RABU , 19 DESEMBER 2018

Dear Mantan, Maafkan Aku yang Kekinian

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Sabtu , 30 April 2016 12:34
Dear Mantan, Maafkan Aku yang Kekinian

Haidar Majid

JIKA anda pengguna sosial media yang ‘aktif’, anda pasti telah bertemu dengan kalimat ini: dear mantan, maafkan aku yang dulu. Kalimat yang disertai dua foto, lama dan baru itu, beredar di banyak jejaring sosial dan menjadi viral. Kalimat dan foto ini sontak mengundang banyak tawa dan membuat suasana menjadi cair. Bukan apa-apa, foto dulu atau yang sering kita namai foto “jadul”, biasanya terlihat amat sangat berbeda dengan foto kekinian, seringkali terlihat kekanak-kanakan dan lucu.

Mengupload foto lama, hampir sama dengan membuka album foto dan membuka album foto memiliki kemiripan dengan menggali nostalgia, mengorek-ngorek kenangan dulu dengan segala suka dan dukanya. Tentu kita tidak sedang menghakimi masa lalu karena apapun itu, masa lalu tak bisa ditarik maju. Masa lalu telah menjadi ‘catatan kaki’ dari sejarah perjalanan hidup, tak bisa di rubah, apalagi dihapus atau dihilangkan. Masa lalu hanya bisa dijadikan ‘alat’ bercermin, untuk menakar, komposisi mana yang kurang balance dari langkah-langkah kita.

Setiap foto masa lalu selalu punya cerita sendiri, yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh kita sendiri atau segelintir orang yang kebetulan mengetahui histori atau latar belakang lahirnya foto itu. Apa yang terjadi di rentang jarak lahirnya foto tersebut, kembali menari-nari di pelupuk mata, di ingatan kita, sekaligus menyadarkan kita bahwa suatu ketika, kita pernah berpose seperti itu, yang selama ini mungkin telah alpa di memory kita.

Itulah mungkin yang menjadi salah satu alasan, mengapa ‘mainan dear-dearan’ atau “dear mantan, maafkan aku yang dulu” menjadi viral.¬† Pahit atau getirnya masa lalu ketika foto itu lahir, berbalik menjadi bahan candaan yang bikin suasana menjadi cair dalam konteks kekinian. Kita cenderung bisa mengubur pahit dan getir itu, karena sekali lagi, semua itu masa lalu, hanya kenangan, tak mungkin akan kembali. Jadi untuk apa diratapi. Kira-kira seperti itu alur fikirnya.

“Masa lalu adalah cerminan masa kini”. Logika ini juga tidaklah begitu pas diberlakukan untuk menakar kekinian dalam konteks “dear mantan, maafkan aku yang dulu”. Jika melihat kepesatan perkembangan teknologi, maka kita akan tiba dikesimpulan yang sama, teknologi bisa memanjakan dan teknologi bisa ‘menjadikan kita apa saja’. Kita yang tidak beruntung berparas cantik atau ganteng, tak perlu lagi khawatir tampil di publik dalam bentuk foto. Cukup download aplikasi tetentu, lalu selfie, lalu edit; anda pun akan menjadi ‘manusia baru’, cantik atau ganteng.

Jadilah ‘pepatah’ kekinian, “jangan lihat orangnya, tapi lihat fotonya”. Ya, foto seseorang di era digital tidak lagi bisa menjadi kesimpulan bahwa “inilah aku yang sesungguhnya”. Begitu banyak ‘tameng’ yang¬† tersaji dari sekian aplikasi yang ada di dunia maya. Kita tinggal memilah dan memilih, aplikasi mana saja yang menjadi ‘kebutuhan’ untuk memodifikasi keinginan kita tampil di publik. Tak heran, jika setiap harinya, terasa ada yang kurang jika kita tak menyempatkan diri mengupload foto.

[NEXT-RASUL]

Begitu pula dengan kita yang akibat pertumbuhan tak terkendali, badan jadi gemuk, tak lagi perlu dicemaskan untuk dipertontonkan di muka umum lewat foto. Beberapa aplikasi siap memanjakan, tak perlu menunggu lama dengan mengkonsumsi minuman penurun berat badan atau tak perlu bersusah payah jogging, senam dan sejenisnya. Cukup download aplikasinya, bagian mana yang akan dikecilkan, dan hasilnya, jreng. Langsung langsing, hanya dalam hitungan menit.

Apakah itu semua menjadi semacam bantahan atas diri kita yang harusnya apa adanya? Sangat dilematis untuk menjawabnya. Di satu sisi, tampil natural adalah pilihan paling oke dari sekian banyak pilihan. Tetapi jika pilihan natural tidak membuat kita tampil prima, tentu ada ‘second opinion’. Dan second opinion bisa merekayasa diri kita kelihatan sangat memuaskan di mata publik, bahkan tidak jarang membuat mereka panglin, takjub, bahkan mungkin speechless.

Beralasan jika mereka takjub, apalagi kalau mereka tahu betul tentang kondisi kita atau sangat memahami kita. “Perasaan, orangnya tidak seperti ini”. “Ini asli atau aplikasi?” Diam-diam, kita sebenarnya bisa merasakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu hadir di benak kita. “Jangan-jangan orang tidak percaya dengan wujud saya”, “jangan-jangan orang meragukan keaslian foto saya”. Tapi ‘who care’, yang panting foto saya yang diunggah banyak dapat pujian. Urusan rekayasa atau apa adanya, itu belakangan.

Jika begitu alur logika di frame berfikir kita, ada baiknya kita merubah trend “dear mantan, maafkan aku yang dulu”, menjadi “dear mantan, maafkan aku yang kekinian”. Apa sebab? Karena foto kita yang dulu-dulu, yang belum terjamah olah digital atau ‘oldig’, jauh lebih polos, apa adanya dan mengandung kejujuran. Foto kita yang dulu merekam kejadian tanpa ‘bumbu’. Foto kita yang dulu memuaskan tanpa ‘campur tangan’ kita. Sangat beda dengan yang kekinian. Tapi ah, ini kan soal selera, who care. (*)


div>