MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Danny Dipusaran Parpol

Reporter:

Suryadi - Armansyah

Editor:

Iskanto

Rabu , 19 September 2018 13:28
Danny Dipusaran Parpol

Ilustrasi (Doc. Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah partai politik (Parpol) menaruh harapan besar kepada Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto dalam kontestasi Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 mendatang.

Bagaimana tidak, 5 ribu lebih RT/RW dibawah kendali Danny di Kota Makassar menjadi potensi besar untuk mendulang suara.

Disatu sisi, Partai Demokrat, Berkarya dan PSI yang pernah mendukung Danny di Pilwalkot Makassar sepertinya harus gigit jari setelah Danny menyatakan sikap untuk bergabung ke NasDem.

Sementara Partai Perindo masih bernasib baik. Pasalnya Danny menitip sang istri, Indira Jusuf Ismail nyaleg di partai besutan Hary Tanoesoedibjo tersebut.

Ketua DPC Partai Demokrat Makassar, Adi Rasyid Ali (ARA) mengaku merasa kehilangan. Awalnya kata dia, sangat berharap agar orang nomor satu di Kota Makassar itu bergabung dengan Demokrat, namun fakta berkata lain.

“Kami Demokrat Makassar sangat merasa kehilangan. Awalnya kami sangat ingin pak Danny di Demokrat, tapi yah, itulah politik,” kata ARA, Selasa (18/9).

Meski demikian, ARA menyebutkan jika partainya dan Danny memiliki kesepakatan khusus atau perjanjian untuk dilaksanakan pada momentum politik Pileg 2019.

“Meski beliau gabung di NasDem, tapi saya sama pak Danny ada kesepakatan dan perjanjian khusus untuk 2019. Hanya saya sama pak DP yang tahu,” katanya.

ARA mengatakan, politik itu dinamis. Sikap Danny untuk masuk bergabung di NasDem harus dihargai dan tak boleh terlalu jauh mencampuri urusan hak politik Danny.

Menurutnya, apa yang dilakukan sesuai pertimbangan, dan hak politik Danny sebagai figur Wali Kota Makassar untuk rencana ke depan. “Saya tidak ingin terlalu jauh mencampuri hak politik beliau,” ucapnya.

ARA menambahakan, ia sangat paham alasan Danny ingin masuk ke NasDem. Namun terlalu dini untuk disebutkan. “Saya paham sekali kenapa beliau masuk NasDem, namun tidak mungkin saya jelaskan,” pungkasnya.

Ketua PSI Sulsel, Fadli Noor menegaskan, PSI tidak akan meninggalkan Danny Pomanto, meski telah bergabung di parpol lain. “Pada intinya, PSI akan tetap bersama pak Danny,” ujarnya.

Partainya tetap akan menjalankan keputusan politik Danny, termasuk bila harus memenangkan kembali pada 2020 mendatang. “PSI tetap berada di barisan pak Danny, dan akan memutuskan mendukung 2020,” katanya.

Untuk Pileg 2019, pihaknya sangat berharap Danny akan tetap bersama untuk menempatkan kader PSI di parlemen. “Artinya kita juga ingin kader masuk di parlemen tahun 2019 nanti,” ucapnya.

Dia menambahakn, PSI telah melakukan penguatan jaringan baik untuk upaya pemenangan pileg maupun pemenangan pilpres 2019.

“Semua kader tetap solid. Dan bahkan kini jaringan PSI semakin meluas dengan bergabungnya caleg-caleg eksternal yang sudah diwajibkan bekerja,” pungkasnya.

Sementara Wali Kota Makassar, Danny Pomanto mengatakan, dirinya sudah waktunya untuk berpartai. Pasalnya sejak maju di periode pertama menjadi wali kota, dirinya hanya didukung oleh partai tanpa menjadi kader partai.

“Saya pikir sudah waktunya saya berpartai. Berpartai itu mendedikasikan diri meski nanti bukan wali kota,” ungkap Danny, Selasa (18/9).
Danny juga mengaku tetap mendukung partai-partai yang mendukungnya pada Pilwali lalu. “Kita hargai kesetiaan itu dengan saling memberi manfaat. Kita sama-sama dan saling bantu,” jelasnya.

“Semua partai, partai saya semua. Tidak mungkin saya masuk semua jadi satuji saya masuk,” lanjutnya.

Danny menambahkan, alasan memilih partai besutan Suryo Paloh yakni persamaan misi yang dibawa untuk kemaslahatan ummat. Pemerintah kota membawa misi restorasi tata ruang, sementara hal yang sama di Partai NasDem yakni restorasi Indonesia.

“Kita sama-sama di misi. Lihatmi misi Pemkot Makassar salah satunya restorasi tata ruang, lihat Partai NasDem restorasi Indonesia, sama-samaji,” katanya.

Lanjut Danny, pihaknya hanya menunggu arahan dari Partai NasDem soal pelantikan. Pasalnya dirinya menyerahkan persoalan kepartaian kepada petinggi Partai. (*)


div>