RABU , 12 DESEMBER 2018

Danny-Deng Ical

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 31 Maret 2017 09:53
Danny-Deng Ical

Arifuddin Saeni

WAKTU kadang bukanlah sesuatu yang nisbi. Ada masa, di mana kita tak bersentuhan langsung dengan seseorang, tapi kita cukup mengenalnya dengan baik. Seperti Danny Pomanto-Syamsu Rizal. Nama yang sangat mengental untuk ukuran kota Makassar.

Saya pun tidak bersentuhan langsung dengan kedua nama itu. Danny saya baru kenal ketika melakukan perjalanan ke negeri Jiran, Malaysia, bertemu langsung dengan Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Haji Abdul Razak, di rumah jabatannya, beberapa tahun yang lalu, bersama Bapak Ichsan Yasin Limpo, ketika masih menjabat Bupati Gowa. Tak ada yang istimewa, bahwa Danny adalah sosok yang sederhana.

Hal yang sama ketika bertemu dengan Deng Ical, pada saat acara Palang Merah Indonesia di Jakarta, tiga tahun yang lalu. Dia begitu begitu mudahnya menyapa setiap orang yang ditemuinya. Tak heran kalau banyak yang menyebutnya orang sombere’na Makasar. Di sana, tidak ada keprotokoleran yang ketat, bahkan dengan celana pendeknya dia duduk di tembok pinggiran kanal Jakarta, sembari berbicara dengan satpam hotel.

Tapi, Danny-Deng Ical barangkali bisa jadi adalah bagian dari sebuah cara berpikir dan berbudaya. Ketika Makassar dengan gedung-gedungnya menjolok langit, kita diperhadapkan dengan budaya hedonis yang hanya bisa di jawab, halo bos. Kita kadang ringkih dengan perubahan itu, tapi siapa yang bisa menahannya. Ia hadir dalam ruang-ruang kehidupan kita, dan mungkin juga mimpi-mimpi kita.

Dan perubahan itu, memang tak perlu mengundang kecemasan. Sebab, modernitas seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad, akan berdiri bersama dengan mereka yang sering kecewa. Entah karena apa. Dan kecewa itu, kadang berujung pada rasa prustasi dan kerenggangan pertemanan.

Tapi Danny-Deng Ical bukanlah sesuatu yang utuh dalam modernitas di kekinian. Keduanya bukan hanya untuk Makassar, tapi juga mereka akan terkurung dalam permainan politik yang kadang kala, membuat mereka harus menjaga jarak. Padahal, Makassar sesungguh menjadi panggung yang elok bagi keduanya–yang entah untuk selanjutnya.

Makassar bagi Danny-Deng Ical, bukan hanya sekadar kota dunia. Makassar adalah sumbu dari sebuab ide dalam berkemajuan. Ia lahir dari sebuah gagasan untuk dunia. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa Danny-Deng Ical, tak akan lepas dari permainan-permainan politik yang penuh syahwat. Bukankah kepentingan politik bisa merenggangkan sebuah kepemimpinan. Mudah-mudahan tidak.

Sebab, Danny-Deng Ical, adalah wakil dari sebuah demokrasi yang utuh. (***)


div>