RABU , 12 DESEMBER 2018

Dapil Sulsel 2, Petahana Tercanam

Reporter:

Fahrullah

Editor:

Iskanto

Sabtu , 06 Oktober 2018 11:00
Dapil Sulsel 2, Petahana Tercanam

ilustrasi (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sebanyak 122 Calon Legislatif (Caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) II ditetapkan sebagai Daftar Calon Tetap (DCT) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dari 122 caleg DPR Dapil Sulsel II, tujuh diantaranya merupakan petahana. Mereka itu antara lain Andi Iwan Darmawan Aras dari Partai Gerindra, Samsu Niang dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andi Rio Idris Padjalangi dan Syamsul Bachri masing-masing dari Partai Golkar.

Selain itu ada nama Akbar Faizal dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Andi Akmal Pasluddin dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Andi Mariattang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Nasyid Umar dari Partai Demokrat), dan Andi Yuliani Paris Partai Amanat Nasional (PAN).

Sementara itu mereka akan berebut suara rakyat dengan status sebagai pendatang baru yang juga tidak boleh dianggap remeh. Sebut saja diantaranya adalah mantan Gubernur Sulsel dua periode Syahrul Yasin Limpo dari Partai NasDem, mantan Wakil Bupati Soppeng Supriansa Mannahawu dari Partai Golkar, mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar dari PAN.

Ada juga nama seperti Lutfi Halid yang juga mantan Calon Bupati (Cabup) Soppeng dari Partai Nasdem, Achmad Faisal Andi Sapada yang juga mantan calon Wali Kota Parepare dari Partai Nasdem, Andi Yuslim Patawari dari PPP, mantan Bupati Sinjai dua periode mantan calon Gubernur Sulsel Andi Rudianto Asapa dan dari Partai Gerindra.
Tidak hanya itu, ada juga nama tenar seperti Andi Jamaro Dulung dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Andi Yaqkin M Padjalangi dari PDIP dan mantan calon Wakil Bupati (Wabup) Sinjai Mahyanto Mazda dari PAN.

Terkait hal itu, Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani mengatakan jika adanya sejumlah pedatang baru yang namanya tidak lazim lagi didengar ditengah masyarakat, tidak ada jaminan bagi suara incumbent bisa seperti dulu. Disaat para incumbent mendapatkan dukungan dan suara yang memuaskan.

“Petahanan memang tidak bisa hanya mengandalkan modal suara pada Pileg 2014 lalu karena persepsi pemilih yang selalu dinamis,” kata Iin.

Menurut Iin para incumbent dan pendatang baru harus memiliki strategi dengan melakukan pendekatan kepada pemilih. “Hal terpenting yang harus dilakukan baik oleh petahana maupun penantang baru untuk memperkuat strategi sosialisasi dan mendekatkan diri kepada pemilih,” jelasnya.

Walau penantang adalah orang yang sudah populer tapi mereka juga harus menjaga kampanye negatif yang dilakukan oleh rivalnya. “Meski para penantang tersebut merupakan nama populer. Dan tidak kalah penting adalah menghindari negatif campign, black campign dan hoax untuk menjaga kepercayaan pemilih,” ungkapnya.

Sementara untuk peluangnya, mereka semuanya memiliki peluang yang sama. “Semua calon punya peluang yang sama untuk terpilih dan tidak terpilih, petahanan maupun penantang tidak boleh jumawa dengan modal sosial masing-masing, mereka harus up grade strategi daripada hanya mengandalkan modal tersebut,” pungkasnya. (*)


div>