SELASA , 16 OKTOBER 2018

Dapil Sulsel 3, Dapil Neraka Menuju Senayan

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 28 Juli 2018 13:30
Dapil Sulsel 3, Dapil Neraka Menuju Senayan

ilustrasi caleg

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bagi beberapa Partai Politik (Parpol) peserta pemilu, Dapil Sulsel 3 untuk DPR RI akan menjadi dapil neraka. Sejumlah politisi papan atas akan bertarung di dapil yang meliputi Wajo, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Luwu, Tana Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja Utara dan Kota Palopo.

Ada mantan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang (Gerindra), mantan Bupati Sidrap Rusdi Masse (NasDem), serta beberapa incumbent dan figur besar lainnya yang telah disiapkan oleh parpol.

“Perebutan kursi Dapil 3 Sulsel untuk DPR RI saya perkirakan masih didominasi oleh incumbent. Ada anak mantan Bupati Luwu Timur Andi Fauziah, ada juga Pak Lutfi Mufty, Pak Bahrum Daido, dan Pak Andi Nawir,” kata Arief Wicaksono, pakar politik Universitas Bosowa Makassar, Jumat (27/7) kemarin.

Apalagi, kata Arief, dengan jumlah kursi yang diperebutkan oleh 16 parpol peserta pemilu sudah dipastikan akan berlangsung sengit. Disisi lain, popularitas serta kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing caleg dengan basis suaranya akan menjadi penentu.

“Jika kursi yang tersedia tetap sama yaitu tujuh kursi, maka harus diasumsikan bahwa petahana akan tetap maju, kecuali Markus Nari yang sedang bermasalah hukum dengan KPK, serta yang belum jelas ini istri Rusdi Masse Ketua NasDem Sulsel, Bu Fatma setelah kalah di kompetisi Pilkada Sidrap,” terangnya.

Selain figur politisi lama yang telah malang melintang dalam industri perpolitikan, juga banyak bermunculan pendatang baru yang tidak kalah dalam segi popularitas. Hal ini tentu harus menjadi perhatian khusus bagi para caleg yang sudah kesekian kalinya maju terutama para incumbent.

“Jadi misalnya banyak wajah baru yang muncul, maka perebutan paling awal dan paling mudah kemungkinan besar ada pada wilayah pengaruh kedua tokoh tadi (Pak Markus Nari dan Bu Fatma),” paparnya.

Meskipun begitu, Arief mengakui baik itu politisi papan atas atau figur pendatang akan memiliki peluang yang sama. Tergantung kerja-kerja dari masing-masing caleg.

“Politik sangat cair dan dinamis, semua incumbent wajib berhati-hati dengan wajah baru yang mungkin melakukan kompetisi dengan cara dan pendekatan yang baru,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Koordinator Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Wilayah Indonesia Timur, Riswadi Atto Taroempoe, mengatakan, pertarungan perebutan kursi legislatif bukan persoalan kefiguran atau popularitas semata. Apalagi bagi para incumbent yang bisa saja lengser untuk periode berikutnya ketika tidak mampu mempertahankan perolehan suaranya pada pemilu lalu.

“Iya itu sangat memungkinkan, apalagi kalau petahana yang kembali bertarung tidak bisa merawat konstituen yang memilihnya dulu,” kata Attoe.

Di sisi lain, kehadiran figur pendatang juga tudak bisa dianggap sepele. Karena bisa saja para pendatang ini memiliki kekuasaan atau dukungan dari masyarakat yang sangat kuat.

“Apalagi jika lawan yang dihadapi punya kekuatan dan kekuasaan, maka tentu saja itu menjadi lawan yang tidak bisa dianggap enteng,” imbuhnya. (*)


div>