KAMIS , 13 DESEMBER 2018

Danny Pomanto dan VOC

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

Lukman

Senin , 05 Februari 2018 18:38
Danny Pomanto dan VOC

Maqbul Halim

BANYAK pihak yang berkepentingan di Pilkada Kota Makassar 2018. Kepentingan tersebut dikendalikan oleh para pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Kesemuanya itu bermuara pada calon-calon yang sekarang ini sedang meretas jalan menuju Pilkada Kota Makassar 2018.

Setidaknya, ada dua cara pandang melihat kepentingan-kepentingan tersebut. Cara pandang yang pertama adalah dalam istilah “in order to”. Cara pandang pertama ini memberikan pemahaman, yakni dalam rangka apakah sehingga pihak-pihak tersebut berkepentingan terhadap Pilkada Kota Makassar 2018! Cara pandang kedua adalah apa yang memotivasi (motive to) sehingga pihak- pihak tersebut berkepentingan terhadap Pilkada Kota Makassar 2018.

Cara pandang pertama meletakkan latar belakang menjadi penjelas. Latar belakang itu antara lain dalam rangka agama, politik, bisnis, budaya, atau primordialisme. Cara pandang kedua meletakkan tujuan sebagai penjelas kenapa pihak-pihak itu berekepentingan di Pilkada Makassar 2018. Tujuan itu antara lain misalnya ingin memperbaiki kota makassar, menambang keuntungan bisnis di kota Makassar, atau ingin menjadikan kota Makassar sebagai kota religius, dan sebagainya.

Danny Pomanto atau Ramdhan Pomanto, dalam pengetahuan saya, telah memastikan latar belakang dan motivasinya pada Pilkada Kota Makassar 2018 saat ini. Latar belakang Danny Pomanto sehingga menjadi walikota– saat ini sedang berusaha mencalonkan diri lagi, bukanlah karena latar belakang Bisnis (kerajaan bisnis). Demikian pula, tujuan Danny Pomanto mencalonkan diri lagi, sudah pasti bukan bertujuan untuk menambang keuntungan bisnis di kota Makassar.

Saya lalu bertanya, itukah yang menyebabkan Danny Pomanto penting bagi Kota Makassar? Pertanyaan ini sifatnya lazim, tapi juga perlu jawaban. Bagi saya, saya harap ini tidak bermaksud mengkerdilkan Danny Pomanto, program-program Danny Pomanto sebagai Walikota selama ini dalam beberapa bagian sudah luar biasa. Demikian juga sosoknya sebagai profesional, hanya unggul tipis dari sosok-sosok profesional hebat lainnya.

Namun, saya menemukan paradigma lain terkait dengan kehadiran Danny Pomanto di Pilkada Makassar 2018 ini. Yang paling berharga dan utama dari pencalonan kembali ini adalah aspek PERLAWANAN-nya. Perlawanan inilah yang menyebabkan Danny Pomanto tidak perlu digugat lagi dengan
pertanyaan “Siapakah orang ini?”. Perlawanan seperti ini sangat historis dan selalu menjadi energi besar bagi bangsa.

Zaman dulu, bangsa Indonesia tidak mempersoalkan siapa itu Ir Soekarno, juga tidak bertanya siapa itu Bung Hatta. Kedua orang ini tidak digugat dengan pertanyaan, mereka itu anaknya siapa, dari daerah mana, dari suku apa, pengusaha atau birokrat, dan lain-lain! Lalu mengapa bangsa Indonesia bersatu bersama Soekarno-Hatta bergerak untuk melakukan perlawanan? Itu terjadi lantaran yang dilawan oleh Soekarno-Hatta adalah kolonial.

Bahkan, bangsa Indonesia pun berkepentingan mempahlawankan Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa-Tallo. Kenapa? Satu-satunya jawaban yang paling taktis adalah karena Sultan Hasanuddin gigih melawan bangsa kolonial yang berbaju VOC. Mengapa VOC pada saat itu? VOC hendak mendikte Sultan Hasanuddin agar VOC-lah satu-satunya persekutuan datang yang boleh berdagang dan berbisnis di kerajaan Gowa-Tallo melalui pelabuhan Makassar.

Bangsa kolonial. Titik. Itulah sebabnya warga Kota Makassar berdiri bersama Danny Pomanto melakukan perlawanan di Pilkada Makassar 2018, seperti perlawanan yang dilancarkan Bung Karno, Bung Hatta, dan Sultan Hasanuddin di atas.

Warga Makassar tidak bertanya tentang Danny Pomanto: apa sukunya, dari mana asalnya, apa agamanya, siapa bapaknya, siapa mertuanya, bangsawan atau bukan! Bukan itu semua. Warga Kota Makassar bergabung bersama Danny Pomanto untuk melawan, karena mereka sadar tentang marabahaya yang dihadapi Kota Makassar, jika mereka salah pilih di Pilkada nanti.

Saya Maqbul Halim, warga Kota Makassar. Lazimnya dengan kebanyakan warga Kota Makassar, saya tidak berpikir siapa itu Danny Pomanto. Saya ikut berdiri bersama Danny Pomanto karena sadar, betapa pentingnya perlawanan ini. Betapa pentingnya perlawanan mempertahankan Kota Makassar dari serbuan kerajaan.

Saya memandang, ini bukan tentang nasib dan masa depan Kota Makassar, tetapi tentang marabahaya yang sedang dilawan oleh Danny Pomanto di Pilkada Kota Makassar 2018. Marabahaya tersebut adalah KESERAKAHAN, KETAMAKAN, dan KERAKUSAN, yang pada jaman kolonial Belanda, disingkat dengan akronim VOC.

Saya yakin, Danny Pomanto akan menang dalam perlawanan ini. Itulah sebabnya sehingga saya mengajak orang-orang berdoa agar Danny Pomanto dilindungi oleh Kerajaan Tuhan, satu-satunya kerajaan yang bisa mengalahkan kerajaan bisnis di Kota Makassar tersebut.

Saya ingatkan, bukan suku Banjar, bukan suku Minahasa, bukan suku Jawa, bukan suku Ambon, bukan suku Minang yang melawan Danny Pomanto dan yang akan menguasai Kota Makassar di Pilkada Makassar 2018 ini. Bukan suku-suku itu. Melainkan SUKU CADANG. Suku ini telah mendirikan DEALER di mana-mana, di Jln Urip Sumoharjo, ada juga di Jln Sultan Alaluddin Kota Makassar. Suku inilah yang mengancam menguasai kota Makassar, bukan suku Bugis, bukan Suku Makassar, bukan Suku Dayak.

Terakhir saya ingin sampaikan, Partai yang ramai-ramai siap mencalonkan Danny Pomanto sampai tetes darah penghabisan, kini satu persatu Check- Out, pergi. Saya tahu, mengusung Danny Pomanto itu perlu kerja keras dan keikhlasan (bukan mau uangnya saja tapi tidak mau kerja). Karena itu, kalau partai-partai itu Check-Out, pergi, maka alasannya sudah jelas.

Pak Danny Pomanto, jangan khawatir! Kalau mereka pergi, ada Maqbul Halim, ada MH, yang datang, yang lebih baik dari kawanan keledai-keledai.

Selamat kepada Warga Kota Makassar. Anda hebat, karena mempunyai Walikota Ramdhan Pomanto. (**)

Makassar, 27 Januari 2018


div>