menjanjikan. Nantinya, hanya dua koridor yang akan dibuka yakni mal ke mal dan Panakkukang-Pallangga.

“Daripada kami terus merugi. Bayangkan kalau operasional satu unit bus harus disubsidi Rp 300 ribu sehari, 20 unit berarti Rp 6 juta sehari. Sebulan Rp 180 juta. Setahun berapa,” beber Ilyas, Rabu (27/12) kemarin.

Ditariknya 20 unit Damri ke pusat juga mengancam gaji pegawainya. Sebanyak 170 orang karyawan operasional BRT memperoleh gaji dari hasil operasional angkutan massal itu.

“Kami terus merugi. Susah BRT berkembang di sini. Makanya, pusat mau ambil 20 unit. Kasian ini sopir dan pegawai tiketingnya, mereka kan dapat gajinya di situ,” terangnya.

Menurut Ilyas, jika Pemprov Sulsel mau subsidi biaya operasional untuk sementara, mungkin kerugian yang dialami tidak terlalu besar. Yang disayangkan, karena Pemprov Sulsel melalui Dinas Perhubungan sudah membuat ratusan halte untuk sejumlah koridor.

“Seandainya biaya pembangunan halte dialokasikan sebagian untuk subsidi sambil memasyarakatkan angkutan ini,” harapnya.

Sementara, salah seorang sopir Bus yang enggan dicantumkan namanya mengaku sangat disayangkan apabila ini terjadi. Ia khawatir akan menelantarkan keluarganya. “Saya cuma kerja di sini, kalau nanti diberhentikan apa mi namakan anak istri. Saya harap pemerintah carikan solusi yang mana baik lah,” keluhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Lalu Lintas dan Jalan Dinas Perhubungan Sulsel, Hendra Tenritata, mengaku, informasi penarikan 20 unit damri itu belum dikategorikan secara pasti.

Namun, persoalan kurangnya sosialisasi ke masyarakat sehingga membuat BRT tidak diminati. Jika diintensifkan, optimalisasi penggunaan angkutan massal tersebut terpenuhi.

“Bus tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Perhubungan, tidak mungkin akan ditarik kembali. Malah sebenarnya, Kementerian Perhubungan akan kembali memberi bantuan sejumlah unit Damri tahun depan. Jadi menurut saya bukan mau ditarik. Pusat sudah sumbangkan. Malah karena beberapa koridor sudah selesai, kita usulkan penambahan lagi,” jelas Hendra.

Dia melanjutkan, sejauh ini tidak ada rencana pembongkaran halte. Kecuali beberapa halte di Gowa dan Takalar karena mengambil bahu jalan sehingga menyebabkan sering terjadi kemacetan.

Tahun ini, sebanyak 44 halte dibangun Dishub. Sementara sebelumnya sudah tersedia 170 unit halte. Sehingga, total halte yang sudah dibangun sebanyak 214 unit. Jika estimasi anggaran untuk pembangunan satu unit halte sebesar Rp 100 juta, maka anggaran yang sudah dikeluarkan sekitar Rp 21,4 miliar.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengaku belum tahu persoalan tersebut. Ia berjanji akan langsung menanyakan apa masalahnya sehingga 20 unit bus BRT tersebut akan ditarik.

“Saya belum lihat suratnya dan sulit menjawab kalau belum melihatnya. Saya baru dapat informasi dari kalian. Saya akan tanyakan dulu apa masalahnya,” kata Syahrul saat dikonfirmasi. (*)


div>